KUDUS, ISKNEWS.COM – Beragam pembangunan infrastruktur yang dikerjakan jajaran TNI di Kabupaten Kudus dipaparkan Dandim 0722/Kudus Letkol Arh Yusuufa Allan Andriasi di hadapan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat saat kunjungan kerjanya di Kudus.
Paparan tersebut mencakup progres pembangunan jembatan, sumur bor, irigasi hingga pipanisasi yang tersebar di sejumlah wilayah Kabupaten Kudus dan disampaikan dalam kunjungan kerja Pangdam IV/Diponegoro di Kabupaten Kudus, sekaligus dalam kegiatan operasionalisasi dan penandatanganan prasasti Jembatan Merah Putih di Dukuh Kedungmojo, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, Rabu (2/9/2026).
Dandim menyampaikan sejumlah pembangunan jembatan telah rampung dikerjakan sepanjang 2026. Pembangunan tersebut menjadi bagian dari upaya TNI membantu pemerintah daerah dalam membuka akses masyarakat, khususnya di wilayah yang membutuhkan konektivitas antardusun maupun antardesa.
Salah satu pembangunan yang telah selesai yakni jembatan di Desa Ngomelrejo pada Mei 2026. Pengerjaan jembatan tersebut berlangsung kurang lebih satu bulan.
Selanjutnya, jembatan beton di Desa Lau juga telah diselesaikan pada Juni 2026. Jembatan tersebut sebelumnya mengalami kerusakan dan kemudian dibangun kembali dengan konstruksi baru.
Kemudian Jembatan Merah Putih di Dukuh Kedungmojo, Desa Tanjungrejo, Kecamatan Jekulo, yang menghubungkan akses menuju Desa Klaling, diselesaikan pada Juli 2026. Jembatan beton lainnya di Jetis Kapuan juga telah rampung pada Agustus 2026.
“Selain yang sudah selesai, masih ada beberapa jembatan yang saat ini masih berproses,” kata Yusuufa dalam paparannya.
Salah satunya pembangunan jembatan di Desa Kaliwungu yang progres pekerjaannya telah mencapai sekitar 87 persen. Pembangunan tersebut ditargetkan segera rampung sehingga dapat dimanfaatkan masyarakat.
Sementara pembangunan jembatan di Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, saat ini telah mencapai sekitar 52 persen.
Tidak hanya pembangunan jembatan, jajaran Kodim 0722/Kudus juga menjalankan program penyediaan air untuk masyarakat melalui pembangunan sumur bor, irigasi, dan pipanisasi.
Program tersebut dinilai penting untuk membantu masyarakat menghadapi persoalan ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau berlangsung.
Untuk program sumur bor, pembangunan telah dilakukan di empat titik yang tersebar di tiga desa.
Selain sumur bor, jajaran Kodim juga mengembangkan sarana pendukung pertanian. Di Desa Gabungtidor, pembangunan dilakukan untuk mendukung kebutuhan air bagi lahan persawahan masyarakat.
Kemudian di Desa Menawan dilakukan program pipanisasi dengan memanfaatkan sumber air dari kawasan pegunungan.
Air dari sumber tersebut dialirkan menggunakan jaringan pipa menuju bak penampungan. Selanjutnya, air didistribusikan kepada masyarakat Desa Menawan.
Yusuufa menjelaskan, program tersebut diharapkan mampu membantu kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung sektor pertanian yang sangat bergantung pada ketersediaan air.
Salah satu pembangunan sumur bor lainnya berada di Desa Gondoharum. Terdapat dua titik sumur bor yang berada di sekitar areal persawahan dan telah diselesaikan pada 11 Agustus 2026.
Paparan tersebut menunjukkan pembangunan yang dilakukan jajaran TNI di Kabupaten Kudus tidak hanya berorientasi pada konektivitas wilayah melalui jembatan, tetapi juga menyentuh kebutuhan dasar masyarakat melalui penyediaan sumber air dan dukungan terhadap sektor pertanian.
Sementara itu, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Achiruddin Darojat mengatakan pembangunan jembatan merupakan bagian dari program Jembatan Garuda Merah Putih yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Menurutnya, pembangunan dilakukan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Setiap usulan akan disurvei untuk memastikan tingkat kebutuhan dan manfaat yang akan diterima masyarakat.
Hingga saat ini, Kodam IV/Diponegoro beserta jajaran telah menyelesaikan sekitar 311 jembatan di wilayah Jawa Tengah.
“Ke depan kami akan membangun minimal 100 lagi di seluruh Jawa Tengah,” ujar Achiruddin.
Ia menegaskan, pembangunan jembatan selanjutnya akan diprioritaskan bagi wilayah yang benar-benar membutuhkan, terutama jembatan yang menghubungkan dua desa atau wilayah yang selama ini belum memiliki akses penghubung yang memadai.
Pangdam juga menyampaikan program Manunggal Air menjadi bagian dari perhatian TNI, mengingat sejumlah wilayah saat ini menghadapi musim kekeringan.
Pengeboran sumur dilakukan di wilayah yang kesulitan mendapatkan sumber air. Air yang ditemukan kemudian dilengkapi dengan sarana penampungan dan jaringan distribusi untuk dapat dimanfaatkan masyarakat.
“Air adalah sumber kehidupan, hal yang vital buat masyarakat, buat manusia, harus bisa tersedia untuk masyarakat,” tegasnya.
Ditempat yang sama dalam sambutannya, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menyampaikan apresiasi atas dukungan TNI dalam pembangunan infrastruktur di Kabupaten Kudus.
Menurutnya, keberadaan jembatan sangat penting karena tidak hanya menghubungkan wilayah, tetapi juga mempermudah aktivitas anak sekolah, petani, serta masyarakat dalam menjalankan kegiatan ekonomi.
Ia mencontohkan, sebelum adanya jembatan, masyarakat harus menempuh perjalanan memutar sekitar 15 hingga 30 menit. Setelah jembatan dibangun, waktu perjalanan dapat dipangkas menjadi sekitar lima menit.
“Biasanya masyarakat itu mutar kurang lebih 15 sampai 30 menit, ini cuma lima menit,” ujar Sam’ani.
Menurutnya, efisiensi waktu tersebut juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat karena biaya perjalanan dapat ditekan dan hasil pertanian lebih mudah dibawa menuju lokasi pemasaran.
“Waktu adalah uang. Hemat biaya, hemat waktu. Jembatan memang sangat-sangat diperlukan karena jembatan menyatukan daerah yang tertutup dan menghubungkan dua jalan,” katanya.
Sam’ani berharap kolaborasi antara pemerintah daerah dan TNI dapat terus diperkuat, terutama dalam membuka akses wilayah pedesaan dan mendukung sektor pertanian yang masih menjadi salah satu sumber penghidupan utama masyarakat Kabupaten Kudus. (YM/YM)











