Panen Perdana KDMP Undaan Lor Kudus, Budidaya Ikan Nila Hasilkan Ratusan Kilogram

oleh -938 Dilihat
KDMP Undaan Lor membuktikan budidaya ikan nila di kolam terpal mampu menghasilkan ikan berkualitas dan siap dipasarkan. (Foto: Aris Sofiyanto/ISKNEWS.COM)

Kudus, isknews.com – Kelompok Desa Merah Putih (KDMP) Desa Undaan Lor, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus menggelar panen perdana budidaya ikan nila tematik pada Jumat (22/5/2026) di kolam ikan KDMP Desa Undaan Lor. Kegiatan tersebut menjadi bukti keberhasilan budidaya ikan nila menggunakan kolam terpal yang sebelumnya sempat diragukan masyarakat.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kudus, Didik Tri Prasetiyo mengatakan, program budidaya ikan tematik tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat melalui anggaran perubahan tahun 2025.

Ia menjelaskan, di Kabupaten Kudus terdapat dua KDMP yang memperoleh bantuan tersebut, yakni KDMP Desa Undaan Lor dan KDMP Desa Karangrowo.

“Setiap KDMP mendapatkan bantuan 24 kolam dengan diameter empat meter. Alhamdulillah hasil budidaya ikan nila di Undaan Lor ini sangat bagus dan berhasil,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan budidaya ikan nila itu diharapkan bisa menjadi sarana edukasi bagi masyarakat, khususnya anak-anak agar semakin gemar mengonsumsi ikan sebagai sumber protein.

“Protein tidak hanya berasal dari daging, tetapi juga bisa dari ikan. Ini menjadi edukasi yang baik untuk masyarakat,” katanya.

Dalam panen perdana tersebut, total ikan yang dipanen mencapai sekitar 300 kilogram. Namun panen dilakukan secara bertahap karena ukuran ikan masih bervariasi, mulai kecil, sedang hingga besar.

Sementara itu, Dandim 0722/Kudus Letkol Arh Yuusufa Allan Andriasie menyampaikan apresiasi atas keberhasilan KDMP Undaan Lor dalam mengembangkan budidaya ikan nila dengan teknologi kolam terpal modern.

Ia menyebut, panen perdana tersebut menjadi yang pertama di Kabupaten Kudus dengan konsep budidaya seperti itu dan diharapkan bisa menjadi percontohan bagi desa-desa lain.

“Ini langkah awal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, khususnya di Desa Undaan Lor dan nantinya bisa menjadi contoh bagi desa lain di Kabupaten Kudus,” ungkapnya.

Menurutnya, pemerintah terus serius menghadirkan berbagai program pemberdayaan masyarakat desa, termasuk program koperasi desa merah putih yang nantinya juga dapat bersinergi dengan program makan bergizi gratis.

“Harapannya manfaatnya bisa dirasakan masyarakat luas, mulai dari anak-anak hingga masyarakat umum. Selain keuntungan ekonomi, ini juga mendukung pemenuhan gizi generasi muda,” jelasnya.

Ketua KDMP Undaan Lor, Rif’an Hamim mengaku bersyukur karena program budidaya ikan tematik yang diterima dari Kementerian Kelautan dan Perikanan pada tahun 2025 mampu menunjukkan hasil yang memuaskan.

Ia mengatakan, keberhasilan panen tersebut sekaligus menjawab keraguan masyarakat terkait budidaya ikan nila di kolam terpal.

“Selama ini ada yang meragukan ikan nila di kolam terpal tidak bisa tumbuh besar. Hari ini kami buktikan bahwa dalam usia sekitar empat sampai empat setengah bulan, ukuran ikan sudah sangat layak jual,” katanya.

Rif’an menjelaskan, ukuran ikan yang dipanen rata-rata mencapai empat ons per ekor dengan variasi ukuran satu kilogram berisi tiga hingga empat ekor.

Menurutnya, hasil budidaya itu siap dipasarkan, terutama untuk memenuhi kebutuhan rumah makan dan restoran yang ada di Desa Undaan Lor.

“Di Undaan Lor ada sekitar lima resto yang potensial untuk diajak kerja sama. Pangsa pasar ikan nila ini masih sangat luas,” terangnya.

Ia menambahkan, total terdapat 24 kolam budidaya dengan kapasitas masing-masing sekitar 700 ekor ikan, sehingga total populasi mencapai sekitar 16 ribu ekor.

Jika seluruh ikan berhasil dipanen optimal, produksi diperkirakan mampu mencapai sekitar satu ton dalam satu siklus empat bulan.

Selain menyasar pasar umum dan restoran, KDMP Undaan Lor juga mulai menjajaki kerja sama dengan SPPG atau program penyediaan makan bergizi gratis di wilayah Kecamatan Undaan.

“Kalau kebutuhan di kampung sendiri sebenarnya sudah mencapai sekitar dua ton per bulan. Jadi produksi yang ada saat ini masih sangat kurang dan peluang budidaya masih terbuka lebar bagi desa lain,” pungkasnya. (AS/YM)