Kudus, isknews.com – Komunitas Kresek Indonesia (Kresek ID) terus menggalakkan edukasi pengelolaan sampah kepada pelajar di Kabupaten Kudus melalui program Kresek ID Goes to School.
Program yang dimulai sejak Maret 2026 tersebut menargetkan kunjungan ke 40 sekolah mulai tingkat SD, SMP hingga SMA di berbagai wilayah Kabupaten Kudus.
Kegiatan terbaru digelar di SD 1 Ngembal Kulon dengan melibatkan 59 siswa kelas IV dan V. Selain mendapatkan materi tentang pengelolaan sampah, para siswa juga diajak mempraktikkan daur ulang sampah plastik menjadi bros dan gantungan kunci.
Ketua Komunitas Kresek Indonesia Kudus, Faesal Adam (33), mengatakan kegiatan tersebut merupakan kunjungan ke-14 dari total 40 sekolah yang menjadi sasaran program sepanjang tahun ini.
“Target kami tahun ini 40 titik sekolah. Hari ini sudah masuk kunjungan ke-14. Program ini dimulai sejak Maret dan akan berlangsung hingga akhir tahun. Sekolah bisa memilih waktu pelaksanaan sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Menurut Faesal, kegiatan diberikan secara gratis kepada sekolah dengan tujuan meningkatkan kesadaran lingkungan sejak usia dini.
Materi yang disampaikan mencakup pengelompokan sampah, pemilahan sampah, hingga cara menanggulangi berbagai persoalan sampah di lingkungan sekitar.
“Setelah sosialisasi, kami lanjutkan dengan praktik daur ulang. Pilihannya bermacam-macam, ada membuat bros atau gantungan kunci dari sampah plastik, membuat kompos, ekoenzim, maupun ekobrik. Sekolah bisa memilih praktik yang ingin dilakukan,” jelasnya.
Ia menilai metode praktik langsung lebih efektif karena siswa dapat melihat bahwa sampah yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai manfaat.
“Anak-anak jadi tahu bahwa sampah itu tidak selalu harus dibuang. Dengan kreativitas, sampah bisa diolah menjadi barang yang bermanfaat. Itu yang ingin kami tanamkan kepada mereka,” katanya.
Faesal menjelaskan, sasaran utama program adalah generasi muda karena perubahan perilaku menjaga lingkungan dinilai lebih mudah ditanamkan sejak usia sekolah.
“Kami ingin mengedukasi anak-anak terlebih dahulu agar mereka tumbuh dengan kesadaran menjaga lingkungan. Harapannya, kebiasaan baik itu juga bisa mereka tularkan kepada orang tua, saudara, maupun teman-temannya,” ujarnya.
Menurutnya, tingkat pemahaman siswa yang mengikuti kegiatan sejauh ini cukup baik.
Antusiasme peserta juga tinggi karena kegiatan dikemas secara interaktif dengan menggabungkan teori dan praktik.
“Penerimaan dari sekolah maupun anak-anak alhamdulillah sangat bagus. Mereka lebih tertarik karena tidak hanya mendengarkan sosialisasi, tetapi langsung mempraktikkan cara mengolah sampah menjadi sesuatu yang berguna,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala SD 1 Ngembal Kulon, Dita Friska Pravita Sari, mengatakan pihak sekolah sengaja mengundang Kresek ID untuk memberikan pemahaman kepada siswa mengenai pentingnya pemilahan sampah.
Menurutnya, sekolah saat ini tengah mempersiapkan diri menuju sekolah Adiwiyata dan telah menyediakan fasilitas pemilahan sampah untuk mendukung program tersebut.
“Kami ingin anak-anak lebih memahami tentang pemilahan sampah. Selama ini kami sudah menyediakan tempat sampah terpilah, tetapi mereka perlu mendapatkan edukasi lebih lanjut mengenai sampah plastik, sampah organik, cara daur ulang, hingga upaya pengurangan sampah,” katanya.
Kegiatan tersebut diikuti 29 siswa kelas IV dan 30 siswa kelas V. Pemilihan peserta dari kelas tinggi dilakukan karena siswa dinilai lebih siap mengikuti praktik pembuatan kerajinan dari bahan daur ulang.
“Kalau kelas IV dan V sudah lebih siap diajak membuat kerajinan seperti bros atau gantungan kunci. Kalau kelas bawah mungkin lebih cocok diberikan penyuluhan terlebih dahulu,” ujarnya.
Dita berharap kegiatan tersebut dapat mendukung program lingkungan yang sedang dijalankan sekolah sekaligus membangun kesadaran siswa untuk membuang dan memilah sampah dengan benar.
“Permasalahan sampah saat ini menjadi perhatian semua pihak. Karena itu kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada anak-anak agar mereka terbiasa membuang sampah pada tempatnya dan memahami cara mengelola sampah dengan baik,” katanya.
Menurutnya, dampak kegiatan tidak akan langsung terlihat dalam waktu singkat. Namun pihak sekolah akan terus memantau perubahan perilaku siswa setelah mendapatkan edukasi tersebut.
“Kami akan melihat bagaimana sikap anak-anak setelah mendapatkan penyuluhan ini. Apakah mereka sudah benar-benar memahami tempat sampah yang sesuai dan mulai membiasakan diri memilah sampah dengan benar,” ujarnya.
Salah satu peserta, Chelsea (11), siswa kelas V SD 1 Ngembal Kulon, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut.
Selain mendapatkan pengetahuan baru tentang pengelolaan sampah, ia juga bisa belajar membuat kerajinan dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna.
“Saya senang karena jadi tahu cara memilah sampah dan cara memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang bermanfaat. Tadi juga seru bisa membuat gantungan kunci bersama teman-teman,” katanya.
Melalui program Kresek ID Goes to School, diharapkan semakin banyak pelajar di Kabupaten Kudus yang memahami pentingnya pengelolaan sampah serta mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. (YM/YM)











