Pasokan Sulit Akibat Corona, Harga Ayam Broiler Jatuh, Peternak Menjerit

oleh

Kudus, isknews.com – Tak hanya sektor retail, sejumlah sektor perdagangan yang lain juga terimbas akibat dampak Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Termasuk sektor peternakan ayam.

Harga ayam broiler pedaging sejak awal Maret hingga sekarang, sempat terpuruk dititik terendah Rp 6.000 per kilogram dari harga normal antara Rp 17.500 hingga Rp 18.000 per kilogram.

Sebelum itu harga ayam broiler pedaging sudah cukup rendah diharga Rp 15.000 per kilogram, dan nilainya semakin jatuh saat terjadi pandemi Covid-19.

Salah seorang peternak ayam broiler asal Desa Gondosari Kecamatan Gebog Kudus, Hariyanto (44) mengatakan, sebelum terjadi wabah Covid-19 harga ayam broiler anjlok karena tidak seimbangnya antara suplai dan permintaan. Jumlah produksi di awal tahun 2020 cukup tinggi, tidak sebanding dengan permintaan.

“Awalnya kami berharap mulai Maret harga ayam broiler beranjak naik
kembali normal hingga menjelang lebaran, tetapi ternyata malah jatuh
karena adanya wabah Covid-19,” ujarnya, Rabu (29/04/2020).

Hariyanto, peternak ayam broiler asal Desa Gondosari Kecamatan Gebog Kudus (Foto: YM)

Pada awal April lalu sebenarnya sudah ada kesepakatan dengan pemerintah untuk mengangkat harga ayam broiler di angka Rp 12.000 per kilogram. Namun itu hanya bertahan dua pekan hingga pertengahan April setelah itu harga turun lagi ke angka Rp 8.000 per kilogram.

TRENDING :  Tebar Ribuan Bibit Nila Unggul, Dongkrak Kualitas Produksi

Sejak Selasa (28/4) produsen inti berusaha mendongkrak harga ayam broiler ke angka Rp 10.000 per kilogram untuk bobot di atas 2 kilogram, dan tampaknya berhasil.

“Bahkan ayam broiler pedaging hidup berat 1,5 kilogram harganya lebih bagus mencapai Rp 12.000 per kilogram, karena stoknya mulai menipis,” terangnya.

Kendati demikian secara umum produsen inti mengalami kerugian cukup besar akibat terpuruknya harga ayam broiler. Sedang petani plasma yang mengeluarkan biaya operasional dapat kembali modal saja dinilainya sudah cukup bagus.

Dicontohkan, meski kebutuhan anakan ayam (kutuk) dan pangan disuplai produsen inti, namun biaya operasional yang dikeluarkan peternak seperti listrik naik hingga 50 persen karena panen ayam mundur akibat terbatasnya konsumen.

Harga ayam jatuh karena pasokan ayam ke beberapa daerah di Jawa Tengah dan wilayah lain seperti DKI Jakarta sulit masuk karena adanya wabah Covid-19.

Di Jakarta, seluruh rumah pemotongan ayam (RPA) tidak beroperasi. Sebab hanya ada dua opsi, memilih tidak beroperasi selama pandemi Covid-19 atau beroperasi tetapi izinnya ditutup. Mereka memilih tidak beroperasi.

TRENDING :  Rangsang Peternak Budidayakan Sapi Betina, Puskeswan Upayakan IB Sapi Belgian Blue

Produsen inti akhirnya tidak dapat mengeluarkan ayam siap panen dari kandang milik mitra petani plasma untuk dilempar ke pasaran. Ayam siap panen sebagian besar terjual ke pasar lokal di Kudus dan sekitarnya.

“Saat ini, ayam dapat keluar dari kandang sudah bagus,” ungkapnya.

Kondisi seperti itu jelas berdampak pada produksi ayam broiler berikutnya. Hampir semua petani plasma memilih tiarap sampai kondisi pandemi Covid-19 berakhir dan harga ayam broiler pedaging berangsur normal.

Haryanto memperkirakan, pada akhir Mei jelang lebaran hingga Juni terjadi kekosongan ayam broiler pedaging di pasaran.

“Kalau itu terjadi, harga daging ayam jelang atau saat dan paska
lebaran cukup tinggi, karena jumlah daging ayam yang dijual di pasaran
sangat terbatas,”  tegasnya.

Saat ini Hariyanto memiliki 27 ribu ayam broiler pedaging siap panen
dengan usia 28 hari, dan baru terjual sekitar 20 persennya.

Di Kudus, populasi ayam pedaging cukup besar mencapai 10,155 juta dalam satu siklus panen sekitar 60 hari, dari sekitar 300 peternak ayam skala menengah hingga besar.

TRENDING :  Jelang Penutupan, Satgas TMMD Lakukan Pengecekan Kesehatan

Pangsa ternaknya tak hanya memenuhi pasar di Kudus, tetapi juga daerah lain seperti Kota Salatiga, Temanggung, Wonosobo, Jakarta, Surabaya, Kediri, Blitar, hingga Bali.

Sementara dari hasil pantauan di sejumlah pasar di wilayah Kudus, harga ayam broiler pedaging, broiler pejantan dan ayam merah (petelur tidak produktif) yang dijual dalam bentuk karkas masih cukup tinggi. Karkas dimaksud yaitu ayam potong yang sudah dibersihkan bulunya dan dihilangkan jeroan, kepala dan kakinya.

Sebagai pembanding, berat ayam hidup dua kilogram jika dijual dalam bentuk karkas mengalami penyusutan bobot sekitar 30 persen.

Saat ini harga ayam broiler pejantan dan ayam merah hidup kondisinya tidak jauh berbeda dengan ayam broiler pedaging, sedikit lebih mahal sekitar Rp 2.000 di atasnya.

Dalam kondisi harga ayam hidup terpuruk di kisaran Rp 10.000 hingga Rp 12.000, mestinya harga jual dalam bentuk karkas antara Rp 20.000 hingga Rp 24.000 per kilogram.

Namun yang terjual di pasaran harganya mencapai Rp 28.000 hingga 30.000. Itu artinya, para pedagang masih bisa menangguk keuntungan cukup besar. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :