Kisah Sukses Inay, Perajin Kerupuk Kulit Kerbau yang Sempat Bangkrut hingga Terlilit Hutang

oleh -86 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Pantang menyerah. Nampaknya ujaran tersebut cocok disematkan oleh salah satu pebisnis yang bergelut di sektor camilan kerupuk kulit kerbau di Kudus.

Namanya adalah Inay Nur Aini, warga Desa Bulung Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus. Perajin kerupuk kulit kerbau ini sudah terbilang sukses setelah melakoni pengenalan produk selama 3 tahun terakhir.

Tidak hanya laris di wilayah Kudus, produk kerupuk kulit kerbau paquita milik Inay juga banjir pesanan hingga Luar Daerah, seperti Kalimantan, Bandung, dan Tangerang.

Banyak mendapat respon yang baik dari para pelanggan, Inay pun mulai merambah variasi produknya, diantaranya, kerupuk kulit sapi, kerupuk kulit sapi rasa kerbau, basreng, dan usus krispi.

“Sini harganya memang saya buat murah dengan kualitas yang mantap, jadi banyak yang datang untuk pesan,” katanya.

Untuk melayani pesanan pelanggan, Inay mengaku melakukan produksinya setiap hari. Bahkan, untuk satu produk kerupuk dia bisa memproduksi hingga 10 kilogram.

“Alhamdulillah, Ramadhan ini penjualan meningkat drastis dari hari-hari biasanya,” tambahnya.

Namun, dibalik kesuksesan usaha yang bisa dinikmati Inay sekarang, pihaknya mengaku tidak mudah dalam perintisan awalnya. Bahkan, Inay mengaku sempat memiliki bisnis besar tapi bangkrut hingga terlilit hutang.

Sebelum bergelu di bidang kuliner ini, Inay mengaku sempat memiliki bisnis dibidang fashion di Jakarta. Waktu itu, dia sudah memiliki 2 butik yang namanya sudah besar dan 2 toko elektronik di Jakarta.

Berjalan beberapa tahun, dia mengalami kebangkrutan karena menjadi korban penipuan dari salah satu rekannya sendiri.

“Intinya, dulu itu saya terlalu percaya, ternyata malah dibohongi sama orang,” ujarnya.

Terlilit hutang hingga habis tabungan dan kekayaan, Inay memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Kudus.

Tidak berputus asa, Inay mencoba membuka peluang bisnis kembali di Pasar Kliwon. Dia merintis usaha di bidang fashion kembali dengan menyewa salah satu kios di Pasar Kliwon.

“Sempet sukses sebentar, tapi saya sakit karena jatuh dari tangga, dan anak saya masih kecil, lama-lama saya akhirnya tutup,” imbuhnya.

Tidak berhenti di situ, Inay mencoba mencari peluang rejeki baru dengan kerja di salah satu perusahaan. Berhenti berbisnis, Inay mengaku sedikit tidak nyaman dengan pekerjaan ini.

Dia pun menyelingi waktunya dengan mencoba peruntungan baru dengan berbisnis di bidang kuliner kerupuk kulit kerbau. Secara door to door, Inay menawarkan produk kerupuk kulitnya kepada para pembeli.

“Saya lakoni itu dulu, jadi saya kerja kantoran sambil bawa kerupuk kulit, saya tidak malu sama sekali,” katanya.

Berhasil mendapatkan pelanggan, produk kerupuk kulit kerbau miliknya mulai dikenal banyak orang. Setelah yakin untuk kembali berbisnis, Inay pun melepas pekerjaannya di perusahaan dan fokus untuk menekuni bisnis camilan ringannya.

“Karena jiwa saya memang tidak bisa dibawahi, saya suka kerja sendiri daripada kerja sama orang,” tandasnya.

Berkat keyakinan tersebut, Inay sekarang bisa memanen hasil kerja yang telah dia rintis sejak 3 tahun belakang ini. Banyak para pelanggan yang datang untuk memesan produknya. Bahkan, dia juga sudah memiliki reseller yang ikut melariskan produk kerupuk kulit kerbau miliknya. (MY/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.