HARI KEBANGKITAN PUISI-ku!

oleh
Tiyo Ardianto ( Kiri ) bersama Penyair kondang kawakan Sutardji Calzoum Bachri ( Foto : Istimewa )

KUDUS,ISKNEWS.COM – Sore itu langit terang, udara tenang, tiada air tergenang di jalanan. Bersama bekal-bekal akal, harapan, dan hati lapang aku melenggang ke hotel berbintang-entah hanya bayang, Griptha namanya.

Terbelalak aku ditampar muka. Aku melihat dua Penyair kondang kawakan turun dari mobil dan berdiri di depanku : Sutardji Calzoum Bachri dan Kh. D. Zawawi Imron, kukenal. Degup debar di dada, tak menduga cahaya menyambut mesra. Aku bilang, ini keberuntungan yang tak terbilang!


Dari kurang lebih 1000 puisi dari 757 Penyair Indonesia hanya 145 puisi dari 100 Penyair yang lolos kurasi. Puisi-puisi ini tentu menyambut tema besar yang diusung panitia yaitu “Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusiaan” (Foto : Istimewa )

Jauhlah runtut, bahwa keberadaanku di sini bukan main hokinya! PPN engkau tahu, membuka pintunya lebar-lebar. Dari kurang lebih 1000 puisi dari 757 Penyair Indonesia hanya 145 puisi dari 100 Penyair yang lolos kurasi. Puisi-puisi ini tentu menyambut tema besar yang diusung panitia yaitu “Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusiaan”

PPN engkau tahu, Pertemuan Penyair Nusantara; adalah ajang silaturahim para Penyair se-Nusantara. Pada PPN XI Kudus 2019 ini, akan hadir 100 penyair dari Indonesia dan 4 Penyair Kehormatannya; 3 Penyair Brunei Darussalam, 12 Penyair Malaysia, 7 Penyair Singapura, dan 5 Penyair Thailand.

“Tak kau sangka kah bahwa kau satu di antaranya!”

PPN XI ini diadakan di Kudus pada tanggal 28-30 Juni 2019 dengan beragam kegiatan; mulai dari bercengkerama mesra, Pembukaan, Launching Buku Antologi PPN, Seminar Sastra Internasional, Bedah Buku, Workshop Baca Puisi, Panggung Penyair Asia Tenggara, dan Ziarah Budaya.

/1/

28 Juni 2019
Pukul : 19.00

Gedung Majesty nampak jauh mengaumkan aumnya. Saya bersama Kang Dimas dari kejauhan datang memenuhi panggilan. Sebelum pembukaan dirayakan, hendaklah semua kenyang. Maka tak heran, kami datang dan makanan berlompatan. Kalau benar ingatanku, makanan pertama malam itu ialah Sate Kerbau dan Soto Kerbau!

Setelah makan, saya masuk ke gedung majesty, dengan mata yang meraba wajah-wajah Puitik! Ah, saya hampir tak bisa berkata-kata. Di tengah-antara puisi-puisi yang menyala-hidup sebagai manusia.

Lihat, penyair itu!
Pak Thomas Budi Santosa, Pak Sutardji Calzoum Bachri, Kh. D. Zawawi Imron, Pak Sosiawan Leak, Pak Mukti Sutarman Espe, Pak Jumari HS, Pak Jimat Kalimasada, Bu Widya P Ningrum, dan banyak lain hebbattnya!

Malam itu, Bupati Kudus Bp. Tamzil hadir dan memberi sambutan. Berbagai elemen komunitas; tokoh-tokoh sastra, seni dan budaya Kudus juga hadir. Acara pembukaan ini tentu akan meriah dan megah.

Terlebih juga dimeriahkan dengan grup musik puisi kontemporer, Sang Swara (Kudus) yang menyuguhkan Musikalidasi Puisi yang epik.

Tibalah saatnya, Buku Antologi PPN berjudul “Sesapa Mesra Selinting Cinta” diluncurkan, melesat jauh ke bayang jiwa, gelombang cahaya, dan ia akan meneror manusia tanpa Persaudaraan dan Kemanusiaan, percayalah!

/2/

29 Juni 2019
Pukul : 08.00

Aku senang tema itu, “Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusiaan” tapi bagaimanakah puisi bisa menjadi demikian?

TRENDING :  Inilah Filosofi dari Tradisi Nyandung Patok

Ada ragam paparan dan perspektif yang diberikan. Dari Maman S Mahayana, Tirto Suwondo, Djamal Tukimin, Zefri Arif, dan M. Saleeh Rahamad. Semua ilmu dari narasumber itu diolak-alikkan oleh moderator Sihar Ramses Simatupang.

Bagiku, ini yang paling menarik. Aku dengar, kritikus sastra kondang Maman S Mahayana dalam ceramahnya berkata bahwa ‘Sumpah Pemuda’ adalah Puisi. Dan sangat tepat sebagai teladan dalam “Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusiaan”.

Kita tahu bagaimana spirit Sumpah Pemuda sehingga bisa urun pengaruh dalam persatuan Indonesia masa itu.

Melihat pola bahasa dan tatanan kalimatnya, Sumpah Pemuda sangat Puitik!

Judul “Sumpah Pemuda” saja bukan asal njedulnya. Kata ‘Sumpah’ dipakai, menurut Muhammad Yamin karena mempunyai akar sejarah. Ada persoalan sejarah yang melatarbelakanginya.

Dalam sejarah kerajaan Nusantara, ada dua kerajaan yang menyatakan sumpah persatuan. Kerajaan Sriwijaya dengan Sumpah Sriwijaya dan Kerajaan Majapahit dengan Sumpah Palapa-janji Maha Patih Gajahmada.

Lalu,

“Kami Putra dan Putri Indonesia” -kalimat ini saja sudah mengandung metafora yang mendalam. Mengapa ‘diksi’ yang dipakai adalah ‘Putra-Putri’ bukan ‘Pemuda-Pemudi’ -padahal jelas dalam judulnya berkata bahwa ini ialah ‘Sumpah Pemuda’

Kurang lebih, Maman S Mahayana berpendapat bahwa ‘Putra dan Putri’ ialah diksi yang mendorong eksisnya kata ‘Ibu Pertiwi’, bukankah demikian hal yang puitik?

Ah, Sumpah Pemuda!

/3/

Dalam seminar itu, Kawan-kawanku. Berceceran ilmu, tumpah ruah, bah. Seperti hujan musim kering, aku terbasahkan.

Kawan-kawanku, posisi dudukku saat itu sangatlah strategis. Aku duduk persis di depan dua Penyair kondang, Pak Sutardji Calzoum Bachri dan Kh. D. Zawawi Imron.

Aku mendengarkan ceramah dengan seksama, sambil sesekali melirik dua penyair itu. Sontak mataku terfokus pada Pak Tardji. Pak Tardji yang menunduk alun, tidak tidur atau mendengkur, ia mungkin terjaga.

Saat itu, Pak Tardji berbicara dengan seorang entah. Seorang itu mengajak Pak Tardji sejenak keluar ruang -membebaskan diri dari seminar. Betapa terkejutnya saya. Dengan rendah hati Pak Tardji berkata “Saya mau mendengarkan ini”

Dari bibirnya ada cahaya, puah! Aku tak duga.

(Dia yang doa dan mantra mantap menyala dan dia yang diam-diam dengar seksama dengan dalam doa dia derap deru ombak suara dengar diam-diamnya, Dor!)

/4/

-sepertinyaadababyanghilang beberapamembayang, saat Prof. Suminto A Sayuti membedahbbukusesapamesraselintingcinta?

29 Juni 2019
Pukul : 19.00

Malam itu, menara berpendar. Orang-orang berkerumun menggelar harapan. Ada yang berharap bertemu idolanya; Para santri yang ingin bertemu Gus Mus misalnya.

Aku duduk dan mendudukki yang layak diduduki hihi, kursi. Aku lihat dan melihat yang layak dilihat haha, penonton nun kerumun banyaknya.

Itulah, Panggung, Kawan! Tempat para Penyair Asia Tenggara menggelar Puisinya. Aku menyaksikannya!

Engkau harus tahu, yang paling menyenangkan adalah karena ia dibuka dengan sholawat. Barangkali karena itulah, acara itu berkah. Betapa dalam dan khusyuknya para pecinta Rosul melantunkan cinta.

TRENDING :  Unik, Polisi di Jepara Sampaikan Pantauan Lalin Berbahasa Jawa

Ada banyak Penyair yang tampil malam itu, dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, tentu. Mereka berderap membawa puisi menjelma puisi menjadi puisi itu sendiri dan, men-jadi-lah!

Aku menyaksikan puisi dengan pola, tata bahasa, latar belakang budaya yang sungguh beragam. Dibawakan dengan penuh gairah, lembut, menyayat, dan banyak ragam gayanya.

Menara Kudus malam itu, ditadarusi Puisi.

Setelah Kh. D Zawawi Imron membawa puisi “Ibu” penonton haru. Ia berucap, “Kudus, jejakku kutinggal di sini, tapi senyummu kubawa pergi.” Sontak penonton senyum dan bertepuk tangan.

(Seperti para remaja yang mendengar puisi cinta.)

Pak Sutardji membawa puisi sederhana berjudul “Menulis”, lalu tertanam di benakku sebilah kalimat dari puisi itu, “Yang tak mengenal bangsanya, takkan bakal menulis makna”

-ngiangterngiangterangsanggrang!

Teduhlah lalu, seorang yang ditunggu tiba. Ia hampir tak datang, sebenarnya. Tapi bukankah itu yang meledakkan makna?

Kh. Ahmad Mustofa Bisri, seorang kiai karismatik yang juga Penyair. Tentu anda tahu, Gus Mus panggilan akrabnya.

Ia tiba dan dengan beberapa lama saja, gilirannya menjelma puisi, di panggung itu kawan, dan di panggung-panggung kehidupan yang lampau.

“Jika tadi Pak Kh. D. Zawawi Imron dibatasi waktunya, tadi kata panitia saya tidak dibatasi, alhamdulillah karena saya malam ini membawa 18 (delapan belas) puisi”

Pengantar, celoteh ringan itu langsung membuat penonton tertawa haru, entah hanya-ku.

Gus Mus membaca 3 Puisi, berjudul “Mulut”, “Hanin” dan “Tadarus” selain membaca puisi, melalui panggung itu Gus Mus memberi usulan agar diadakan Festival Menara Kudus.

Tentu, usulan ini disambut baik warga Kudus dan pihak terkait.

Menuju puisi “Tadarus” Gus Mus berucap “Kita ini sedang ditunggu Sunan Kudus, maka saya harus baca puisi ini”

Gus Mus kemudian turun dengan tenang, dan penonton tergenang dalam tenangnya. Teduh, damai tiba, surga!

/5/

30 Juni 2019
Pukul : 08.00

Tibalah saat aku bergegas, membereskan barang yang berserak di kamar hotel lantai 2 itu. Kring, waktunya pulang penutupan.

Sebelum penutupan, seluruh peserta akan diajak untuk ziarah budaya. Mengunjungi tempat-tempat budaya yang ada di Kudus. Mulai dari Menara Kudus, Museum Jenang Mubarok, dan Museum Kretek Kudus.

Di Menara Kudus, peserta dipersilahkan untuk naik ke puncak menara. Aku lihat wajah-wajah grogi lantaran ini tempat sakral, dan aku lihat wajah damai karena kedamaian yang ada di dalamnya.

Di puncak itu, kami bisa melihat suasana di komplek menara. Pedagang oleh-oleh khas Kudus, para peziarah, penjual parfum, dan toko-toko yang tertata.

Waktu telah jatuh tempo, meski panitia sudah berencana untuk berziarah ke makam, kami harus segera balik ke elf dan bergegas menuju Museum Jenang Mubarok.

TRENDING :  Meriah! KKMI Mejobo Sambut HSN Dengan Kirab dan Wisata Religi

Walau sudah terbilang sering aku ke tempat ini, kali ini aku merasakan hal yang berbeda. Selain karena banyak inovasi yang diadakan di sini.

Inovasi yang ada tersebut antara lain, ada kaligrafi yang terpajang rapi, spot foto berbaju adat kudus yang kekinian, ruang di mana ada puisi tentang Gusjigang.

Kuingat ada puisi dari Gus Mus, Cak Nun, Lukman Hakim Syaifuddin, Sosiawan Leak, Habib Anis Sholeh Ba’asyin, Jumari HS, Mukti Sutarman Espe, dan Pemilik Mubarok.

Ada sesi di mana Para penyair Nusantara membaca puisi yang dipajang itu, di antaranya ada Kunni Masrohanti (Riau) Kh. D Zawawi Imron, Sutardji Calzoum Bachri, dan Thomas Budi Santoso.

Selain itu juga ada ruang Nitisemito, tokoh kretek legendaris Kudus. Meski belum jadi sepenuhnya, ruang Nitisemito ini tetap menggairahkan.

Baiklah, mari lekas balik. Menuju Museum Kretek kita. Di sana penutupan digaungkan. Jangan sedih, risau, atau susah; ini bukan isyarat atau tanda bahwa puisi selesai, ini tanda bahwa puisi perlu sunyi!

Pak Mukti Sutarman Espe, sebagai ketua panita mengucapkan maaf dan terimakasih sebagai sambutan. Dilanjutkan parade pembacaan puisi dan penutupan.

Para penyair bersalaman, pulang.

/6/

Akhir kata, saya sungguh (uh) terlibat dalam Pertemuan Penyair Nusantara ini. Betapa saya belum apa-apa tapi Tuhan mengizinkan saya cebur ke Pertemuan Penyair Nusantara XI Kudus 2019.

Menjadi peserta termuda adalah gairah tersendiri karena beberapa kali ada yang mengira bahwa saya bukan peserta.

28-30 Juni 2019, hari yang sederhana saya jadikan semesta ilmu dan Hari Kebangkitan Puisi.

Terimakasih!

/7/

Saya akan menutup catatan ringan ini dengan puisi yang meloloskan diri dari kurasi.

MOGA

Selamat datang, Puisi
Restoran ini mewah
sedia kata-kata berdarah
dari petani, buruh, dan penjarah

Mereka yang pura-pura resah
dengan ulah kawanannya
mudah singgah
membaca kata-kata bernanah
Sarapan harapan
sebelum kerja dengan mulut berbusa

Hal-hal memukau
seperti adab, daulat, dan selamat
tersaji dengan bualan yang menggetarkan

Pelayan kami semua telanjang
pernik busananya kami susun di atas meja
supaya nampak menggoda dan bahagia
Kursi di sini tak berkaki,
mereka kadang iseng dan tak mau diduduki

Puisi menganga
malu Ia merasa rendah
hendak pulang, sesal

Kukira ini rumah makan sederhana
yang hanya menyediakan kesunyian.

Tak perlu khawatir, Puisi
kami pasti menghidangkannya
Dapur kami terbangun atas orang-orang terbuang
terlantar
asing
miskin
dekil
kucil
dan kecil
tak ada keraguan untuk mencicip.

Ini rasa yang entah dari mana,
tumbuh subur di tanah gembur!

Tiyo Ardianto
2018-2019

*
Kudus, 5 Juli 2019
Salam,
Tiyo Ardianto

KOMENTAR SEDULUR ISK :