Kudus, isknews.com – Momen libur panjang lebaran dimanfaatkan warga untuk berziarah ke makam Sunan Kudus, Kamis (29/6). Jumlah peziarah membludak dari hari biasanya.
Selain memanfaatkan libur panjang lebaran yang menjadi salah satu alasannya untuk berwisata religi, para peziarah juga kebetulan mengunjungi sanak saudara yang ada di Kudus, seperti halnya Fauzi saat ditemui isknews.com (29/6). pria asal Jakarta itu mengaku mengunjungi Kudus setiap satu tahun sekali waktu mudik, “maklum mas, kerjaan saya di Jakarta menuntut saya datang ke kampung halaman tiap lebaran, jika kangen,hanya bisa lewat komunikasi telepon atau video call,”ujarnya
Terpisah, M. Iskhaq S, juru kunci sekaligus penjaga makam Sunan Kudus mengungkapkan, pengunjung membludak sejak H+2 lebaran, atau mulai senin (26/6/2017). Hal itu dibuktikan dengan data tertulis dari para rombongan yang ada di buku tamu.
Dikatakan Iskhaq, para peziarah dari berbagai daerah memanfaatkan momentum libur panjang lebaran kali ini untuk berziarah. Tercatat dari tanggal 26 sebanyak 50 rombongan, tanggal 27 sebanyak 70 rombongan, tanggal 28 sebanyak 120 rombongan dan terakhir tanggal 29 sebanyak 140 rombongan peziarah. “Diperkirakan puncak peziarah terjadi pada Jum’at besok hingga H+7 lebaran,” ungkapnya
Dirinya menambahkan, data tersebut biasanya yang mengisi yakni ketua atau perwakilan rombongan, jika dari peziarah perseorangan yang menulis di data relatif kecil, “Selain dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa, juga ada yang datang dari luar Jawa, seperti daerah Sumatera, Kalimantan dan lainnya,” imbuhnya
Terlebih, makam Sunan Kudus salah satu tempat wisata religi Walisongo yang paling mudah dijangkau. ”Yang datang tidak hanya warga lokal, namun manca negara seperti Singapura dan Malaysia. Mereka rutin datang di waktu tertentu, seperti menjelang Ramadhan, bulan Syawal atau Dhulhijjah dan bulan Muharram (buka luwur),” jelasnya.
Dia berharap peziarah terus berdatangan. Selain mengunjungi makam wali, kedatangan peziarah untuk meramaikan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sekitar Menara maupun yang ada di terminal Bakalan Krapyak. ”Tukang foto di Menara juga ramai digunakan jasanya,” paparnya.
Haris (32), salah satu tukang foto mengaku, dapat keuntungan berlipat dari biasanya, satu kali potret Rp 10 ribu. Dalam sehari dia mampu memotret hingga 15 kali. Jika pengunjung banyak, dia mampu memotret hingga 40 kali bahkan lebih. ”Ini lumayan untuk menambah keuntungan,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Qodir, tukang becak yang biasa mangkal di sekitar Menara mengaku mampu membawa 15 hingga 20 penumpang. Semenjak libur panjang lebaran kali ini pendapatnya bertambah. ”Bisa sampai 30 hingga 40 kali menarik becak,” ujarnya. (AJ)






