Papan Larangan Buang Sampah Kontroversial di Desa Gribig Akhirnya Diganti

oleh
Foto: Papan larangan buang sampah sembarangan di Sungai Wuneng, Desa Gribig, Kecamatan Gebog yang sempat viral akhirnya diganti dengan tulisan yang lebih humanis. (Mukhlisin/ISKNEWS.COM)

Kudus, ISKNEWS.COM – Pemerintah Desa Gribig, Kecamatan Gebog akhirnya menganti papan larangan buang sampah yang sempat viral karena redaksi tulisan dinilai kontroversial.

Sebelumnya ramai jadi perbincangan di media sosial tentang larangan buang sampah, yang ada di dekat Jembatan Sungai Wuneng RT 02 RW 04 Desa Gribig. Pada papan berukuran besar tertulis “Jangan buang sampah sembarangan. Sungai bukan tempat sampah. Warga berhak menghakimi orang yang buang sampah disini. TTD Pemdes Gribig”.

Sontak hal itu membuat geger karena tulisan yang ada dinilai terlalu anarkis dan berpotensi mengganggu kondusivitas wilayah. Salah satu pihak yang menyampaikan kritikan yakni Polsek Gebog. Kapolsek Gebog meminta agar diganti dengan tulisan lain yang juga sama efektifnya.

TRENDING :  Bupati Kudus Siapkan Bantuan Kepada 4500 Anak Yatim di Kudus

”Karena ada masukan dari beberpa pihak pada Kamis (05-04-2018) seketika itu langsung kami copot, dan akhirnya pada keesokan harinya langsung kami ganti dengan tulisan lain,” tutur Kepala Desa Gribig Abdullah Rais, Minggu (08-04-2018).

Dari pantauan ISKNEWS.COM papan peringatan larangan buang sampah sembarangan di Sungai Wuneng sudah berganti lebih humanis. Pada papan yanjg berukuran 1×1,5 meter bertuliskan ”Jangan buang sampah sembarangan, sungai bukan tempat sampah”.

Tak hanya itu saja, papan peringatan yang baru juga dilengkapi dengan ilustrasi orang yang membuang sampah di sungai akan membuat air sungai menjadi kotor dan menyebabkan pencemaran lingkungan.

TRENDING :  Satpol PP Kudus Tegakkan Perda Dengan Pendekatan Humanis, Ini Tujuannya

Ditambahkan Rais, papan peringatan yang baru itu sudah dikoordinasikan dengan Polsek Gebog terlbih dahulu sebelum dipasang. ”Semoga sama efektifnya dengan yang sebelumnya, jangan sampai hanya karena ganti papan peringatan kembali kumuh lagi,” harapnya.

Nantinya jika kebiasaan buruk membuang sampah kembali terjadi usai penggantian papan peringatan akan dilakukan upaya preventif. Yakni dengan cara melakukan kesepakatan dengan warga di RT setempat.

”Kalau ada yang memergoki ada yang membuang sampah sembarang akan diminta membersihkan sampah di sungai. Pasti malu dan jera jika hal itu dilakukan,” tukas Rais.

Diceritakan Rais, dulu sebelum ada papan larangan buang sampah di tempat tersebut delalu menjadi primadona oknum untuk buang sampah. Tak main-main sampah yang dibuang tak hanya sebatas satu bungkus plastic melanikan satu karung.

TRENDING :  Halifia Wakil Kudus Yang Lolos Karantina dan Raih Beasiswa Bulutangkis PB Djarum

Parahnya lagi dalam karung tersebut mayoritas berisi popok bayi yang membuat jijik warga sekitar. Apalagi karung yang terbuang di sungai tak dapat mengalir karena tertahan batu, membuat popok semakin membesar terkena air.

Setelah dipasang larangan membuang sampah pada awal 2016 terbukti efektif membuat oknum tak berani membuang sampah. Hanya saja kemudia hal itu menjadi viral pada awal April 2018 karena tulisannya dinilai terlalu anarkis. (MK/WH)

KOMENTAR SEDULUR ISK :