Empat Tradisi Kupatan Warnai Syawalan Kudus, Budaya dan Ekonomi Bergerak Bersama

oleh -487 Dilihat
Tradisi syawalan di Kab. Kudus. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Perayaan Syawalan di Kabupaten Kudus tahun ini kembali diramaikan dengan beragam tradisi kupatan yang tersebar di sejumlah wilayah. Empat tradisi utama menjadi pusat perhatian masyarakat, yakni Sewu Kupat di Desa Colo (Kecamatan Dawe), Bulusan di Desa Hadipolo (Kecamatan Jekulo), Gebyar Kupatan di Desa Kesambi (Kecamatan Mejobo), serta Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo (Kecamatan Bae).

Keempat tradisi tersebut tidak hanya menjadi bentuk pelestarian budaya lokal, tetapi juga mampu menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti rangkaian acara Syawalan yang digelar tujuh hari setelah Idulfitri.

Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan bahwa tradisi kupatan merupakan bagian dari identitas masyarakat Kudus yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

“Di Kabupaten Kudus ada beberapa titik tradisi kupatan, seperti di Colo, Hadipolo, Kesambi, hingga Purworejo. Semua ini menunjukkan kekayaan budaya yang kita miliki,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki nilai strategis karena mampu menjadi daya tarik wisata sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.

“Ini bukan hanya budaya, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang mampu meningkatkan ekonomi warga. Dengan banyaknya kegiatan di berbagai wilayah, masyarakat dan wisatawan bisa menikmati Syawalan di Kudus dengan lebih luas,” tambahnya.

Tradisi Sewu Kupat di Desa Colo menjadi salah satu yang paling ramai dikunjungi. Kegiatan ini identik dengan kirab dan gunungan kupat yang melibatkan ribuan warga, serta terhubung dengan wisata religi di kawasan makam Sunan Muria.

Sementara itu, tradisi Bulusan di Desa Hadipolo menawarkan keunikan tersendiri dengan kemunculan bulus (kura-kura) yang dikeramatkan masyarakat setempat. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah dan nilai-nilai leluhur.

Di Desa Kesambi, Gebyar Kupatan dikemas dengan lebih semarak melalui berbagai pertunjukan seni dan keterlibatan masyarakat lintas generasi. Warga bersama-sama menyajikan kupat sebagai simbol rasa syukur dan kebersamaan.

Adapun Syawalan Sendang Jodo di Desa Purworejo menghadirkan nuansa berbeda dengan latar sendang atau mata air yang memiliki nilai historis dan spiritual bagi masyarakat setempat.

Sam’ani juga menyoroti tingginya antusiasme masyarakat dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan tersebut. Ia menyebut keberhasilan pelaksanaan tradisi kupatan tidak lepas dari dukungan berbagai pihak.

“Antusias masyarakat sangat luar biasa. Ini juga berkat dukungan pemerintah daerah, TNI, dan Polri sehingga kegiatan bisa berjalan dengan aman dan lancar,” jelasnya.

Dengan terselenggaranya empat tradisi kupatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Kudus berharap Syawalan tidak hanya menjadi momentum budaya, tetapi juga mampu memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.