Konsisten Kembangkan Potensi, Khilda Raih Predikat Wisudawan Terbaik UMK

oleh -92 Dilihat
Khilda Evita Aisya meraih predikat wisudawan terbaik pada Wisuda ke-77. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

KUDUS, ISKNEWS.COM – Ketekunan dalam mengasah kemampuan dan keberanian mengambil berbagai peluang mengantarkan Khilda Evita Aisya meraih predikat wisudawan terbaik pada Wisuda ke-77 Universitas Muria Kudus (UMK). Mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) itu berhasil menuntaskan studinya dengan IPK 3,95.

Bagi Khilda, keberhasilan tersebut bukanlah hasil dari ambisi untuk menjadi mahasiswa terbaik. Sejak awal perkuliahan, ia lebih memilih fokus mengembangkan kemampuan diri, memperluas wawasan, dan memanfaatkan setiap kesempatan untuk memperoleh pengalaman baru.

Ia mengaku tidak pernah secara khusus memasang target untuk menjadi wisudawan terbaik. Menurutnya, kesempatan menempuh pendidikan tinggi merupakan peluang berharga yang perlu dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mengenali dan mengembangkan potensi diri.

“Jujur, sebelumnya saya tidak berekspektasi menjadi mahasiswa terbaik. Awalnya, sebagai mahasiswa, saya hanya mencoba untuk menjadi yang terbaik bagi diri saya sendiri. Mumpung mendapat kesempatan belajar di jenjang yang lebih tinggi, mari kita coba menggali potensi diri sebanyak mungkin,” ungkapnya.

Langkah Khilda dalam mengembangkan kemampuan mulai terlihat ketika memasuki semester tiga pada 2023. Ia mendapat kesempatan untuk berpartisipasi dalam kompetisi inovasi internasional, International Inventors Day (INOVA), yang digelar di kawasan Jimbaran, Bali.

Meski saat itu belum memiliki banyak pengalaman mengikuti perlombaan, Khilda tetap berani mencoba. Keputusan tersebut membuahkan hasil setelah timnya berhasil meraih medali emas dalam kompetisi tersebut.

Keberhasilan di Bali menjadi pemicu bagi Khilda untuk terus meningkatkan kemampuannya. Ia kemudian mengikuti kompetisi yang diselenggarakan oleh IESA di Surabaya bersama timnya. Dari ajang tersebut, mereka sukses meraih tiga penghargaan, yakni medali emas, Best Presentation, dan Special Award.

Prestasinya di bidang inovasi berlanjut dalam kompetisi di Jakarta. Khilda kembali membawa pulang medali emas, sekaligus memperoleh pengalaman yang semakin memperkuat ketertarikannya terhadap penelitian dan pengembangan gagasan baru.

Tak membatasi diri pada kompetisi inovasi, Khilda juga menjajal kemampuan di bidang kepenulisan. Ia mengikuti lomba esai dan berhasil menempati posisi juara kedua dalam Global Insight Essay, ajang yang digelar melalui kolaborasi UMK dengan Universiti Teknologi Malaysia.

Rangkaian pengalaman tersebut turut membentuk kemampuannya dalam mengolah informasi, berpikir kritis, serta menyampaikan ide secara terstruktur. Bagi Khilda, setiap kompetisi menjadi ruang belajar untuk memperbaiki diri, bukan sekadar kesempatan mengumpulkan penghargaan.

Kesempatan mengembangkan wawasan juga datang melalui program KKN Internasional di Malaysia. Khilda terpilih menjadi salah satu dari delapan mahasiswa UMK yang mengikuti kegiatan tersebut selama 28 hari.

Dalam program itu, ia bersama peserta lainnya berkontribusi dalam kegiatan pendidikan untuk anak-anak dari keluarga pekerja migran Indonesia. Mereka memberikan pendampingan belajar di tengah keterbatasan akses pendidikan formal yang dihadapi anak-anak tersebut.

“Kita mengajar di salah satu sanggar bimbingan yang berada di bawah naungan pemerintah Indonesia melalui Sekolah Indonesia Kuala Lumpur,” katanya.

Di luar kegiatan akademik, kompetisi, dan pengalaman internasional, Khilda juga menjalani kehidupan yang penuh kemandirian. Ia berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya bekerja sebagai guru honorer, sedangkan ibunya mengurus rumah tangga sekaligus membantu penghasilan keluarga melalui usaha gorengan dan pekerjaan menjaga parkir.

Sejak sebelum kuliah, Khilda telah terbiasa membantu pekerjaan ibunya, mulai dari mempersiapkan dagangan hingga menjaga parkir. Ketika mulai menjalani perkuliahan, ia turut mengajar les untuk memperoleh tambahan uang saku. Ia juga meluangkan waktu mengajar di pondok pesantren sebagai bentuk pengabdian.

Perjuangannya menempuh pendidikan turut didukung oleh beasiswa tahfiz yang diperolehnya pada 2022. Khilda mengikuti seleksi program tersebut meskipun kuota yang tersedia hanya dua orang untuk satu universitas.

Modal hafalan 30 juz Al-Qur’an membuatnya mantap mengikuti proses seleksi. Setelah berhasil memperoleh beasiswa, ia mendapatkan pembebasan Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama delapan semester hingga biaya wisuda.

Bantuan tersebut menjadi dukungan penting bagi Khilda dan keluarganya dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Di tengah keterbatasan ekonomi, kesempatan itu membantunya tetap berfokus menjalani perkuliahan sekaligus mengembangkan berbagai kemampuan.

Kini, setelah resmi menyelesaikan pendidikan dengan predikat wisudawan terbaik UMK, Khilda memilih melanjutkan kiprahnya di bidang pendidikan. Berbagai pengalaman selama kuliah semakin menguatkan tekadnya untuk menekuni profesi guru.

“Saya mantap untuk menjadi guru,” tandasnya.

Khilda berharap ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan untuk mendidik dan memberikan manfaat kepada orang lain. Ia juga ingin menginspirasi generasi muda agar terus mengembangkan potensi, tidak takut mencoba hal baru, dan berani memanfaatkan setiap kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik. (AS/YM)