Operasi Daging Glonggongan, Dinas Temukan Daging Berkadar Air Tinggi

oleh -92 Dilihat

Kudus, ISKNEWS.COM – Guna memastikan kelayakan daging yang beredar selama lebaran 2018 ini, Dinas Pertanian dan Pangan Kudus melakukan pemantauan dan pemeriksaan kondisi daging yang beredar di wilayah Kabupaten Kudus.

Pematauan dimaksudkan salah satunya untuk memeriksa beredarnya daging sapi glonggongan yang masuk di sentra-sentra pemasaran daging di Kabupaten Kudus.

Dilapangan para petugas sempat menemukan daging sapi dari luar daerah yang berkadar air terlalu tinggi. Bahkan telah melampaui batas ketentuan.

Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus menemukan daging lokal justru miliki kualitas lebih baik dibandingkan daging dari luar daerah. Hasil pemeriksaan pada daging sapi lokal Kudus ada di angka 73 atau dibawah ambang batas toleransi kadar air. (Istimewa/ISKNEWS.COM).

 

“Daging sapi yang berkadar air tinggi tersebut merupakan hasil temuan kami bersama jajaran ketika melakukan pemantauan dini hari di sejumlah pengepul daging sapi dari luar daerah,” kata Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus Catur Sulistiyanto di Kudus, Minggu (10/06/2018).

Tim pemantau dipimpin langsung Catur Sulistiyanto, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kudus diikuti Sa’diyah, Kabid Peternakan, Sidi Pramono Kasie Produksi dan Kesehatan Hewan, Dwi Listiyani Kasie Usaha Sarana dan Prasaran Peternakan dan Sudibyo Kepala UPT Puskeswan Gebog dan RPH serta drh Anton Cahyono, Veteriner Bidang Peternakan.

Dalam pemantauan itu, diketahui bahwa banyak pengepul daging dari luar kota yang ternyata surat keterangannya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Selain itu, kadar air daging dari luar kota lebih banyak dibandingkan daging lokal peternak di Kudus.

“Pemantauan ini agar daging yang dikonsumsi warga Kudus sesuai dengan ASUH atau Aman Sehat Utuh dan Halal. Dari hasil pemeriksaan kadar air tadi bisa kita langsung lihat, kalau kadar air daging hasil peternakan lokal Kudus lebih baik dibandingkan dari luar kota. Ini juga menunjukkan keberhasilan dari Bidang Peternakan dalam membina para peternak di Kudus,” kata Catur Sulistiyanto usai menyaksikan pengukuran kadar air pada daging sapi.

Selain memeriksa daging, Kadispertanpangan juga memeriksa langsung jerohan dari daging-daging hewan ternak di lapak-lapak para pengepul daging.

“Ini hati dan jantungnya bagus. Jadi layak untuk dikonsumsi,” ujarnya sambil memegang jantung sapi.

Ketika melakukan surat keterangan kesehatan dan asal daging, Sa’diyah, Sidi Pramono dan Dwi Listiyani sempat terjadi perdebatan dengan penjaga lapak pengepul daging asal luar kota bernama Mulyono.

Sebab dalam surat dari Kabupaten Boyolali tersebut tertulis berat daging adalah 150 kilogram. Padahal secara pandangan mata, daging yang dibongkar di lapaknya lebih banyak karena satu mobil L300 penuh.

“Ini mobil pick up-nya penuh masak cuman 150 kg. Ini pasti lebih. Jadi tidak sesuai antara surat keterangan dan barang muatan,” tegas Sidi Pramono.

Lanjut Sa’diyah, “Bapak jujur saja, karena nanti malah tidak baik untuk sini. Kalau ini berat dari seekor sapi, berarti sapi yang dipotong itu kecil. Sapi berat 600 kg kalau dipotong itu akan menghasilkan daging rata-rata 300 kg.”

Mendengar ketegasan tim Bidang Peternakan ini, Mulyono tidak mampu menjawab pertanyaan dan hanya menyatakan sebagai penjaga lapak milik Mariya Ulfah. Kemudian petugas melakukan pengukuran kadar air, hasilnya sangat mencengangkan. Kadar air dari daging tersebut menunjukkan angka 80,4 persen.

Hal ini menunjukkan daging kondisinya basah atau mengandung banyak air melebihi ambang batas toleransi yaitu 75-76 persen. Karena terdapat perbedaan surat keterangan dan kondisi nyata, maka penjaga lapak itu diminta untuk mengisi surat pernyataan bermeterai akan mentaati aturan yang berlaku dalam penjualan daging di Kudus. Apabila dikemudian hari ditemukan yang disesuai dengan kondisi sebenarnya maka bersedia menerima sanksi yang berlaku.

Tim kemudian menuju ke lapak milik Hajjah Narti yang juga mendatangkan daging sapi dari Kabupaten Boyolali. Hasil pemeriksaan, surat keterangan sesuai dengan kondisi jumlah daging daging. Namun saat pemeriksaan kadar air, diperoleh angka 79,9 persen alias daging dengan kadar air tinggi.

“Informasi dari penjagal luar kota asal daging sapi ini, tiga hari lagi akan naik Rp 5 ribu. Saya katakan, tidak apa-apa naik karena memang mau lebaran. Tapi kualitanya harus baik, tidak boleh kebanyakan kadar air,” ucap Narti.

Kondisi lapak milik Narti ini sama dengan Mastur, anak Narti yang tidak jauh lokasi. Pada lapak tersebut juga ditemukan dagingnya memiliki kadar air melebihi ambang toleransi.

Guna mendapatkan perbandingan, tim kemudian melakukan pemeriksaan pada lapak daging penjagal lokal bernama Muslim. Hasilnya, secara pandangan mata dan indera tangan, daging tidak banyak kadar air. Ketika dilakukan pemeriksaan menggunakan alat, hasilnya 73,5 persen.

Dwi Listiyani, Kasie Usaha Sarana dan Prasarana Bidang Peternakan, mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan dengan alat memang menunjukkan kelebihan kadar air. Namun pihaknya belum bisa memastikan penyebabnya.

“Menyimpulkan sumber kadar air itu perlu laboratorium atau juga infomasi dari asal peternak. Sebab belum tentu tingginya kadar air karena gelonggongan atau kebanyakan minum,” ungkap Dwi Listiyani.

Imbuhnya, “Mungkin juga karena kehujanan waktu perjalanan kesini atau lainnya. Tetapi yang jelas, dagingnya mengandung kadar air tinggi. Nah, untuk konsumi masyarakat lebih baik kadar airnya yang dibawah ambang toleransi.” (NNC/WH).

KOMENTAR SEDULUR ISK :