Gelaran Combat Sport Pertama dan Terbesar di Kudus, KWT X Shaduk Jotosh Satukan Petarung Berbagai Kelas

oleh -729 Dilihat
Press Confrence jelang digelarnya agenda combat sport Kudus Wani Tanding X Shaduk Jotosh di GOR Bung Karno Kudus (Foto: YM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Dunia olahraga tarung di Kabupaten Kudus akan memasuki babak baru melalui penyelenggaraan Kudus Wani Tanding (KWT) X Shaduk Jotosh. Event yang digelar di GOR Kudus pada Sabtu (25/7/2026) itu menghadirkan 140 petarung dalam 70 partai, menjadikannya sebagai ajang combat sport terbesar yang pernah digelar di Kota Kretek.

Co-promotor KWT X Shaduk Jotosh, Barix Ilma Wafa, yang mendampingi Promotor Blegoh Alun Sedayu, mengatakan penyelenggaraan event ini menjadi langkah awal membangun wadah resmi bagi para atlet dan pecinta olahraga combat sport di Kabupaten Kudus.

Kudus Wani Tanding ini baru kami bentuk sekitar dua bulan lalu. Untuk event perdana, kami berkolaborasi dengan Shaduk Jotosh agar penyelenggaraannya berjalan lancar dan menjadi awal yang baik bagi perkembangan combat sport di Kudus,” kata Barix Ilma Wafa.

Menurutnya, kehadiran KWT tidak hanya bertujuan menghadirkan tontonan olahraga, tetapi juga membuka ruang pembinaan bagi atlet-atlet muda agar memiliki jalur prestasi yang jelas.

Kami tidak hanya mempertandingkan kickboxing dan boxing, tetapi juga menghadirkan kelas influencer agar olahraga combat sport semakin dikenal dan diminati masyarakat,” ujarnya.

Barix menjelaskan, pihaknya ingin membangun regenerasi atlet sekaligus mengarahkan minat generasi muda ke kegiatan yang positif melalui olahraga tarung.

Pada event perdana ini, panitia mempertandingkan empat kategori utama, yakni Influencer Class, Amatir Profesional (Ampro)/Atlet, Pemula Umum Class, serta Kickboxing. Di kelas influencer juga diperebutkan Sabuk Shaduk Jotosh, Sabuk KWT, dan partai non-sabuk.

Barix memastikan seluruh peserta yang bertanding telah memenuhi ketentuan usia dan melalui proses latihan yang cukup sebelum diperbolehkan naik ring.

Peserta yang kami pertandingkan minimal berusia 17 tahun sesuai aturan. Kami tidak memperbolehkan peserta di bawah umur. Selain itu, atlet juga tidak bisa langsung bertanding. Mereka harus menjalani latihan sekitar enam sampai tujuh bulan agar benar-benar siap secara teknik, fisik, dan mental,” tegas Barix Ilma Wafa.

Semua pertandingan ditentukan berdasarkan kelas berat badan sehingga setiap petarung memperoleh lawan yang seimbang. Harapan kami, KWT bisa menjadi agenda tahunan yang melahirkan atlet-atlet boxing dan kickboxing berprestasi serta mengharumkan nama Kabupaten Kudus,” pungkas Barix Ilma Wafa.

Salah satu peserta yang akan bertanding esok adalah atlet KBI Kudus, Safi Anto (19), mengaku mengenal olahraga kickboxing sejak sekitar satu tahun lalu. Sebelum menekuni olahraga tarung, ia aktif berlatih kalistenik atau bodyweight training.

Kesempatan bergabung dengan KBI Kudus menjadi titik awal dirinya serius menekuni kickboxing hingga dipercaya mengikuti berbagai kejuaraan.

Awalnya saya dari Evolution, kemudian direkrut KBI Kudus dan mengikuti seleksi Pra Porprov. Alhamdulillah lolos dan bisa terus berkembang sampai sekarang,” kata Safi.

Mahasiswa asal Desa Kaliwungu Kudus, itu mengaku ketertarikannya terhadap kickboxing berawal dari keinginan mencari tantangan baru dalam berolahraga. Menurutnya, latihan bela diri memberikan sensasi berbeda dibandingkan olahraga yang sebelumnya ia tekuni.

Dulu saya hanya ingin berolahraga seperti biasa. Karena merasa ingin mencari tantangan baru, akhirnya saya tertarik menekuni kickboxing,” ujarnya.

Safi mengatakan proses belajar teknik dasar kickboxing memang membutuhkan keseriusan, namun bukan sesuatu yang sulit selama memiliki kemauan untuk terus berlatih.

Menurut saya tidak ada yang terlalu sulit. Semua tergantung kemauan masing-masing. Kalau mau berusaha dan disiplin berlatih, pasti bisa berkembang,” tuturnya.

Selama berlatih, Safi merasakan banyak perubahan positif, baik dari sisi fisik maupun mental. Selain tubuh menjadi lebih sehat dan atletis, ia juga memperoleh banyak teman dari berbagai daerah melalui dunia olahraga.

Manfaatnya banyak. Badan jadi lebih sehat, lebih atletis, dan saya juga mendapat banyak teman baru. Suasana latihan juga menyenangkan karena kami saling mendukung,” katanya.

Sebelum tampil di KWT X Shaduk Jotosh, Safi telah memiliki pengalaman bertanding di sejumlah kejuaraan, di antaranya Semarang Fight Night dan Pra Porprov. Dari dua ajang tersebut, ia berhasil meraih Juara I Semarang Fight Night dan Juara III Pra Porprov, yang menjadi motivasi untuk kembali menorehkan prestasi pada ajang di Kudus. (YM/YM)