Hari Anak Nasional 2025: LPBI NU Kudus Dorong Sekolah Tanggap Bencana Bagi Hak Dasar Anak

oleh -176 Dilihat
Foto: Generated By AI

Kudus, isknews.com – Di tengah meningkatnya ancaman bencana alam akibat krisis iklim, Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBI NU) Kabupaten Kudus menjadikan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2025 sebagai pengingat pentingnya menjamin hak perlindungan anak di lingkungan pendidikan.

Melalui penguatan program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), LPBI NU Kudus mendorong agar kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi wacana, melainkan sistem yang terintegrasi di sekolah-sekolah.

“Anak-anak memiliki hak untuk merasa aman saat belajar. Sekolah harus menjadi tempat yang tidak hanya mendidik, tetapi juga melindungi,” kata M. Sukron, Ketua LPBI NU Kudus, saat memperingati HAN 2025, Selasa (23/7/2025).

Ia menekankan bahwa program SPAB merupakan bagian dari hak dasar anak dalam menghadapi era ketidakpastian iklim dan potensi bencana yang semakin kompleks.

Memperingati HAN yang tahun ini mengusung tema nasional “Anak Hebat, Indonesia Kuat Menuju Indonesia Emas 2045”, LPBI NU Kudus menyampaikan bahwa perlindungan anak dari risiko bencana adalah investasi jangka panjang dalam membentuk generasi tangguh dan sadar lingkungan.

Sebagai langkah nyata, LPBI NU Kudus telah menggelar Training of Trainer (ToT) Program SPAB pada 10–11 Juli 2025 lalu di SMK Assa’idiyyah 2 Kudus.

Kegiatan ini melibatkan perwakilan Banom NU, relawan kebencanaan, dan tenaga pendidik untuk memperkuat kapasitas lembaga pendidikan dalam membangun sistem tanggap bencana yang menyeluruh.

“Program ini tidak cukup hanya dipahami. Sekolah harus menerapkannya secara menyeluruh, mulai dari kurikulum, struktur kelembagaan, hingga partisipasi aktif siswa,” ujar Sukron.

Ia juga menegaskan bahwa SPAB bukan proyek jangka pendek, tetapi bagian dari strategi pendidikan nasional yang seharusnya didukung oleh pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan.

Melalui SPAB, LPBI NU Kudus secara konsisten melakukan edukasi mitigasi bencana kepada siswa lewat pendekatan usia yang menyenangkan, seperti permainan interaktif, latihan evakuasi, dan simulasi tanggap darurat.

Program ini juga menanamkan nilai-nilai keberanian, kepedulian sosial, dan ketangguhan mental pada anak.

“Dengan semangat Keluarga Tangguh, Anak Tangkas!, kami ingin membentuk karakter anak-anak agar mereka tidak hanya tahu bagaimana menyelamatkan diri, tapi juga mampu memimpin, membantu, dan peduli terhadap sesama di situasi darurat,” tambah Sukron.

Dalam konteks jangka panjang, LPBI NU Kudus percaya bahwa SPAB adalah bagian dari langkah strategis menuju cita-cita Indonesia Emas 2045. Perlindungan anak bukan sekadar kewajiban moral, tetapi juga bagian dari agenda nasional membangun ketahanan sosial sejak usia dini.

Melalui peringatan Hari Anak Nasional ini, LPBI NU Kudus mengajak Dinas Pendidikan, BPBD, dan lembaga pendidikan di seluruh Kabupaten Kudus untuk bersama-sama menjadikan SPAB sebagai standar minimum di setiap sekolah.

“Anak-anak berhak atas perlindungan, dan kita semua berkewajiban menjaminnya, bukan hanya hari ini, tapi untuk masa depan mereka,” pungkas Sukron. (YM/YM)