HUT ke-9 Museum Jenang Kudus, Pengunjung Diajak Wisata Industri hingga Edukasi Sejarah

oleh -789 Dilihat
Peserta program “Ruang Ingatan: Riwayat Rasa Jejak Jenang Kudus” berfoto bersama usai mengikuti wisata industri di Museum Jenang Kudus, Minggu (24/5/2026). Kegiatan dalam rangka HUT ke-9 Museum Jenang tersebut mengajak pengunjung mengenal proses pembuatan jenang sekaligus menelusuri sejarah dan budaya Kudus. (Foto: ist)

Kudus, isknews.com – Museum Jenang Kudus memperingati hari ulang tahun ke-9 dengan menggelar program “Ruang Ingatan” bertema Riwayat Rasa: Jejak Jenang Kudus pada Minggu (24/5/2026). Dalam kegiatan tersebut, pengunjung diajak mengikuti wisata industri sekaligus mengenal sejarah dan budaya Kudus melalui perjalanan panjang jenang sebagai identitas masyarakat lokal.

Kegiatan yang diinisiasi komunitas Cerita Kudus Tuwa itu menghadirkan pengalaman edukatif mulai dari melihat proses pembuatan jenang, menyusuri sejarah di Museum Jenang, hingga mengikuti diskusi budaya tentang perjalanan jenang Kudus dari masa ke masa.

Marketing Manager Jenang Mubarok, Muhammad Kirom, mengatakan program Ruang Ingatan rutin digelar setiap bulan dengan tema yang disesuaikan momentum tertentu. Menurutnya, kegiatan itu menjadi ruang bagi generasi muda untuk memperdalam sejarah dan budaya Kudus.

“Ruang Ingatan ini sangat baik untuk mewadahi antusiasme generasi muda dalam memperdalam dan mengeksplor sejarah serta budaya yang ada di Kudus,” ujarnya saat diwawancarai, Minggu (24/5/2026).

Ia menjelaskan, tema tentang jejak jenang Kudus dipilih bertepatan dengan ulang tahun Museum Jenang yang berdiri sejak 24 Mei 2017.

“Momentum bulan Mei ini sekaligus memperingati ulang tahun Museum Jenang yang ke-9. Karena itu kami mengangkat tema tentang riwayat rasa dan jejak jenang Kudus,” katanya.

Melalui kegiatan tersebut, pihaknya ingin menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap jenang Kudus sebagai makanan tradisional sekaligus warisan budaya yang kini dikenal hingga tingkat nasional.

“Dari industri rumahan di Kaliputu sampai sekarang dikenal luas, itu perjalanan panjang. Harapannya generasi muda semakin bangga terhadap jenang Kudus sebagai warisan budaya lokal,” jelasnya.

Kirom menambahkan, Museum Jenang terus dikembangkan sebagai ruang edukasi budaya dengan menghadirkan berbagai spot dan ruang baru agar pengunjung dapat mengenal sejarah Kudus secara lebih utuh.

“Kalau di Taman Mini orang bisa melihat Indonesia dalam satu frame, kami ingin pengunjung melihat Kudus secara utuh di sini. Banyak landmark dan cerita Kudus yang coba kami hadirkan di Museum Jenang,” ungkapnya.

Ia juga menyebut pengakuan jenang Kudus sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2022 menjadi motivasi untuk terus memperkenalkan jenang kepada masyarakat luas.

Sementara itu, Koordinator Cerita Kudus Tuwa, Yusak Maulana, mengatakan jenang tidak hanya menjadi makanan khas, tetapi juga bagian dari ingatan kolektif masyarakat Kudus.

“Jenang tidak sekadar hadir sebagai makanan, melainkan menjelma menjadi ingatan kolektif tentang kerja, ketahanan, dan identitas sebuah kota yang terus bergerak,” ujarnya.

Menurut Yusak, kegiatan Riwayat Rasa: Jejak Jenang Kudus dirancang sebagai perjalanan budaya untuk memahami jenang dari sisi sejarah, pengalaman inderawi, hingga memori sosial masyarakat.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diajak melihat langsung proses produksi jenang, mengenal sejarah perkembangan jenang Kudus, hingga memahami kaitan jenang dengan kehidupan masyarakat Kaliputu yang sejak lama dikenal sebagai sentra industri jenang rumahan.

“Jenang bukan hanya soal rasa manis, tetapi tentang kerja keluarga, tradisi, dan ingatan yang diwariskan lintas generasi,” pungkasnya. (AS/YM)