KUDUS, ISKNEWS.COM – Distribusi air bersih dari program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (PAMSIMAS) yang tak lancar selama lima bulan membuat 147 rumah di Dukuh Magersari RW 08, Desa Karangmalang, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, mengeluh. Warga pun mendatangi Balai Desa Karangmalang untuk menyampaikan persoalan tersebut dan meminta solusi konkret, Senin (26/10/2026).
Audiensi tersebut dihadiri Kepala Desa Karangmalang, Masyhuri, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Karangmalang, Ali Mahfud, serta tim teknis pengelola PAMSIMAS setempat. Pertemuan itu membahas gangguan distribusi air yang menghambat pemenuhan kebutuhan sehari-hari warga.
Ketua RW 08 Karangmalang, Rido Junaidi, mengatakan gangguan paling parah dirasakan warga RT 02 dan RT 04. Air kerap tidak mengalir pada pagi hingga sore hari. Warga baru bisa menikmati aliran yang relatif normal pada malam hari, bahkan terkadang harus menunggu hingga pukul 22.00 sampai 00.00 WIB.
“Sudah sekitar lima bulan air tidak lancar. Pagi sampai sore biasanya tidak mengalir, sedangkan malam baru normal. Bahkan, terkadang warga harus menunggu sampai pukul 22.00 hingga 00.00 WIB,” ujar Rido.
Menurutnya, gangguan tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci, memasak, hingga kebutuhan lainnya. Kondisi semakin menyulitkan warga yang tidak memiliki sumur pribadi maupun tempat penampungan air berkapasitas besar.
RW 08 terdiri atas empat RT. Namun, gangguan paling parah dilaporkan terjadi di RT 02 dan RT 04. Di sejumlah rumah, air bahkan tidak mengalir hingga ke tempat penampungan. Padahal, PAMSIMAS telah lama menjadi sumber air bersih masyarakat dengan tarif yang relatif terjangkau.
Warga juga mempertanyakan distribusi air yang dinilai tidak sebanding dengan posisi wilayah mereka. Kawasan Dukuh Magersari RW 08 yang berada di wilayah menara penampungan (tower) dinilai seharusnya mendapatkan suplai air lebih besar. Namun, kenyataannya, aliran air justru kerap tersendat, terutama pada pagi hingga sore hari.
Tarif air yang dibayarkan warga sekitar Rp1.500 per meter kubik, ditambah biaya abonemen Rp10.000 per bulan. Rido berharap audiensi tersebut menghasilkan langkah nyata agar distribusi air kembali lancar dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi.
“Kami tidak menyalahkan siapa pun. Harapan kami sederhana, air bisa mengalir lancar sehingga warga dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tegasnya.
Kepala Desa Karangmalang, Masyhuri, mengatakan pemerintah desa telah menerima aspirasi masyarakat dan meminta pengelola PAMSIMAS di bawah BUMDes segera menindaklanjuti keluhan tersebut. Pemeriksaan teknis diperlukan untuk memastikan penyebab gangguan, baik yang berasal dari pompa, sumur, maupun jaringan distribusi air.
“Pengelola harus segera mengecek sumber masalahnya. Jika kendalanya pada pompa, segera diperbaiki. Kalau jaringan perlu ditata ulang, harus segera ditangani,” ujar Masyhuri.
Ia menambahkan, pemerintah desa telah mengusulkan pembangunan sumur PAMSIMAS baru sebagai upaya jangka panjang untuk meningkatkan ketersediaan air bersih. Selain itu, kapasitas layanan perlu disesuaikan dengan jumlah pelanggan agar distribusi air dapat berjalan optimal.
Sementara itu, Direktur BUMDes Karangmalang, Ali Mahfud, mengatakan pihaknya telah melakukan pemeriksaan teknis setelah menerima keluhan warga. Gangguan diduga berkaitan dengan masalah pada komponen pompa atau sibel di sumur PAMSIMAS. Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang juga diduga memengaruhi ketersediaan air.
Ali meyakinkan warga bahwa penanganan gangguan distribusi air tidak akan ditunda. Ia memastikan tim teknis pengelola PAMSIMAS akan bergerak pada Senin (26/10/2026) untuk menindaklanjuti persoalan tersebut dan melakukan perbaikan sesuai hasil pemeriksaan di lapangan.
“Kami pastikan tidak ada penundaan. Hari ini juga tim teknis akan bergerak untuk menangani keluhan warga. Kami berharap langkah ini bisa segera memperbaiki distribusi air sehingga kebutuhan masyarakat kembali terpenuhi,” tegas Ali.
Sebagai langkah perbaikan, BUMDes berencana mengganti pompa berdaya 3 HP (horsepower) menjadi 4 HP. Pompa sebelumnya dinilai belum optimal untuk mendukung distribusi air kepada pelanggan. Pembelian pompa baru direncanakan pada Senin siang atau sore setelah pemeriksaan teknis di lapangan.
Warga kini menantikan realisasi perbaikan tersebut. Mereka berharap penggantian pompa dan pemeriksaan jaringan distribusi benar-benar mampu mengatasi persoalan yang telah berlangsung selama lima bulan, sehingga air kembali mengalir lancar pada pagi hingga sore hari.
“Kami berharap setelah perbaikan, air benar-benar bisa mengalir normal dan mencukupi kebutuhan warga. Bagi kami, air bersih merupakan kebutuhan pokok yang harus tersedia setiap hari,” pungkas Rido. (YM/YM)










