KUDUS, ISKNEWS.COM – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mendorong agar praktik baik penguatan berpikir komputasional yang telah diterapkan di Kabupaten Kudus dapat dikembangkan dan diterapkan di daerah lain. Hal tersebut disampaikan dalam Festival Berpikir Komputasional 2026 tingkat SD/MI di Kudus.
Festival tersebut menjadi bagian dari upaya mengasah kemampuan logika dan pemecahan masalah murid sejak jenjang pendidikan dasar. Program berpikir komputasional di Kabupaten Kudus sendiri telah berjalan sejak 2023 melalui inisiatif Djarum Foundation yang melibatkan guru, murid, dan orang tua.
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan program yang telah berjalan di Kudus memiliki keterkaitan dengan arah kebijakan pendidikan nasional.
“Festival Berpikir Komputasional 2026 ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM,” kata Gogot.
Menurutnya, pengalaman yang telah dibangun di Kudus tidak berhenti pada pelaksanaan festival. Pelatihan dan pendampingan guru serta penerapan pembelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir murid dinilai dapat terus diperluas.
“Praktik baik untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain,” ujarnya.
Program tersebut hingga kini telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI. Sebanyak 1.111 guru dan 23.356 murid telah terlibat dalam kegiatan yang menerapkan konsep berpikir komputasional menggunakan beragam media pembelajaran.
Media yang digunakan antara lain kartu pembelajaran, permainan papan, teka-teki, hingga aktivitas yang melibatkan gerakan. Konsep tersebut dirancang agar murid terbiasa memecah persoalan, mengenali pola, memilih informasi penting, serta menyusun langkah penyelesaian secara runtut.
Perkembangan kemampuan murid juga diukur melalui tantangan BEBRAS. Inisiatif internasional tersebut menggunakan soal dengan pendekatan Higher Order Thinking Skills (HOTS) untuk mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah.
Berdasarkan hasil pengukuran program, rata-rata skor murid meningkat dari 34,52 menjadi 88,34. Data tersebut menjadi salah satu gambaran perkembangan kemampuan murid setelah mengikuti rangkaian pembelajaran berpikir komputasional.
Plt Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus Anggun Nugroho, yang mewakili Bupati Kudus Sam’ani Intakoris, mengatakan penguatan kemampuan berpikir perlu dilakukan sejak anak berada pada usia dini.
“Berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan,” ungkap Anggun.
Penerapan berpikir komputasional juga dilakukan dengan pendekatan kreatif di sejumlah sekolah. Di SD 3 Kalirejo, misalnya, guru mengajak murid menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah.
Sementara itu, SD Muhammadiyah Birrul Walidain mengintegrasikan konsep tersebut dalam pembelajaran IPAS. Murid diajak mengurai persoalan, menemukan pola, dan mengelompokkan informasi melalui materi mengenai sistem pernapasan.
Di SD 1 Barongan, guru menggunakan pola keterlambatan siswa sebagai bahan pembelajaran. Murid diajak mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan bersama-sama mencari solusi dari persoalan tersebut.
Selain kemampuan berpikir, kegiatan juga dipadukan dengan literasi fisik. Pendekatan ini dilakukan sebagai bagian dari perhatian terhadap pola hidup murid, menyusul hasil survei keterampilan sosial emosional OECD di Kabupaten Kudus pada 2023.
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa mengatakan pihaknya memandang berpikir komputasional sebagai keterampilan mendasar yang penting bagi perkembangan anak.
“Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri,” katanya.
Djarum Foundation berencana melanjutkan program tersebut sekaligus memperluas cakupannya secara bertahap ke jenjang pendidikan berikutnya. Pengembangan dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah, satuan pendidikan, guru, dan berbagai pihak terkait.
Dengan pengalaman yang telah dikembangkan di Kudus, praktik pembelajaran tersebut diharapkan dapat menjadi referensi untuk memperkuat kemampuan berpikir komputasional murid di wilayah lain. (AS/YM)






