Kudus, isknews.com – Dari balik dapur sederhana milik Supriadi, lahir sebuah produk minuman herbal tradisional yang kini tersebar di lebih dari 70 warung di sekitar Kudus. Kunir Asem Muria adalah hasil ketekunan dan eksperimen mandiri Supriadi sejak tahun 2015
Awalnya, Supriadi adalah pedagang perabotan rumah tangga yang meracik minuman kunyit asam sebagai hobi.
“Dulu buat cuma mengisi waktu luang, awalnya diajak orang tapi lama-lama saya mikir, kenapa nggak bikin sendiri?,” kenangnya.
Ia kemudian memutuskan untuk mengembangkan produk ini menjadi usaha yang lebih serius. Dengan proses produksi yang masih tradisional dan tanpa tambahan pewarna atau pengawet buatan, Kunir Asem Muria menawarkan rasa asam segar dan khas kunyit.
Awalnya, produk ini ia beri nama Kunir Asem Priadi. Tapi karena terdengar kurang menarik, dan menurut temannya seperti plesetan nama burung kecil (emprit), ia memutuskan menggantinya menjadi Kunir Asem Muria, yang terdengar lebih lokal, kuat, dan mudah diingat.
“Awalnya saya beri nama kunir asem priadi, tapi kata teman saya priadi itu plesetan dari burung emprit, kecil, dan kesannya jadi kurang meyakinkan buat merek dagang,” ujar Supriadi.
Dalam seminggu, Supriadi menjadwalkan dua kali produksi. Prosesnya masih sangat tradisional: kunyit direbus lalu digiling, dicampur dengan bahan alami lain seperti asam dan gula, dan direbus lagi hingga matang. Tidak ada tambahan pewarna, tidak pula pengawet buatan. Hasilnya adalah minuman alami dengan rasa asam segar dan khas kunyit.
Setiap kali produksi, Supriadi bisa menghasilkan sekitar 100 botol, yang langsung ia distribusikan sendiri ke warung-warung. “Saya biasa setorkan jam dua siang. Satu warung saya kasih 10 botol. Kalau ada warung dapat, ya saya lanjut produksi lagi,” ujarnya.
Harga jual dari rumah produksinya adalah Rp7.000, sementara di warung bisa lebih, tergantung lokasi.
Yang membedakan Kunir Asem Muria dari produk sejenis adalah daya tahan dan khasiatnya. Selain bertahan hingga dua bulan di suhu ruangan, minuman ini dipercaya membantu melancarkan siklus haid, menjaga pencernaan, dan meningkatkan stamina tubuh.
Meski hanya dibantu oleh istri dan anaknya, Supriadi tidak merasa kewalahan. Ia belum berencana untuk memperbesar skala produksi, karena menurutnya, permintaan dari pelanggan yang ada saat ini masih bisa ia kelola.
“Saya tetap utamakan kualitas. Yang penting orang puas, dan produk saya bisa terus jalan,” kata Supriadi dengan penuh semangat.
Ia berharap suatu saat Kunir Asem Muria bisa menjangkau lebih luas, tanpa kehilangan rasa khasnya. Dengan semangat dan tekad yang kuat, ia terus berusaha untuk mempertahankan kualitas produknya dan memenuhi permintaan pelanggan. (Isna)







