Long March Warga Kendeng : Ibu Bumi Wis Maringi, Ibu Bumi Dilarani, Ibu Bumi Kang Ngadli

oleh -1,172 kali dibaca

Pati, isknews.com – Ratusan warga di sekitar pegunungan kendeng yang menamakan dirinya JMPPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) lakukan long march sejauh kurang lebih 20 Km  dari Dukuh Ngerang, Desa Tambakromo, Kecamatan Tambakromo menuju Pendopo Kabupaten Pati, Kamis (19/5), menuju Alun – alun simpang lima Pati. Para peserta longmarch berjalan dengan membawa obor, sehingga pada malam tersebut nampak seperti lautan obor yang beririn-iringan menuju pusat Kabupaten Pati.

Para peserta aksi berkumpul di Komplek Makam Nyai Ageng Ngerang Desa Tambakromo Kecamatan Tambakromo Paati dengan rue yang dilewati meliputi, Komplek makam Nyai Ageng Ngerang – Jl. Tambakromo melewati Mapolsek Tambakromo – Pertigaan Pasar Gabus –  Ngantru – Terminal Pati – Perempatan Sleko Terminal Pati – Pertigaan Jl. Pemuda – Finish (Alun – Alun Pati simpang lima Pati). Tujuan akhr dari kegiatan aksi long march adalah audiensi dengan DPRD Kabupaten Pati

Tak hanya untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2016, dalam aksi tersebut juga sekaligus menuntut agar pendirian pabrik semen di pegunungan Kendeng dibatalkan. Mereka membawa obor dan melantunkan tembang geguritan berbalut tahlil. “Ibu bumi wis maringi. Ibu bumi dilarani. Ibu bumi kang ngadili. La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah…” Begitu lantunan geguritan Jawa berbalut tahlil yang artinya, “Ibu bumi sudah memberi. Ibu bumi disakiti. Ibu bumi yang mengadili.”

Menurut salah seorang peserta longmarch Noya, yang adalah Mahasiswa Antropologi UGM asal Yogya, dirinya bergabung dengan para peserta aksi sebagai bentuk rasa simpati mereka kepada warga Kendeng yang berusaha mempertahankan bumi mereka dari tangan kapitalisme berkemas industrialisasi yang menurut mereka akan merusak tanah mereka, “Kebetulan saya lagi melakukan penelitian antropologi tentang warga Pati, dan saya seperti merasakan apa yang mereka prihatinkan sekarang ni terhadap bumi yang di pijknya,” kata Noya.

Sementara itu ketua JMPPK Gunretno mengatakan, pertambangan semen di Kendeng sebagai kawasan karst menyebabkan distribusi air terputus sehingga menyebabkan mata air hilang. Padahal, kasrt memiliki jaringan gua sebagai “pipa” air alami yang menghubungkan zona resapan, zona simpanan dan mata air yang penting bagi masyarakat. Kami ingin beraudiensi dan memberikan masukan kepada DRPD Kab. Pati untuk merevisi Perda tata ruang dan tata wilayah Kab. Pati tahun 2010 khususnya agar mengembalikan fungsi pegunungan kendeng sebagai kawasan karst yang dilindungi,” katanya.

Secara terpisah, menanggapi hal itu, Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk Christian Kartawijaya mengatakan, investasi pabrik PT Indocement terbaru di Pati dipastikan meningkatkan ketahanan air di area pabrik, tambang dan wilayah sekitarnya. Investasi melalui anak perusahaannya, PT Sahabat Mulia Sakti (SMS) justru akan memberikan tambahan air bagi masyarakat sekitar, lebih dari 600 ribu meter kubik per tahun. Kelebihan tersebut diperoleh dari pembangunan infrastruktur “dam” dan “embung” sebagai tadah hujan yang menampung limpahan banjir Sungai Juwana. Daya tampungnya diperkirakan mencapai volume 2,1 juta meter kubik per tahun. “Sebuah kebohongan besar bila ada pabrik semen, kemudian air jadi habis. Kami tidak pernah melakukan aktivitas penambangan di area yang ada mata airnya. Pabrik semen hanya membutuhkan air dalam jumlah sedikit, karena produksinya dry-process. Airnya pun tidak akan diambil dari mata air. Inilah yang membedakan kami dengan penambang liar,” ujarnya.

Para peserta aksi disamping berjalan kaki ada beberapa yang mengendarai mobil bak terbuka dan truk, bahkn tidak jarang para ibu-ibu peserta aksi yang long march sambil menggendong anaknya, Sesampai di Alun – Alun Pati para peserta aksi melakukan doa bersama  tengah malam dan rencananya paginya akan melakukan kegiatan audieni dengan DRPD Kabupaten Pati. (YM)

 

KOMENTAR SEDULUR ISK :