Meriah, Kirab Lentog Tanjung Hadirkan Kostum Jadul hingga Jajanan Tradisional Gratis

oleh -995 Dilihat
Ratusan warga Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus, mengikuti Kirab Lentog Tanjung bertema “Tanjungkarang Tempo Doeloe”, Minggu (7/6/2026). Peserta tampil dengan kostum jadul, membawa jajanan tradisional, serta menampilkan berbagai kesenian rakyat sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mempromosikan kuliner khas lentog dan produk UMKM lokal. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Suasana meriah menyelimuti Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, saat ratusan warga mengikuti Kirab Lentog Tanjung bertajuk “Tanjungkarang Tempo Doeloe”, Minggu (7/6/2026). Beragam kostum bernuansa zaman dulu, jajanan tradisional yang dibagikan gratis, hingga aneka pertunjukan rakyat menjadi daya tarik utama dalam kegiatan budaya tersebut.

Sekitar 700 peserta terlibat dalam kirab yang melibatkan tujuh RW, pelajar, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta berbagai unsur warga lainnya. Sepanjang perjalanan kirab, masyarakat tampak antusias menyaksikan berbagai atraksi yang ditampilkan peserta.

Kepala Desa Tanjungkarang, Sumarno, mengatakan tema “Tanjungkarang Tempo Doeloe” sengaja diangkat untuk mengajak masyarakat mengenang perjalanan desa dari masa ke masa sekaligus menumbuhkan penghargaan terhadap perjuangan para pendahulu.

Menurutnya, perkembangan yang dirasakan desa saat ini tidak terlepas dari jasa generasi sebelumnya yang telah meletakkan fondasi pembangunan. Karena itu, masyarakat perlu menjaga nilai-nilai baik yang diwariskan sembari terus melakukan perbaikan terhadap hal-hal yang masih kurang.

“Melalui tema ini kami ingin mengingat kembali perjalanan masa lalu desa. Harapannya masyarakat bisa melakukan refleksi, mempertahankan yang sudah baik, memperbaiki yang kurang, dan tetap menghormati jasa para pendahulu,” ujarnya.

Ia menjelaskan, hampir seluruh peserta menyesuaikan penampilannya dengan konsep tempo dulu. Selain mengenakan pakaian jadul, peserta juga membawa beragam makanan tradisional yang kemudian dibagikan kepada masyarakat secara cuma-cuma.

Tidak hanya menjadi ajang hiburan, kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk memperkenalkan produk-produk kuliner buatan warga setempat. Dengan begitu, kirab menjadi sarana pemberdayaan ekonomi sekaligus promosi produk UMKM desa.

Sumarno menilai pelaksanaan kirab pada siang hari memberikan suasana berbeda dibanding tahun sebelumnya yang digelar malam hari. Waktu pelaksanaan tersebut dinilai membuat partisipasi pelajar semakin terlihat dan menambah semarak acara.

“Kalau siang hari keterlibatan anak-anak sekolah lebih tampak. Mereka bisa ikut tampil dan berpartisipasi langsung sehingga suasana kirab menjadi lebih ramai,” katanya.

Berbagai kesenian dan hiburan turut memeriahkan kegiatan tersebut, mulai dari barongsai, drumband, arak-arakan bakul lentog, permainan tradisional, hingga tarian daerah. Penampilan yang beragam itu sukses menarik perhatian ribuan warga yang memadati jalur kirab.

Selain menjaga tradisi budaya, kegiatan ini juga memberi dampak positif bagi perekonomian masyarakat. Jajanan tempo dulu yang dibagikan kepada pengunjung merupakan hasil produksi warga Desa Tanjungkarang yang selama ini menjalankan usaha kuliner tradisional.

Saat ini, Desa Tanjungkarang tercatat memiliki sekitar 152 pelaku UMKM lentog. Pemerintah desa pun berencana mengembangkan kegiatan serupa secara rutin sebagai upaya memperluas pemasaran produk unggulan desa.

“Kami berkeinginan menghadirkan agenda kuliner jadul setiap bulan. Selain untuk melestarikan budaya, kegiatan itu juga bisa menjadi sarana promosi bagi UMKM lentog yang ada di desa,” ungkap Sumarno.

Camat Jati, Muhammad Zainuddin, memberikan apresiasi atas penyelenggaraan kirab tersebut. Ia menilai perpaduan antara kegiatan budaya dan promosi kuliner khas daerah memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi daya tarik wisata baru di Kabupaten Kudus.

“Ini merupakan kegiatan yang sangat positif. Selain melestarikan budaya, juga dapat memperkenalkan lentog kepada masyarakat yang lebih luas dan berpotensi menjadi destinasi wisata budaya maupun kuliner,” tuturnya.

Sementara itu, Abdul (25), salah seorang warga yang menyaksikan kirab, mengaku terhibur dengan berbagai pertunjukan yang disuguhkan. Menurutnya, acara tahunan tersebut selalu dinantikan karena menghadirkan suasana meriah sekaligus mengenalkan jajanan tradisional kepada generasi muda.

“Banyak hiburan menarik dan jajanan jadul yang bisa dinikmati gratis. Kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena mendukung UMKM sekaligus menjadi tontonan yang menghibur masyarakat,” katanya. (AS/YM))