Konservasi Lereng Gunung Muria 5 Paramotor Tebarkan Biji Tanaman Untuk Konservasi Lereng Gunung Muria

oleh -1,336 kali dibaca

Kudus,isknews.com – (17/11) Kebutuhan akan pemanfaatan sumber daya alam seperti penebangan kayu untuk keperluan spesifik, penggunaan lahan untuk komersial, pembukaan daerah wisata atau keperluan lain sudah tidak dapat dielakkan. Begitu juga yang terjadi di kawasan Gunung Muria – Kudus. Dari deretan perusakan hutan yang terjadi baik milik warga maupun pemerintah di kawasan ini, penyebab paling parah adalah persoalan ekonomi yang melilit warga. Hal ini mengakibatkan alih fungsi lahan yang seharusnya kawasan hutan lindung menjadi area persawahan yang ditanami tanaman semusim, jagung misalnya. Lebih buruk lagi, pola yang digunakan oleh masyarakat sekitar adalah dengan cara menebang pohon-pohon keras yang memiliki nilai konservasi tinggi. Mereka beranggapan jalan ini akan dapat memberikan nilai prouktivitas tanaman yang tinggi, karena cahaya matahari untuk tanaman semusimnya tidak lagi terhalang oleh pepohonan besar.

Melihat fenomena ini, konservasi adalah hal mutlak untuk dilakukan guna mengembalikan ekosistem hutan ke kondisi semula. Kendati luas kawasan gunung Muria hanya 15% yang berada di Kabupaten Kudus, namun Kudus ingin memiliki lingkungan yang tetap sehat, udara segar, menyediakan cukup air bersih dan aman dari bencana tanah longsor serta banjir.

Sejak tahun 2006, Bakti Lingkungan Djarum Foundation telah melakukan konservasi di Lereng unung Muria. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan ekosistem alam bagi 3 kabupaten di sekitarnya, yakni Kudus (selatan), Pati (Timur) dan Jepara (barat laut). Jika kegiatan pemanfaatan hutan di lereng gunung ini diabaikan, maka ketiga Kabupaten tersebut akan terancam dengan peningkatan angka jejak karbon yang tinggi, potensi bencana alam dan perubahan cuaca yang merugikan pertanian maupun kehidupan sehari-hari.

“Prioritas utama yang kita pilih adalah menanam pohon tanaman keras di lereng dan puncak Muria yang terjal yaitu Desa Rahtawu, oleh akrenanya dibutuhkan bantuan paramotor. Kami juga bekerjasama dengan Pemda, Kodim, Polres dan tokoh masyarakat setempat untuk memberikan sosialisasi kepada warga setempat untuk memahami usaha baik ini agar dapat membatu keberhasilan program konservasi Lereng Gunung Muria. Kami berharap tidak ada lagi bencana tanah longsor dan banjir di lokasi yang dapat menelan korban jiwa seperti sebelumnya” ungkap FX. Supanji, Vice President Director Djarum Foundation.

Zona konservasi meliputi kawasan strategis fungsi dan daya dukung lingkungan hidup di lereng Muria. Zona ini memiliki peran penting untuk mencegah kemungkinan terjadinya bencana alam sekaligus water catchment bagi persediaan sumber daya air bersih untuk Kabupaten Kudus.

Terhitung lebih dari 53.000 pucuk pohon dari beragam jenis telah ditanam oleh Djarum Foundation sejak tahun 2006 dengan melibatkan setidaknya lebih dari 400 siswa/i SMA dan santri, serta lebih dari 3.000 LSM lingkungan hidup, mahasiswa dan akademisi.

Pada tahun 2015 ini konservasi Lereng Gunung Muria dilakukan dengan cara berbeda, yakni dengan menebarkan 411 kg beragam biji tanaman seperti Kepoh, Ketapang, Mahoni, Trengguli, Randu, Kenari, Salam, Asem, Petai Cina, Kasia, Trembesi dan Kedoya. Penebaran biji dilakukan menggunakan 5 paramotor dari ketinggian jelajah 1.400 m di atas permukaan laut dengan kawasan sebaran 60 hektar di daerah Lereng Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Diharapkan 30% dari total biji yang disebarkan akan dapat hidup dengan baik. Jika dikonversikan kira-kira 7.318.100 tanaman akan tumbuh di Klereng Gunung Muria dari total 2bu 4.393.669 biji yang ditebarkan.

Kegiatan ini akan dilanjutkan dengan program tahunan Konservasi Lereng Muria be Telp: 021- 5346901, Fax: 021- 5348371 email: evi.i.adeliana@djarum.com

ES

KOMENTAR SEDULUR ISK :