Kudus, ISKNEWS COM – Pelukis abstrak A.R Soedarto (67) selama 5 hari menggelar pameran tunggal di Museum Kretek Kudus. Eksibisi yang mengusung tema ‘Bius Rupa’ itu dibuka untuk umum pada 21-25 Juli 2018, mulai pukul 10.00 – 20.00 WIB.
Sabtu malam, (21/7/2018) diadakan ‘opening ceremony’ yang dibuka langsung oleh Bupati Kudus Musthofa, dan diselingi hiburan oleh pagelaran seni dari kwidura, sekumpulan alumni Universitas Negeri Semarang.
Sedikitnya ditampilkan 19 karya lukis yang mengusung pesan yang berbeda. Pameran tunggal di Kota Kretek ini merupakan yang ke 11 (sebelas), dan juga pameran kedua yang digelar di kota kelahirannya tercinta (Kudus), sejak 10 tahun yang lampau, yakni tahun 2008 silam.
A.R Soedarto menghabiskan masa kecil dan remajanya di Kudus. Ia alumni SD Demaan 4 dan SMP 3 Kudus, kemudian SMK nya dilanjutkan di Semarang mengambil jurusan teknik. Namun, setelah kuliah, ia mengambil jurusan seni rupa di Sekolah Tinggi Seni Rupa Nasional, Jakarta (lulus 1976) dan jurusan hukum di Universitas Bungkarno Jakarta (lulus 2012).

Saat ditemui isknews.com disela-sela persiapan pembukaan mengatakan, Pameran yang apresiatif ini digelar atas kerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus, sebagai salah satu lembaga yang bertugas mengelola dan mengolah potensi kesenian di Kabupaten Kudus, “Dimana Museum Kretek dan Taman Budaya mempunyai peranan yang sangat strategis terhadap peningkatan dan penguatan identitas masyarakat Kudus terutama di bidang perkembangan berkesenian,” tutur warga asli desa Nganguk Kecamatan Kota, Kudus itu.
Diharapkan, event ini sebagai wahana peningkatan apresiasi masyarakat dan generasi muda Kudus terhadap kesenian khususnya seni rupa, serta mengajak (membius, Red) seniman-seniman perupa Kudus agar tetap kreatif dan inovatif berkarya seni dan menjadikan kesenian sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Puguh S Waruju (61) Sang Kurator dalam pameran tunggal kali ini menuturkan, Terkait pemilihan tema “Bius Rupa”, Ia memaklumatkan pada kata kunci bahwa karya seni adalah simulasi makna yang memiliki “daya pukau” tersendiri bagi penikmatnya.
Sebab, lanjut Puguh, secara sadar Ar. Soedarto memahami karya yang ia lahirkan adalah penjelmaan atau bentuk artikulasi dari keter-“pukau”-an dirinya terhadap makna-makna yang ia peroleh sebagai mutiara perenungan yang mendalam (kontemplasi). “Dan jalur seni abstrak, ia pilih sebagai zona jati diri dalam berekspresi secara rupawi,” jelas Kurator kelahiran Kediri itu.
Dikatakannya, Membaca kesenirupaan Ar.Soedarto, bentuk segitiga yang mengasosiasikan bentuk gunung atau gunungan pada wayang kulit, merupakan bagian tabiat ornamentik dari barik-barik kaligrafi huruf Jawa (Honocoroko), mempertegas keterhubungan dirinya terhadap seni visual tradisional yang ia sulap dalam representasi visual progresif (kekinian).
Puguh menambahkan, Bentuk kekayon (gunungan wayang) dan kaligrafi Jawa (Hanacaraka) yang bermuatan pada nilai-nilai kearifan lokal merupakan warisan tradisi, “Jadi memperjelas interteksnya terhadap kota Kudus di mana telah kondang identitasnya sebagai kota berakar budaya religi, kota yang unik dengan dua wali sekaligus (Sunan Kudus dan Sunan Muria),” tegasnya.
Yang lebih menarik, kata Puguh, dalam pamerannya yang mutakhir ini adalah inovasi baru dalam olah kolose. Kali ini ia memanfaatkan bekas-bekas keyboard komputer sebagai elemen ekspresi, selain muncul sebagai keunikan baru ala Soedarto, konteks kekinian menjadi lebih tegas muncul.
“Selaku warga era kontemporer, secara fungsional keyboard komputer bisa jadi ter-interpretasi-kan sebagai produsen berjuta-juta narasi tentang kehidupan dengan multi maknanya, yang saling mempengaruhi satu dengan lainnya,” tutupnya.
Selain menggelar pameran tunggal dan beberapa kali mengikuti pameran bersama di berbagai kota di Indonesia, Pada tahun 1977, Ar. Soedarto mendapat penghargaan lukisan terbaik pada Festival Seni Mahasiswa di Jakarta. Karya lukisnya telah banyak dikoleksi oleh para kolektor baik didalam maupun diluar negeri. (AJ/WH)












