KUDUS, ISKNEWS.COM – SD 3 Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, mengembangkan sudut baca di dalam kelas menjadi ruang belajar interaktif melalui inovasi Badut Sinis atau Bermain Asyik di Sudut Literasi Numerasi Kelas. Konsep tersebut memadukan aktivitas membaca, berhitung, permainan hingga teknologi digital dalam kegiatan belajar siswa.
Inovasi tersebut dikembangkan oleh guru SD 3 Jepang, Deviana Intan Gadys Permata Hati, S.Pd., M.Pd. Praktik baik itu kemudian dibagikan kepada sekitar 60 guru dan kepala sekolah di Gugus Diponegoro Sabtu, Sabtu (26/9/2026), sebagai inspirasi untuk mengoptimalkan fasilitas sederhana yang tersedia di ruang kelas.
Kepala SD 3 Jepang Eko Mardiana menyambut baik pengembangan dan penyebarluasan praktik tersebut. Menurutnya, kreativitas dalam memanfaatkan lingkungan sekolah dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih nyaman sekaligus sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
“Harapannya kegiatan ini bisa menjadi inspirasi bagi guru untuk memanfaatkan lingkungan dan sumber daya yang tersedia secara kreatif sehingga pembelajaran menjadi nyaman, efektif, serta berpusat pada peserta didik,” ujarnya.
Gadys menjelaskan, gagasan Badut Sinis muncul setelah sekolah melakukan refleksi terhadap kemampuan literasi dan numerasi peserta didik. Kondisi capaian numerasi yang masih perlu diperkuat mendorongnya mencari pendekatan pembelajaran yang lebih dekat dengan keseharian dan karakter anak.
Menurutnya, kemampuan literasi dan numerasi tidak harus selalu dibangun melalui pembelajaran yang formal. Anak juga membutuhkan kesempatan untuk membaca, memahami informasi, berhitung, memecahkan persoalan, sekaligus bermain.
“Anak perlu mendapatkan ruang untuk membaca, memahami informasi, berpikir, berhitung, memecahkan masalah, sekaligus bermain. Karena itu, sudut baca yang sudah ada kami kembangkan menjadi ruang belajar yang lebih hidup dan menyenangkan,” kata Gadys.
Ia menambahkan, literasi dan numerasi saling berkaitan. Kemampuan memahami bacaan dan informasi menjadi bekal penting bagi anak ketika harus menyelesaikan persoalan yang membutuhkan kemampuan berhitung maupun penalaran.
Dalam penerapannya, Badut Sinis tidak membutuhkan ruang khusus. Sudut baca yang sebelumnya telah tersedia di masing-masing kelas dimanfaatkan dengan menambahkan berbagai bahan bacaan, permainan ular tangga, aktivitas literasi-numerasi, hingga permainan digital yang dapat diakses menggunakan kode QR.
Melalui konsep tersebut, kegiatan belajar dibuat lebih variatif. Siswa dapat membaca buku, bermain bersama teman, berdiskusi, menyelesaikan tantangan berhitung, hingga menggunakan perangkat digital dalam satu rangkaian aktivitas.
“Ketika anak bermain, sebenarnya mereka juga sedang membaca, memahami instruksi, menghitung, mengambil keputusan, dan mencari solusi. Jadi aktivitas bermain itu tetap menjadi bagian dari proses belajar,” jelas Gadys.
Penerapan Badut Sinis mendapat respons positif dari siswa. Avida, siswi kelas VI SD 3 Jepang, mengaku menikmati kegiatan tersebut karena bisa belajar sekaligus bermain bersama teman-temannya.
“Saya senang dengan adanya Badut Sinis. Saat istirahat saya bisa bermain ular tangga sambil belajar literasi dan numerasi bersama teman-teman. Seru,” ungkapnya.
Hal serupa dirasakan Riski, siswa kelas VI. Ia menilai keberadaan permainan digital melalui kode QR membuat kegiatan numerasi terasa lebih menarik dibandingkan hanya mengerjakan soal secara konvensional.
“Saya yang biasanya tidak suka mengerjakan soal matematika jadi suka. Di Badut Sinis ada kode QR untuk permainan digital literasi dan numerasi. Jadi bisa bermain sambil belajar menggunakan HP,” tuturnya.
Inovasi tersebut juga mendapat tanggapan positif dari guru yang mengikuti kegiatan berbagi praktik baik. Putri Yourdamarta Adinda Meychilla Permatasari, S.Pd., M.Pd., guru SD 3 Gulang, Kecamatan Mejobo, menilai konsep tersebut menunjukkan bahwa sarana sederhana di kelas dapat dimanfaatkan menjadi media pembelajaran yang menarik.
“Saya sangat mengapresiasi praktik baik ini. Saya juga mendapatkan inspirasi dan berencana menerapkannya di kelas saya,” ujarnya.
Dukungan terhadap inovasi tersebut turut disampaikan orang tua siswa. Rina Sulistriyani, orang tua Bagas, siswa kelas VI SD 3 Jepang, mengatakan anaknya menjadi lebih antusias mengikuti aktivitas di sekolah sejak adanya Badut Sinis.
Menurut Rina, anaknya kerap menceritakan kegiatan yang dilakukan di sudut baca tersebut ketika berada di rumah, mulai dari bermain ular tangga, mencoba permainan digital, hingga membaca buku.
“Dengan adanya Badut Sinis, anak saya menjadi lebih semangat sekolah. Di rumah dia sering bercerita tentang kegiatan bermain dan belajar di sana. Menurut saya, anak jadi bisa belajar literasi dan numerasi dengan cara yang menyenangkan,” katanya.
Gadys mengatakan berbagai respons tersebut menjadi bahan evaluasi untuk terus mengembangkan Badut Sinis. Menurutnya, penguatan kemampuan literasi dan numerasi tidak selalu membutuhkan fasilitas baru atau biaya besar.
Pemanfaatan lingkungan belajar yang sudah tersedia, kata dia, dapat menjadi langkah sederhana untuk menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan karakter peserta didik.
“Yang terpenting bukan hanya membuat sudut baca terlihat menarik, tetapi bagaimana ruang tersebut dapat mendorong anak membaca, berpikir, berhitung, berkomunikasi, dan belajar bersama,” jelasnya.
Ia berharap praktik Badut Sinis dapat terus dikembangkan dan menjadi inspirasi bagi guru lain untuk memanfaatkan sudut-sudut sederhana di kelas sebagai ruang pembelajaran yang aktif dan menyenangkan.
Dengan konsep tersebut, sudut baca SD 3 Jepang kini tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan koleksi buku. Area tersebut berkembang menjadi ruang interaksi dan belajar yang memadukan aktivitas literasi, numerasi, permainan, serta teknologi digital. (AS/YM)






