Kudus, isknews.com – Pengalaman menikmati Kopi Turki dengan harga ramah di kantong kini bisa dirasakan di kawasan Lereng Pegunungan Muria, tepatnya di Pijar Park. Dengan kisaran harga Rp7 ribu hingga Rp10 ribu per cangkir, pengunjung sudah dapat menyeruput kopi hangat yang diracik menggunakan metode tradisional di atas pasir panas.
Suasana pegunungan yang sejuk semakin melengkapi sensasi menikmati minuman khas Timur Tengah tersebut. Uap kopi yang mengepul berpadu dengan udara dingin khas Muria menciptakan pengalaman berbeda bagi para wisatawan yang datang.
Tak sekadar menyajikan minuman, pengelola juga menghadirkan atraksi langsung proses penyeduhan yang jarang ditemui di kedai kopi pada umumnya. Pengunjung dapat menyaksikan barista menyiapkan kopi menggunakan teknik khas yang sudah dikenal sejak ratusan tahun lalu.
Prosesnya dimulai dengan memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkir, lalu disiram air mendidih. Cangkir tersebut kemudian diputar perlahan di atas hamparan pasir panas dengan arah berlawanan jarum jam. Teknik ini dilakukan dengan penuh ketelitian agar suhu tetap stabil.
Dalam waktu kurang lebih lima menit, kopi akan mendidih dan siap diangkat. Pemanasan dilakukan hingga tiga kali untuk memunculkan aroma kuat serta cita rasa pekat yang menjadi ciri khas Kopi Turki. Metode seduh pasir panas sendiri dikenal sebagai salah satu teknik penyeduhan kopi tertua di dunia.
Selain varian original, tersedia pula pilihan racikan dengan campuran santan dan rempah-rempah. Sentuhan lokal tersebut menghadirkan rasa unik yang tetap mempertahankan karakter dasar Kopi Turki.
Tiga menu andalan yang ditawarkan yakni Kopi Turki original, Kopi Turki rempah, serta Kopi Turki santan. Seluruhnya diolah menggunakan biji kopi lokal Muria dengan tingkat roasting medium agar menghasilkan rasa lebih kuat dan pahit yang seimbang.
CEO Pijar Park Coffee and Eatery, Pujiharto yang akrab disapa Atok, menuturkan bahwa ide menghadirkan Kopi Turki berawal dari pengalamannya saat mengikuti pameran di Libya, Afrika Utara. Ia melihat metode seduh tradisional menggunakan pasir panas dan teko tembaga bergagang panjang atau cezve (ibrik) yang banyak digunakan pelaku usaha kopi di sana.
“Saya tertarik dengan cara penyeduhan khas Timur Tengah itu, lalu mencoba menerapkannya di sini dengan tetap menyesuaikan bahan baku lokal. Dalam sehari, kami bisa menyajikan hingga 150 cangkir Kopi Turki kepada pengunjung,” ujarnya, Minggu. (AS/YM)







