Kekerasan Perempuan Masih Tinggi, Mahasiswa Psikologi UMK Serukan Dukungan bagi Penyintas

oleh -76 Dilihat
Sejumlah mahasiswa UMK saat kampanye menyerukan stop kekerasan terhadap perempuan dan anak di area Car Free Day Kudus, Minggu (30/11/2025). (Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com– Tingginya angka kekerasan terhadap perempuan mendorong sejumlah mahasiswa Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) untuk menyuarakan pentingnya dukungan bagi para penyintas. Tindakan kecil yang kita berikan bisa membawa dampak besar dalam menciptakan kembali ruang aman bagi perempuan.

Seruan tersebut disampaikan oleh Kayla Rafa Tazkiya Rahmat, perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Psikologi UMK, saat ditemui isknews.com di sela-sela kegiatan Car Free Day (CFD) di Alun-alun Simpang Tujuh Kudus, Minggu (30/11/2025).

Kayla menjelaskan, kasus kekerasan terhadap perempuan bukan lagi hal yang jarang terjadi. Bahkan, banyak perempuan telah berupaya menjaga sikap, cara berpakaian, hingga kehati-hatian dalam aktivitas sehari-hari, namun kekerasan tetap saja terjadi.

“Sekarang ini perempuan masih banyak menerima kekerasan, meskipun kami sudah berusaha menjaga cara berpakaian, sikap, dan hal-hal lainnya. Tapi kekerasan tetap terjadi, dan seringkali dianggap tabu untuk dibahas,” ungkap mahasiswa semester 5 itu.

Ia menegaskan bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun adalah pelanggaran hak asasi manusia. Karena itu, korban tidak boleh disalahkan atas tindakan yang mereka terima.

“Kekerasan terhadap perempuan itu jelas pelanggaran HAM. Untuk teman-teman perempuan di luar sana yang pernah mengalami kekerasan, itu bukan salah kalian. Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kekerasan,” tegasnya.

Kepada para penyintas, Kayla memberikan pesan penguatan agar tetap bangkit, tidak kehilangan harapan, dan terus melanjutkan perjuangan hidup.

“Tetap semangat, jangan merasa sedih berlarut-larut. Jalani hidup seperti biasanya dan tetap kejar cita-cita. Dunia belum berakhir. Masih ada banyak hal yang bisa diperbaiki ke depan,” tuturnya.

Ia menambahkan, dukungan lingkungan sekitar—baik di kampus maupun masyarakat—sangat penting untuk membantu penyintas pulih secara emosional maupun sosial. Menurutnya, masyarakat perlu menciptakan ruang aman yang memungkinkan perempuan berani bersuara dan mendapatkan perlindungan.

Kayla berharap kesadaran publik terhadap isu kekerasan semakin meningkat. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan hanya persoalan individu, melainkan masalah bersama yang harus dihentikan melalui kepedulian, edukasi, dan solidaritas. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :