Kudus, isknews.com – Pemerintah Kabupaten Kudus meluruskan berbagai spekulasi yang muncul di media sosial terkait penyelenggaraan Lomba Desain Batik Khas Kudus. Melalui Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo), Pemkab menegaskan bahwa kegiatan tersebut murni untuk menjaring karya desain terbaik dan tidak terkait dengan proyek pengadaan maupun belanja daerah.
Kepala Diskominfo Kabupaten Kudus, Satria Agus Himawan, menyampaikan penegasan itu menyusul munculnya komentar sejumlah netizen yang menilai lomba desain batik berpotensi memicu pemborosan anggaran dan bertentangan dengan semangat efisiensi yang saat ini tengah dijalankan pemerintah.
Menurut Satria, anggapan tersebut tidak tepat karena lomba yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kudus itu tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Perlu kami tegaskan bahwa lomba desain batik ini tidak menggunakan APBD. Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bentuk dukungan terhadap kreativitas masyarakat, khususnya desainer muda dan pelaku seni batik,” ujar Satria, Kamis (4/6/2026).
Lomba bertema “Kudus Harmoni dalam Warna, Tradisi dalam Karya” itu, lanjutnya, merupakan bagian dari upaya pelestarian budaya sekaligus pengembangan motif batik khas Kudus.
Karena itu, fokus kegiatan hanya pada proses seleksi dan penilaian desain terbaik yang masuk sesuai kriteria yang telah ditetapkan dewan juri.
“Lomba ini hanya berupa penetapan pemenang desain, menjaring karya desain terbaik. Tidak ada pengadaan batik yang akan dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kudus maupun Dekranasda setelah penetapan pemenang. Jadi ini bukan proyek pengadaan,” tegasnya.
Ia juga membantah anggapan bahwa lomba tersebut menjadi langkah awal pengadaan seragam batik bagi aparatur sipil negara (ASN). Menurutnya, tidak ada agenda maupun kebijakan yang mengarah pada pengadaan batik ASN sebagai tindak lanjut dari kompetisi tersebut.
“Sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi kreatif daerah, desain pemenang akan dibuka peluang pemanfaatannya kepada para pengrajin batik Kudus. Harapannya, desain-desain tersebut bisa berkembang menjadi produk yang memberi nilai tambah bagi industri batik lokal,” katanya.
Melalui lomba tersebut, Dekranasda berharap dapat mendorong lahirnya motif-motif baru yang mencerminkan identitas daerah, memberikan ruang bagi para desainer untuk berkarya, sekaligus memperkuat ekosistem industri batik di Kabupaten Kudus.
“Semangat kegiatan ini adalah pelestarian budaya dan pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat. Pelaksanaannya dilakukan secara transparan, partisipatif, dan berkelanjutan,” pungkas Satria. (YM/YM)







