Lesbumi Kudus Ajak Warga Jaga Budaya dan Ekologi lewat Pelepasan Burung

oleh -632 Dilihat
Prosesi pelepasan burung oleh Lesbumi Kudus di Situs Patiayam menjadi pesan harmoni antara budaya, sejarah, dan ekologi pada peringatan HUT ke-476 Kabupaten Kudus.

Kudus, isknews.com – Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdlatul Ulama Kudus mengajak masyarakat untuk menjaga budaya sekaligus kelestarian lingkungan melalui prosesi pelepasan burung di kawasan Situs Patiayam, Desa Terban, Kecamatan Jekulo, Selasa (23/9/2025). Kegiatan ini menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-476 Kabupaten Kudus.

Jajaran pengurus Lesbumi bersama Pemerintah Desa Terban melepasliarkan 4 burung dekuku dan 76 burung perkutut. Aksi tersebut sebagai simbol harapan sekaligus ajakan merawat ekosistem alam.

Ketua Lesbumi Kudus, Abu Hasan Asy’ari, menuturkan, pelepasan burung menjadi pengingat bahwa kebudayaan dan alam saling berkaitan erat. “Kami ingin menunjukkan bahwa peringatan hari jadi Kudus tidak hanya dimaknai sebatas perayaan seremonial, tetapi juga sebagai momentum merawat lingkungan yang menjadi ruang hidup masyarakat,” ujarnya.

Pelepasan burung dilakukan di tengah panorama Patiayam yang menyimpan jejak purbakala sekaligus menjadi bagian penting dari identitas Kudus. Momentum ini, imbuh Abu, menegaskan komitmen budayawan dan masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara budaya, sejarah, dan kelestarian alam.

Senada, Kepala Desa Terban, Supeno, menyampaikan pesan agar masyarakat Kudus tidak melupakan akar budayanya. “HUT ke-476 ini harus kita maknai dengan menjaga adab, adat, dan budaya. Karena dari situlah karakter masyarakat Kudus terbentuk,” katanya.

Menurut Supeno, selain sebagai simbol spiritual, pelepasan burung juga diharapkan menjadi pengingat akan pentingnya menjaga keberlanjutan lingkungan. “Tradisi akan kehilangan makna jika alam di sekitarnya rusak. Karena itu, kalau merawat budaya sama artinya dengan keharusan menjaga alam,” tambahnya.

Situs Patiayam sendiri merupakan kawasan perbukitan yang sejak lama dikenal menyimpan kekayaan arkeologis. Penelitian menemukan fosil gajah purba, banteng, hingga hewan laut yang menandakan kawasan ini pernah menjadi bagian dari bentang alam jutaan tahun lalu. Kini, Patiayam berkembang menjadi pusat edukasi dan wisata berbasis sejarah yang memperkaya identitas Kudus sebagai kota dengan warisan budaya sekaligus ilmu pengetahuan.

Melalui kegiatan tersebut, Supeno berharap Kabupaten Kudus dapat melangkah ke masa depan dengan tetap berpijak pada warisan budaya dan kearifan lokal. Ia juga menekankan adanya langkah konkret untuk pemulihan ekologi di kawasan Patiayam agar semakin asri dan kaya vegetasi.

“Kudus adalah rumah bersama, tugas kita adalah merawatnya agar tetap hidup, lestari, dan memberi makna bagi generasi mendatang,” ujar Supeno. (AS/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :