Kasus Obesitas Anak di Kudus, Wabup Bellinda Janjikan Pendampingan Khusus

oleh -1067 Dilihat
Dihubungi oleh warga melalui media sosial miliknya, wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton, menyambangi langsung ke rumah pasien anak penderita obesitas di rumahnya di Prambatan Kidul hingga membawanya ke Rumah Sakit dr Loekmono Hadi Kudus untuk diberikan perawatan lebih lanjut, Senin (29/9/2025) (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Wakil Bupati Kudus, Bellinda Putri Sabrina Birton, terjun langsung ke lapangan meninjau kondisi seorang anak berusia 9 tahun di Desa Prambatan Kidul, Kecamatan Kaliwungu, yang mengalami obesitas akibat riwayat cerebral palsy sejak kecil.

Tak hanya datang melihat, Bellinda bahkan mengantar langsung pasien bernama Yafira Nur Abida ke RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus untuk mendapatkan pemeriksaan medis lebih lanjut.

Bellinda mengatakan, kunjungan tersebut dilakukan setelah ia menerima aduan dari warga melalui pesan pribadi di media sosial. Anak tersebut diketahui mengalami keterlambatan tumbuh kembang, tidak dapat berjalan, serta tidak bersekolah karena keterbatasan fisik. Berat badannya kini mencapai sekitar 55 kilogram, jauh di atas ideal untuk anak seusianya yang seharusnya berkisar 25–35 kilogram.

“Sore ini kami ke rumah Yafira setelah menerima laporan dari warga. Kondisinya memang memerlukan perhatian serius. Dulu sempat rutin berobat, tapi empat tahun terakhir berhenti karena terkendala biaya. Alhamdulillah, keluarganya setuju untuk kami bawa ke rumah sakit agar kembali dipantau oleh dokter,” ujar Bellinda, Senin (29/9/2025).

Anak yang memiliki berat badan sekitar 55 kilogram itu kini tak dapat bersekolah dan aktivitasnya sangat terbatas karena tidak bisa berjalan. Bellinda menyebut, selain perawatan medis, Yafira juga memerlukan pendampingan khusus dalam pendidikan dan psikologis.

“Kami akan coba fasilitasi agar tetap mendapat hak pendidikan. Pemerintah siap bantu, semuanya gratis. Jangan sampai ada warga yang tidak tertangani hanya karena faktor biaya,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran masyarakat akan bahaya obesitas pada anak.

“Obesitas bukan semata-mata karena banyak makan. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak teratur juga berpengaruh. Puskesmas dan posyandu sudah punya program edukasi, tapi masyarakat juga harus peduli. Obesitas bisa memicu banyak penyakit kronis,” katanya.

Suparman, pengasuh Yafira, mengungkapkan bahwa kondisi itu sudah dialami sejak lahir.

“Sudah sembilan tahun tidak bisa jalan. Yafira ini anak terakhir dari empat bersaudara, kakak-kakaknya normal semua. Sehari-hari makan normal tiga kali, tapi karena tidak bisa aktivitas, badannya jadi gemuk,” tuturnya.

Ia menambahkan, orang tua Yafira yang bekerja serabutan sering kesulitan mengurus, sehingga dirinya ikut membantu merawat.

Dokter spesialis anak RSUD dr. Loekmono Hadi Kudus, dr. Arif Faiza, Sp.A, membenarkan bahwa Yafira membutuhkan penanganan komprehensif.

“Kasus ini tidak bisa ditangani satu bidang saja. Harus kolaborasi antara dokter anak, ortopedi, gizi klinik, saraf, rehabilitasi medik, serta psikolog. Karena selain masalah fisik, juga ada aspek emosional yang perlu diperhatikan,” jelasnya.

Arif menambahkan, obesitas pada anak dengan cerebral palsy rentan menimbulkan sindrom metabolik seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kolesterol.

“Semua ini bisa diminimalisir kalau ada pendampingan rutin. Dengan rujukan ini, kami akan mulai lagi proses pemantauan secara berkala,” pungkasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.