Kudus, isknews.com – Upaya menghidupkan kembali warisan leluhur dilakukan warga Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, dengan cara yang istimewa. Melalui Kirab Tujuh Gunungan, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi sakral yang telah diwariskan secara turun-temurun, tetapi juga menyinergikannya dengan pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya lokal.

Kirab ini digelar pada 10 Sura dalam penanggalan Jawa—waktu yang dianggap sakral—dan menjadi momentum kembalinya prosesi adat yang sempat vakum beberapa tahun. Tradisi ini merupakan bentuk penghormatan masyarakat terhadap tujuh gunung yang mengelilingi Rahtawu, yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para leluhur.
Tujuh gunung tersebut meliputi Gunung Iring-Iring, Gunung Pasar, Gunung Ringgit, Gunung Kelir, Puncak Songolikur, Gunung Tunggangan, dan Gunung Natasangin, ditambah satu gunung keramat, Gunung Abiasoi. Setiap gunung direpresentasikan dalam bentuk gunungan hasil bumi yang diarak dari titik-titik berbeda menuju pusat desa.
Direktur BUMDes Utama Karya Rahtawu, Abdul Khalim, menyatakan bahwa kirab ini bukan sekadar atraksi budaya, melainkan ungkapan syukur dan penghormatan kepada kekuatan spiritual yang diyakini menjaga harmoni alam sekitar.
“Ini adalah wujud rasa terima kasih atas rezeki dari alam dan perlindungan para leluhur. Sekaligus, kami ingin tradisi ini menjadi daya tarik wisata yang tetap menghormati nilai-nilai spiritual,” ujarnya.
Kirab Tujuh Gunungan pertama kali digelar secara besar pada 2016 dengan tajuk Gunungan Sabto Argo, namun sempat terhenti karena berbagai kendala. Tahun ini, tradisi itu kembali digelar dan dikolaborasikan dengan peresmian kawasan wisata baru, Rahtawu Highland. Tujuannya tak lain untuk memperkenalkan budaya Rahtawu kepada khalayak yang lebih luas.
Penjabat Kepala Desa Rahtawu, Sukono, menyambut positif kolaborasi budaya dan wisata ini. Ia menilai kirab menjadi simbol dari keberkahan dan kemakmuran yang bersumber dari ketaatan terhadap nilai-nilai tradisi.
“Selain bernilai spiritual, ini juga bentuk kecintaan terhadap hasil pertanian lokal. Kami berharap tradisi ini menjadi kekuatan desa, baik dari sisi budaya maupun ekonomi,” ujarnya.
Dalam kirab tersebut, warga juga melakukan “sowan” atau ziarah ke beberapa lokasi pertapaan seperti Eyang Sakri dan Eyang Abiasoi. Nama-nama leluhur seperti Eyang Pandudiwonoto, Eyang Modo, Eyang Semar, dan Eyang Yabiringseloko selalu disebut dalam doa, sebagai bentuk permohonan restu sebelum memulai kirab.
Kirab Tujuh Gunungan menjadi bukti bahwa budaya dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dengan pengembangan wisata yang berakar pada kearifan lokal. Desa Rahtawu tak hanya menjaga jejak masa lalu, tetapi juga menapaki masa depan dengan tetap berpijak pada nilai-nilai luhur warisan leluhur. (AS/YM)








