Komite Ekraf Kudus Gelar Lomba Seduh Kopi, Angkat Potensi Robusta Pegunungan Muria

oleh -266 Dilihat
Ketua Komite Ekraf Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira (No.2 dari kiri) saat foto bersama dengan juara lomba seduh kopi. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Komite Ekonomi Kreatif (Ekraf) Kabupaten Kudus menggelar Lomba Seduh Kopi sebagai upaya mengangkat potensi kopi Robusta dari Pegunungan Muria sekaligus memperkuat subsektor ekonomi kreatif lokal. Ajang yang berlangsung di kawasan Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus pada Jumat (7/11/2025) sore itu diikuti oleh 10 peserta dari Kudus dan sekitarnya.

Ketua Komite Ekraf Kabupaten Kudus, Valerie Yudistira, dalam sambutannya menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif komunitas ekonomi kreatif yang berkolaborasi dengan pelaku kopi lokal. “Acara ini memang diinisiasi oleh teman-teman Ekraf, dan saya sendiri sebagai owner Sidji Kopi. Sejak tahun 2016, saya rutin menggunakan biji kopi Robusta dari Pegunungan Muria. Ini bagian dari gerakan untuk menumbuhkan kesadaran dan kecintaan terhadap potensi kopi lokal Kudus,” ujarnya.

Dalam perlombaan tersebut, para peserta dinilai oleh tiga juri yang mewakili unsur barista, petani kopi, dan roaster. Mereka menilai lima aspek utama, yakni kerapian, teknik seduh, aroma, taste note, serta after taste. Proses penjurian berlangsung dengan suasana santai namun tetap profesional, menggunakan sistem rolling tanpa eliminasi langsung.

Valerie menambahkan bahwa ajang seperti ini tidak hanya menjadi wadah kompetisi, tetapi juga ruang silaturahmi dan pembelajaran antarpegiat kopi. “Bukan soal siapa yang paling jago, tetapi bagaimana kita bisa saling mengenal, berbagi pengalaman, dan memperluas jejaring antar pelaku kopi. Dari kegiatan semacam ini, peluang kolaborasi dan kerja sama bisa muncul dengan sendirinya,” tuturnya.

Ia juga menegaskan, subsektor kopi menjadi bagian penting dalam pertumbuhan ekonomi kreatif di Kudus yang terus berkembang pesat. “Seperti halnya fashion, kriya, atau kuliner, kopi juga merupakan subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi luar biasa. Dulu biji kopi hanya dijual sekitar Rp20 ribu per kilo, tapi dengan kreativitas dan inovasi, kini bisa bernilai hingga Rp200 ribu,” terangnya.

Sementara itu, Moh Roikhan Khafid (24) asal Desa Piji, Kecamatan Dawe, yang berhasil meraih juara pertama, mengaku bangga dapat membawa nama kopi Muria di ajang tersebut. “Ini pertama kalinya saya ikut lomba seduh kopi dan Alhamdulillah bisa juara. Saya ingin terus mengenalkan kopi Robusta Muria supaya makin dikenal luas. Semoga acara seperti ini terus berlanjut untuk mendukung UMKM kopi di Kudus,” ungkapnya.

Gelaran lomba seduh kopi ini sekaligus menegaskan bahwa Kudus memiliki ekosistem ekonomi kreatif yang hidup dan dinamis. Melalui kolaborasi lintas komunitas dan pelaku usaha, subsektor kopi kini tumbuh menjadi salah satu wajah baru kreativitas lokal yang terus mengharumkan nama Kudus. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :