Kudus, isknews.com – Jembatan 1 Kesambi mengalami kerusakan serius setelah tanah penahan di sisi utara jembatan longsor pada Rabu (hari ini).
Peristiwa itu membuat struktur jembatan mengalami keretakan dan ambles sedalam sekitar satu meter. Pemerintah Desa Kesambi langsung menutup total akses menuju jembatan guna menghindari risiko kecelakaan.
Kepala Desa Kesambi, Mokhamad Masri, menjelaskan bahwa musibah tersebut diawali hujan deras selama sekitar 30 menit, mulai pukul 11.00 hingga 11.30 WIB. Tak lama kemudian, tepat pukul 12.52 WIB, banjir tiba dengan membawa tumpukan sampah dalam jumlah sangat besar.
“Yang datang itu sampahnya luar biasa. Padahal pemerintah desa belum sampai tiga minggu ini sudah bersih-bersih sampah. Sudah bersih, ini datang lagi begitu banyak,” ujar Masri.
Tumpukan sampah itu menutup aliran sungai di bawah jembatan. Meski debit air tidak terlalu tinggi, tekanan air yang tertahan ditambah dorongan sampah kuat diduga menjadi penyebab pondasi jembatan tergerus.
Pada pukul 13.40 WIB, jembatan kemudian mengalami longsor dan patah.
“Kondisi jembatan sekarang miring. Sebelah barat naik, sebelah timur turun. Jalannya ambles sekitar satu meter. Jadi tidak mungkin dilewati,” jelasnya.
Jembatan yang menurut prasasti dibangun pada tahun 1981 itu merupakan salah satu lintasan terpadat di Desa Kesambi.
Selain menjadi jalur utama pergerakan ekonomi warga, jembatan tersebut juga digunakan oleh banyak pekerja dari sejumlah permukiman di sekitar desa.
Kerusakan ini berdampak signifikan bagi tiga RT di RW 3 yang biasanya bergantung pada akses Jembatan 1 sebagai jalur tercepat.
Meski demikian, akses alternatif masih tersedia mengingat wilayah Kesambi memiliki total 32 jembatan.
“Tidak sampai mengganggu akses warga secara keseluruhan, hanya perlu adaptasi karena biasa lewat jembatan ini.
Kalau memutar ke Jembatan 2 hanya sekitar 200 meter,” imbuh Masri.
Pemerintah desa telah memasang batas dan rambu peringatan untuk memastikan keselamatan warga. Sementara itu, koordinasi dengan Dinas PUPR dan BPBD terus dilakukan, termasuk rencana pengerukan sampah dan bambu yang masih menyumbat aliran sungai.
Penanganan darurat saat ini difokuskan pada pengamanan lokasi, sambil menunggu tindak lanjut perbaikan dari instansi terkait. (YM/YM)






