Nitisemito Sudah Sewa Pesawat Untuk Promo Rokok “Bal Tiga” di Tahun 1922

oleh -823 kali dibaca

Kudus, isknews.com – Betapa kayanya pengusaha kretek asal Kudus Nitisemito saat itu. Sebab antara tahun 1922 hingga 1941 dalam buku catatan jurnal keuangan Perusahaan Rokok Bal Tiga miliknya, tercatat pernah menyewa sebuah pesawar jenis Fokker untuk menyebarkan leaflet produk iklan rokoknya.

Hal itu terungkap saat dilakukan seminar pengkajian atas buku berjumlah 3 buah yang ditemukan oleh orang Belanda di sebuah pasar antik yang kini telah disimpan di Museum Kretek Kudus dan telah dilakukan pengkajian oleh tim Museum Jawa Tengah “Ronggowarsito” pada pekan lalu serta diseminarkan di Hotel @Hom Kudus, Sabtu (25/10/2020).

Suasana seminar dan kajian buku Jurnal Nitisemito (Foto: YM)

Pada seminar yang menghadirkan narasumber  Kasi Pelestarian Museum Jawa Tengah “Ronggowarsito” Laela Nurhayati Dewi, Yudhi Ernawan (wakil keluarga Nitisemito) serta Kasubbid Akuntansi Pemerintahan dan Sosial Budaya pada BPPKAD kabupaten Kudus, Adha Elizabeth, menyatakan bahwa ktiga buku tersebut harus diselamatkan, menginggat banyak hal yang bisa dibedah tentang sejumlah hal terkait sejarah, budaya dan peran Nitisemito dalam perjuangan kemerdekaan RI.

Ditemui di sela-sela seminar, Kabid Kebudayaan pada Disbudpar Kudus, RR. Lilik Ngesti W mengatakan untuk langkah berikutnya adalah penyelamatan karena journal ini adalah masuk kategori Benda Cagar Budaya atau BCB.

“Buku – buku keuangan itu adalah buku perusahaan rokok “Bal Tiga” milik Nitisemito yang merupakan pengusaha pribumi paling kaya saat masa kolonial,” kata Lilik, Sabtu (24/10/2020).

Melihat buku – buku keuangan perusahaan rokok “Bal Tiga” tersebut kata dia, tentunya perusahaan itu sudah memiliki manajemen yang cukup maju. Bahkan manajemen perusahaan rokok “Bal Tiga” pun saat itu diakui oleh internasional khususnya adalah Ratu Belanda, Wilhelmina.

Kabid Kebudayaan pada Disbudpar Kudus, RR. Lilik Ngesti W saat memperagakan simbol Slogan’ Kejutan Ragadaya’ yang kini gencar disosialisasikannya (Foto: YM)

“Kedepan nanti juga akan segera dibedah mengenai keterkaitan kontribusi Nitisemito seorang pengusaha pribumi yang kaya raya dalam membantu perjungan Kemerdekaan RI dan racikan dari rokok “Bal Tiga” tersebut yang sudah mendunia. Termasuk sejarah baik dari sisi perusahaan rokok maupun Nitisemitonya juga akan ikut dibedah,” tuturnya.

Sementara itu usai seminar, Kasi Pelestarian Museum Jawa Tengah “Ronggowarsito” Laela Nurhayati Dewi mengatakan, acara ini mempublish dari hasil kajian internal pihaknya bersama Disbudpar Kudus beberapa waktu lalu.

“Dari hasil kajian tiga buku milik perusahaan rokok milik Nitisemito tadi lalu akan dipublis ke khalayak. Meski sudah diseminarkan dan mendapatkan beberpa masukan dan saran namun ini belum berakhir dan masih ada kelanjutannya. Karena buku – buku ini bisa disorot dari berbagai sisi.  Baik sejarahnya maupun dari akuntansinya dan lainnya,” tutur Laila..

Apalagi menurutnya, dari hasil kajian akuntansinya, Abond dan buku laporan Abond masih sepotong dan belum bisa bicara jurnal tersebut sampai akhir. Sedangkan untuk dirinya yang menelusuri dari kajian sejarahnya, pihaknya akan melakukan penelusuran dari berita – berita di koran – koran era itu yang intinya menyebutkan keuangan ketika itu seperti apa. Sehingga nantinya akan lebih komprehensif.

“Kami masih akan mencari berita di koran Sumatera tahun 1939 yang masih tersimpan Museum Pers Solo. Bahkan dari hitungan kasar aset kekayaan Nitisemito pada masa kejayaannya jaman kolonial sudah mencapai sekitar Rp. 5 milyar,” terangnya.

Sedangkan  Kasubbid Akuntansi Pemerintahan dan Sosial Budaya pada BPPKAD kabupaten Kudus, Adha Elizabeth mengatakan melihat dari hasil pencatatanya dibuku jurnal milik Nitisemito sudah sesuai dengan akuntasinya.

“Hanya saja buku – buku itu masih parsial, sehingga untuk laporan keuangannya belum terbaca. Tetapi bila ditemukan buku – buku pembantu lainnya, kemungkinan bisa lebih terbaca. Diakuinya, untuk jumlah aset melihat dari neraca awal tahun 1941 berjumlah Rp. 5 milyar. Aset itu mulai dari tahun 1922 – 1941,” tambahnya.

Dikatakannya, bila melihat dari jurnalnya ada jurnal pembelian bahan baku, jurnal beban biaya – biaya produksi serta jurnal penjualan. Di buku itu lanjut dia, juga ada biaya iklan untuk menyewa pesawat Fokker guna menyebarkan selebaran kepada masyarakat serta melalui radio.

“Dengan jumlah nominal yang dikeluarkan saat itu untuk biaya iklan sebesar 173, 60 gulden, Bila melihat laporan jurnal seperti itu perusahaan rokok milik Nitisemito tersebut sudah maju,” tandas dia. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :

No More Posts Available.

No more pages to load.