Kudus, isknews.com-Warga Desa Ploso, Kecamatan Jati Kudus merasa terusik terkait adanya laporan kelompok masyarakat yang mempersoalkan Makam Habib Ja’far Al Kaff di TPU Ploso. Hal tersebut diungkapkan Kepala Desa Ploso, Mas’ud kepada media ini.
“Banyak warga merasa terganggu dan resah atas adanya kelompok orang yang mempersoalkan Makam Habib Ja’far Al Kaff di pemakaman umum desa kami,” tutur Mas’ud saat ditemui isknews.com di kantornya.
Ditambahkan, keluhan warga tersebut ada yang disampaikan secara langsung baik melalui sambungan telepon maupun datang langsung ke kantor desa. Bahkan, keluhan atau penentangan itu juga ramai diutarakan melalui media sosial di beberapa platform.
“Saya khawatir kalau itu berkepanjangan akan menimbulkan kegaduhan yang berujung konflik horizontal,” imbuhnya.
Beruntung, masih kata Mas’ud, ketidak senangan warga atas adanya protes kelompok kecil masyarakat atas keberadaan makam almarhum Habib Ja’far Al Kaff di TPU Desa Ploso tersebut masih bisa diredam.
Disinggung adanya tudingan bahwa pengijingan makam tokoh kharismatik tersebut mengorbankan makam warga ainnya, menurut Mas’ud tudingan itu sama sekali tidak berdasar. Proses pengijingan yang dilakukan oleh masyarakat sudah melalui proses yang panjang.
“Proses pengijingan makam memang atas permintaan warga masyarakat, bukan atas permintaan dari keluarga almarhum. Bahkan, prosesnya melalui musyawarah desa (musdes) yang dihadiri puluhan warga dari berbagai unsur,” jelasnya.
Dalam acara Musdes, lanjutnya, ada sekitar 50 orang yang hadir diantaranya dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, BPD, ketua RW dan ketua RT. Agenda pembahasan pengijingan makam Habib Ja’far Al Kaff tersebut disetujui secara aklamasi bahkan, saat proses pembangunannya banyak warga dari luar desa yang datang dan ikut membantu.
“Perlu diingat bahwa lahan makam tersebut adalah milik desa yang sudah bersertifikat. Sedangkan almarhum Habib Ja’far Al Kaff adalah salah satu tokoh nasional asal Kudus yang patut kita hormati,” tegasnya.
Sementara itu menanggapi adanya laporan yang mempersoalkan makam tersebut, Ketua Lembaga Swadaya Masyarakat Anak Bangsa Pejuang Pancasila (LSM-ABPP), Riyanto, mengaku heran jika ada kelompok orang yang mempersoalkan hal tersebut. Pihaknya berharap, kondisi masyarakat Kudus yang selama ini kondusif jangan diusik dengan hal kecil yang bisa mengganggu kondusifitas wilayah.
“Banyak kelompok masyarakat baik dari LSM atau Ormas yang saya temui dan sepakat menentang adanya kelompok yang mempersoalkan makam Habib Ja’far itu,” katanya.
Namun demikian, lanjutnya, kelompok-kelompok yang dia temui tersebut masih menghormati adanya perbedaan dalam bentuk apapun. Pihaknya menegaskan menjunjung tinggi adanya perbedaan pandangan atau pemikiran baik dari kelompok lain maupun secara perorangan.
“Perbedaan itu suatu hal yang tidak bisa dihindarkan. Tetapi, jika ada perbedaan pendapat dalam bentuk apapun sebaiknya dibicarakan atau didiskusikan terlebih dahulu. Kita yakin Pemdes Ploso selalu pemangku kewenangan pasti tidak akan menolak diajak dialog jika ada perbedaan pendapat terkait kebijakan yang diterbitkannya,” tandasnya.
“Mari kita jaga kondusifitas kota Kudus. Jika ada beda pendapat sebaiknya kita musyawarahkan bagaimana jalan keluar terbaik untuk menghindari ketegangan antar warga. Kudus yang selama ini masyarakatnya dikenal religius dan toleran kita jaga bersama,” pungkasnya. (jos)






