Ketika Keberadaan Tengul Teater Tigakoma Adalah Vonis Moral

oleh -155 Dilihat
oleh

Kudus, isknews.com – Karya dramawan legendaris Indonesia, Arifin C. Noer, kembali menghantam kesadaran kolektif dalam era disrupsi digital. Pementasan “Tengul” oleh Teater Tigakoma, di bawah arahan sutradara Afif Khoirudin Sanjaya (yang akrab disapa Apop), melakukan autopsi terhadap moralitas dan fragmentasi sosial Indonesia kontemporer. (16/11/2025 )

Arifin C. Noer senantiasa menempatkan tokohnya, termasuk Tengul, dalam posisi “terbentur sistem,” di mana hasrat untuk hidup baik berhadapan dengan ruang yang tidak layak. Analisis pementasan ini menunjukkan bahwa absurditas Arifin bukanlah nihilisme, melainkan negosiasi abadi antara idealisme dan keharusan bertahan hidup.

Tengul, si pelawak miskin, dalam pandangan Teater Tigakoma, adalah representasi dari ungkapan, “Eksistensi manusia bukan hanya tentang hidup dan mati, tetapi tentang apa yang tersisa dari kita ketika segalanya terasa tak masuk akal.”

Yang paling mencolok, pementasan ini menegaskan bahwa moralitas telah “turun ke dapur, ke jalan, ke pasar,” menjadi sesuatu yang fungsional alih-alih ideal. Pengamat teater bahkan mencatat bahwa Tengul terpaksa menipu dan melawan nasib bukan karena ia buruk, tetapi karena nilai luhur tidak selalu kompatibel dengan kemiskinan.

Ruang Tapal Kuda, Mengubah Penonton Menjadi Juri
Keputusan artistik sutradara Apop menggunakan ruang tapal kuda (arena) patut diapresiasi karena dampaknya yang signifikan. Penonton tidak lagi nyaman sebagai pihak yang disajikan hiburan, mereka ditempatkan berhadapan, saling menatap, dan secara implisit saling menghakimi.

Di arena ini, Tengul bukan lagi sumber tawa hangat, melainkan subjek uji coba moral. Seperti yang diungkapkan oleh penonton bernama Rais, inti kritik pementasan ini adalah, “Mengapa kita menertawakan Tengul? Apakah karena ia lucu, atau karena kita membutuhkan rasa aman dengan melihat ada yang lebih menderita dari diri kita?”

Setiap tawa yang terdengar di panggung tapal kuda ini diubah menjadi “tawa yang menilai”, vonis moral yang menyakitkan. Refleksi yang muncul adalah bahwa yang sesungguhnya lucu bukanlah Tengul, melainkan budaya kolektif yang memungkinkan sosok terfragmentasi seperti Tengul terus ada.

Dalam sesi diskusi Sutradara Apop menanggapi tantangan narasi dalam teater eksperimental. Ia berharap visinya dapat menciptakan “wacana dan dialog berkesenian, kejelasan dan kejujuran atas apa yang hendak kita sampaikan, meskipun dalam pergerakan teater modern yang konseptual dan eksperimental cenderung terjebak kehilangan narasinya.”

Pelaku seni Dian Puspita Sari menilai konsepsi ini sebagai ajakan untuk objektivitas. “Kita diajak menjadi pengamat peristiwa dalam panggung… kita dituntut oleh zaman yang serba cepet agar bisa melihat peristiwa lebih objektif,” ujarnya.

Pementasan “Tengul” oleh Teater Tigakoma ditutup dengan meninggalkan pertanyaan mendasar bagi audiens, Apakah kita benar-benar peduli pada lukanya, atau hanya peduli agar ia tetap menghibur kita? Ini adalah seruan keras untuk meninjau kontradiksi antara idealisme dan realitas yang terus dimainkan di panggung kehidupan.

KOMENTAR SEDULUR ISK :
oleh