Kopi Babinsa Kreatif: Ketika Satgas TMMD Jadi Motor Ekonomi Desa di Kaki Gunung Muria

oleh -642 Dilihat
Babinsa Kreatif : Serma Suwardi, anggota Satgas TMMD dan Babinsa yang memanfaatkan potensi Kopi di Desa Kandangmas untuk meningkatkan taraf ekonomi warga (Foto: istimewa)

Kudus, isknews.com – Lereng Gunung Muria sejak lama dikenal sebagai wilayah subur penghasil kopi berkualitas. Namun, potensi ini belum sepenuhnya digarap secara maksimal oleh warga desa di sekitarnya. Di tengah kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-125 Kodim 0722/Kudus, peluang itu justru dibaca cermat oleh seorang Babinsa bernama Serma Suwardi.

Ia menggagas lahirnya Kopi Babinsa Kreatif, sebuah upaya kecil yang berpotensi membawa perubahan besar bagi Desa Kandangmas, Kecamatan Dawe.

Bukan sembarang kopi. Minuman ini berasal dari biji-biji kopi hasil kebun warga Desa Kandangmas yang tumbuh subur di ketinggian Muria. Di balik proyek ini berdiri sosok inspiratif: Serma Suwardi, anggota Satgas TMMD yang memanfaatkan momentum pembangunan desa untuk juga membangun ekonomi warga.

Sebagai prajurit TNI, Suwardi biasanya dikenal lewat kedisiplinan dan kerja lapangan. Namun di tengah tugasnya, ia melihat langsung potensi kopi rakyat yang kerap tidak terkelola dengan baik. Melihat kondisi itu, ia menggandeng petani setempat, lalu memulai inisiatif sederhana: mengolah, mengemas, dan memasarkan kopi dengan sentuhan lokal yang lebih bernilai.

“Kopi ini hasil dari kebun warga sendiri. Sayang kalau hanya dijual gelondongan. Padahal kalau diolah dan dikemas dengan baik, bisa punya nilai jual tinggi,” kata Suwardi sambil menunjukkan label produk bertuliskan “Kopi Babinsa Kreatif – Kandangmas“.

Langkahnya dimulai dari mengedukasi warga soal pascapanen dan proses produksi. Ia mengajak petani belajar menyortir biji kopi, menyangrai dengan teknik sederhana, menggiling, hingga mengemas dalam kemasan rapi dan menarik. Bahkan, warga yang tidak memiliki lahan pun bisa turut serta dalam rantai produksi.

Ibu-ibu rumah tangga kini ikut ambil bagian dalam pengemasan. Para pemuda dilibatkan untuk promosi melalui media sosial. Sementara para petani merasa lebih dihargai karena hasil panen mereka tak lagi dijual murah ke pengepul, melainkan menjadi produk kebanggaan desa.

“Dulu hasil panen saya dijual murah ke tengkulak. Sekarang bisa ikut bangga karena kopi kami dikemas dan dijual dengan nama desa kami sendiri,” ujar Pak Suroyo (58), petani kopi dari Dukuh Wates.

Kopi Babinsa Kreatif bukan sekadar minuman, melainkan simbol harapan. Di setiap cangkirnya, tersimpan semangat gotong royong dan keberanian warga untuk naik kelas secara ekonomi. Produk ini pun mulai dikenal di luar desa, bahkan beberapa pengunjung TMMD memborongnya sebagai oleh-oleh khas Kandangmas.

Gagasan ini terus berkembang. Serma Suwardi menggelar diskusi rutin bertajuk “Ngopi Bareng Babinsa” di posko TMMD. Di sana, warga diajak berdialog tentang pengembangan usaha lokal lain, mulai dari jahe merah, gula semut, hingga kerajinan bambu khas pegunungan Muria.

Ke depan, warga dan Satgas TMMD berencana membangun rumah produksi kopi agar proses pengolahan bisa lebih rapi dan terstandar. Hal ini sekaligus membuka peluang kerja lebih luas bagi warga desa yang selama ini hanya bergantung pada hasil kebun musiman.

“Kalau ditekuni bersama, kopi ini bisa jadi kekuatan ekonomi desa. Yang penting ada kemauan, dan kita bantu carikan jalannya,” ucap Suwardi penuh semangat.

Dari lereng Muria yang sejuk, secangkir kopi kini menjadi cerita baru tentang kemandirian dan kerja sama. Dari biji-biji lokal yang dulu dipandang sebelah mata, kini tumbuh harapan besar untuk masa depan Desa Kandangmas yang lebih cerah.

Komandan Kodim 0722/Kudus, Letkol Infanteri Hermawan Setya Budi, turut mengapresiasi inisiatif anak buahnya.

“TMMD bukan hanya membangun jalan dan jembatan, tapi juga membangun daya saing desa. Kopi Babinsa Kreatif ini contoh bahwa prajurit bisa menjadi pelopor ekonomi kerakyatan,” ujarnya. (YM/YM)

No More Posts Available.

No more pages to load.