Kudus, isknews.com – MDMC atau Muhammadiyah Disaster Management Center merupakan lembaga otonom di Muhammadiyah yang bertugas untuk mengkoordinasikan mobilisasi sumberdaya dalam Tanggap Darurat Bencana, Mitigasi dan Kesiapsiagaan Bencana dan Rehabilitasi Pasca Bencana.
MDMC Jawa Tengah sejak kemarin selam tiga hari menggelar pelatihan fasilitator pengkajian kebutuhan pasca bencana (Jitupasna) bagi anggota MDMC yang berada di wilayah eks karesdenan Pati dan Semarang. Kegiatan tentang materi Jitupasna mendesak untuk di laksanakan bagi para relawan MDMC mengingat intensitas bencana secara nasional mulai tinggi, Pelatihan dilaksanakan dari tanggal 3 hingga 5 maret 2017, di Kampus Stikes Muhammadiyah Kudus, hal ini seperti disampaikan oleh juru bicara Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kudus, Nuron Wahid Khairil Ismail, melalui siaran persnya yang dikirim ke media ini, Sabtu (4/4/17).
“Materi tidak hanya teori yang dilakukan secara indoor, tapi para peserta juga mereka akan dibawa ke lokasi atau wilayah-wilayah yang memiliki potensi tinggi alami musibah bencana alam, pengkajian kebutuhan ini menggunakan metode DaLA (demage and losses assessment) dan HRNA (human recovery needs assessment). Kedua metode tersebut yang kemudian menjadi dasar untuk penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. ” ujar Nuron.
“Jitupasna merupakan bagian penting dari tahapan penanggulangan bencana terutama pada fase status siaga darurat ke pemulihan. Setelah kejadian bencana maka dilakukan upaya untuk menghitung kerusakan dan kerugian. Juga dilakukan penghitungan terhadap gangguan akses dan fungsi serta meningkatnya risiko yang terjadi.” tambahnya.
Menurut Ketua MDMC Jawa Tengah, Naibul Umam, “Pelatihan ini sangat penting dan strategis seiring dengan meningkatnya intensitas bencana yang terjadi di Jawa Tengah. Kami perlu mengantisipasi dengan cepat kebutuhan untuk pengkajian pasca bencana. Setelah pelatihan ini kami bentuk tim jitupasna untuk menjawab kebutuhan bantuan pasca bencana,” imbu Umam.
Nur Ipin, Kasi Rehab dan Rekon BPDB Kudus, yang diundang sebagai salah seorang pemateri pada pelatihan kemarin menyampaikan, “Kegiatan seperti ini baru pertama kali saya dengar, karena biasa yang dilatih adalah cara penanggulangan bencana. MDMC Muhammadiyah sudah memikirkan menanggulangan setelah bencana. Pelatihan ini bisa ditularkan ke teman-teman SAR.” Ungkapnya.
Sementara Yocki Asmoro, Kabid Rehabilitasi dan Rekonstruksi MDMC Jateng, dalam paparannya mengemukakan, “Pelatihan Jitupasna ini merupakan pelatihan kedua. Pelatihan yang pertama kami adakan di Tegal bulan lalu. Melalui pelatihan ini kami berharap relawan Muhammadiyah tidak sekedar berkutat pada urusan tanggap darurat pada saat kejadian bencana semata tetapi juga harus memperhatikan upaya penanganan pasca bencana, Sebagaimana diketahui kejadian bencana di Jawa Tengah akhir-akhir ini mengalami peningkatan. Dari catatan yang diperoleh BPBD Jawa Tengah per 31 Januari 2017, tercatat 304 kejadian bencana yang didominasi kejadian tanah longsor, banjir, angin dan kebakaran.” imbuhnya. (YM)






