KUDUS, isknews.com – Bupati Kudus Tekankan Respons Cepat dan Koordinasi Ambulans. Rentetan peristiwa yang terjadi di Kabupaten Kudus pada Januari lalu menjadi bahan evaluasi bersama. Mulai dari bencana banjir dan tanah longsor, hingga keracunan massal MBG yang menimpa siswa SMAN 2 Kudus.
Sam’ani Intakoris menyampaikan hal tersebut saat menjadi pembicara dalam apel pagi di Halaman UPTD Puskesmas Rendeng, Kudus, pada Kamis (12/2/2026). Seluruh perwakilan rumah sakit se-Kabupaten Kudus turut menghadiri kegiatan tersebut, baik negeri maupun swasta, Puskesmas, serta para bidan desa dan seluruh elemen kesehatan di Kabupaten Kudus.
Perkuat Komunikasi dan Susun Kekuatan
Dalam arahannya, Bupati menekankan pentingnya komunikasi dan penyusunan kekuatan bersama sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi berbagai kemungkinan.
“Sebagai bentuk komunikasi dan menyusun kekuatan kita. Karena setelah banjir dan keracunan, kita masih ada beberapa persiapan-persiapan. Ada kecelakaan atau kejadian-kejadian yang tidak bisa kita prediksi, semuanya harus siap. Karena untuk kesehatan atau kejadian kecelakaan ini sewaktu-waktu bisa terjadi,” ujar Sam’ani Intakoris.
Menurutnya, kejadian darurat tidak selalu bisa diprediksi. Karena itu, seluruh tenaga kesehatan harus dalam kondisi siaga, baik untuk bencana alam maupun insiden kecelakaan.
Evaluasi Respons Cepat Jadi Catatan
Bupati juga mengakui bahwa pihaknya terus melakukan evaluasi, khususnya terkait waktu respons ambulans saat terjadi kecelakaan atau kondisi darurat.
“Evaluasi pasti kita lakukan. Evaluasinya masih ada beberapa catatan, perihal reaksi cepat. Ketika terjadi kecelakaan masih butuh waktu durasi. Karena ambulans kita berada di puskesmas-puskesmas, itu kadang masih ada beberapa langkah, masih ada sekitar setengah jam, yang seharusnya 10–15 menit sampai di lapangan,” jelasnya.
Ia menyebut, idealnya ambulans bisa tiba dalam waktu 10–15 menit. Namun di lapangan, waktu tempuh masih bisa mencapai sekitar 30 menit. Hal ini menjadi perhatian agar sistem tanggap darurat bisa lebih optimal.
Optimalkan Ambulans Desa
Sebagai solusi, Pemkab Kudus mendorong koordinasi yang lebih kuat antara puskesmas dan pemerintah desa.
“Tapi kami juga bermoderasi dengan desa, karena setiap desa juga punya ambulans. Sekarang, hampir disetiap desa punya ambulans, nanti dimanfaatkan dan bisa dikoordinasikan serta komunikasikan dengan puskesmas,” tambahnya.
Dengan memanfaatkan ambulans desa, petugas dapat melakukan penanganan awal lebih cepat.
Belajar dari Banjir dan Keracunan Massal
Menurutnya, kecelakaan dan kejadian darurat bisa terjadi kapan saja dan tidak bisa diprediksi. Karena itu, koordinasi, komunikasi, dan kecepatan respons menjadi kunci utama.
Dengan terus mengevaluasi dan memperkuat sistem, Pemerintah Kabupaten Kudus dapat semakin tanggap dan siap menghadapi berbagai kemungkinan di masa mendatang. (NJB)










