Kemarau Lebih Panjang, Dispertan Pastikan Sawah di Kudus Tetap Aman dari Kekeringan

oleh -206 Dilihat
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetiyo. (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus memastikan lahan persawahan di wilayahnya masih aman dari ancaman kekeringan meski musim kemarau 2026 diprediksi berlangsung lebih panjang dari biasanya. Ketersediaan air irigasi yang masih stabil membuat musim tanam kedua (MT II) diyakini tetap berjalan normal.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Didik Tri Prasetiyo mengatakan, suplai air dari Waduk Kedungombo hingga saat ini masih dalam kondisi maksimal dan mampu memenuhi kebutuhan irigasi pertanian di berbagai wilayah.

Kalau melihat kondisi sekarang, air masih aman karena suplai dari Kedungombo masih maksimal, sehingga musim kemarau ini tidak terlalu berpengaruh terhadap pertanian di Kudus,” ujarnya saat ditemui di kantor Dispertan Kudus, Kamis (9/4/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut jauh lebih baik dibanding musim kemarau tahun sebelumnya ketika sejumlah daerah seperti Kecamatan Undaan dan Kaliwungu sempat mengalami penurunan debit air cukup drastis.

Kalau musim lalu khususnya di Undaan dan Kaliwungu saat kemarau airnya benar-benar habis. Tapi sekarang kondisinya masih cukup sehingga untuk MT II dipastikan masih aman,” katanya.

Didik menegaskan, stabilnya sektor pertanian akan berdampak langsung terhadap perekonomian daerah karena pertanian masih menjadi salah satu sektor penopang utama di Kabupaten Kudus.

Kalau pertanian aman, dampaknya terhadap ekonomi daerah juga ikut aman,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinas Pertanian dan Pangan Kudus, capaian Luas Tambah Tanam (LTT) hingga Maret 2026 telah mencapai sekitar 95 persen dari target yang ditetapkan. Selain itu, dukungan bantuan alat dan mesin pertanian (alsintan) dari pemerintah pusat juga telah diterima guna menunjang produktivitas petani.

Meski demikian, pihaknya tetap meminta petani meningkatkan kewaspadaan. Sebab berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih awal, yakni pada April hingga Juni 2026, dengan puncak kemarau terjadi pada Agustus 2026.

Kemarau tahun ini juga diprediksi lebih panjang dari biasanya sehingga perlu langkah antisipasi,” katanya.

Sebagai langkah mitigasi, Dispertan Kudus bersama pemerintah pusat terus memperkuat dukungan sarana irigasi melalui optimalisasi jaringan irigasi pertanian, bantuan benih dan pupuk, serta pemetaan wilayah rawan kekeringan.

Petani juga didorong melakukan berbagai langkah adaptasi seperti efisiensi penggunaan air, pembuatan sumur dangkal dan pompa air, penyesuaian pola tanam, penggunaan pupuk organik, serta pengendalian hama dan penyakit tanaman.

Selain itu, Didik mengingatkan petani agar tidak membakar jerami setelah panen karena dapat membantu menjaga kelembapan tanah.

Jerami jangan dibakar, sebaiknya dikembalikan ke lahan. Itu bisa membantu menyimpan air dan mengurangi penguapan sehingga tanah tetap lembap,” paparnya.

Untuk memperkuat perlindungan usaha tani, petani juga didorong mengikuti program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) guna mengantisipasi risiko gagal panen akibat cuaca ekstrem maupun gangguan lainnya.

Kami juga mendorong petani mengikuti Asuransi Usaha Tani Padi sebagai bentuk perlindungan jika terjadi gagal panen,” tandasnya. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.