Pati, isknews.com (Lintas Pati) – Turunnya target produksi garam di Kabupaten Pati, imbas dari anamoli cuaca yang masih terjadi. Mengakibatkan, lonjakan harga garam hingga enam kali lipat bahkan lebih di pasaran.
Diketahui, harga garam dari petani yang sebelumnya diangka Rp 600 per kilogramnya, saat ini mencapai Rp 3.600 per kilogram.
“Cuaca masih tidak menentu kadang panas kadang hujan, jadi banyak petani yang gagal. Soalnya, air garam yang dikeringkan tidak bisa membentuk kristal dengan baik. Banyak garam yang berwarna hitam dan tidak layak konsumsi,” papar petani garam, Safi’i saat ditemui di lokasi, Kamis (03/08/2017).

Selain anamoli cuaca, lanjut petani asal Desa Kertomulyo, Kecamatan Trangkil, Pati itu, kelangkaan terjadi karena saat ini belum memasuki masa panen garam, yakni pada penghujung bulan Agustus.
“Rata-rata masa panen garam itu pada awal Agustus hingga akhir September. Karena cuaca tidak bisa dipastikan, kemungkinan panen akan terjadi pada akhir Agustus,” jelasnya.
Imbuh Safi’i, hanya sebagian kecil petani yang panen garam saat ini, itu pun jumlah garam yang dihasilkan juga tidak maksimal. Dari tambak ukuran satu hektare, petani hanya mampu meraup panen seperempatnya saja.
“Banyak gagalnya, garam kering yang dihasilkan dari satu hektare tambak, kami hanya memperoleh garam kering seperempatnya. Otomatis yang bisa dipanen hanya segitu. Sementara sisanya menunggu satu hingga dua minggu lagi,” keluhnya. (Wr)










