Pendekatan Participatory Action Research, Kolaborasi Mahasiswa dan Guru Hidupkan Minat Baca Siswa SDN 4 Gondosari

oleh -102 Dilihat
Foto: Dok. KKN UMK

Kudus, isknews.com – (31 Juli 2025) Sebuah program literasi inovatif dengan pendekatan Participatory Action Research (PAR) berhasil menghidupkan minat baca siswa SD Negeri 4 Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Program yang digagas mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muria Kudus (UMK) bersama para guru ini menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus menumbuhkan budaya literasi sejak dini.

Berbeda dengan metode pembelajaran konvensional, PAR menekankan keterlibatan aktif semua pihak. Tidak hanya guru dan mahasiswa, melainkan juga siswa sebagai subjek utama kegiatan. Dengan cara ini, anak-anak tidak sekadar menjadi penerima materi, tetapi juga ikut serta dalam merancang, mencoba, dan merasakan pengalaman belajar. “Melalui PAR, anak-anak diajak aktif berpartisipasi sesuai jenjang usia mereka. Jadi, bukan hanya belajar membaca atau berhitung, tetapi juga mengembangkan rasa percaya diri dan kreativitas,” jelas salah satu mahasiswa KKN.

Kegiatan Literasi Berdiferensiasi
Sebanyak 37 siswa dari kelas 2 hingga 6 dilibatkan dalam kegiatan literasi yang dirancang sesuai kebutuhan mereka. Kelas 2 dan 3 mendapat pendampingan membaca dasar, mahasiswa menggunakan media buku cerita bergambar dan kartu huruf sehingga anak-anak merasa belajar seperti sedang bermain. Kelas 4 dan 5 difokuskan pada literasi numerasi melalui permainan berhitung interaktif, seperti tebak angka, puzzle matematika, hingga permainan kelompok yang menumbuhkan kerjasama. Untuk kelas 6 diajak memperkuat pemahaman bacaan dengan literasi kreatif, yaitu menonton video animasi lalu mencocokkan gambar dengan teks cerita. Aktivitas ini membuat siswa lebih mudah memahami alur cerita sekaligus melatih keterampilan berpikir kritis.

Hasil Positif: Keberanian, Antusiasme, dan Pemahaman
Program ini menunjukkan hasil yang menggembirakan. Tingkat partisipasi siswa mencapai rata-rata 86 persen. Di kelas rendah, terlihat adanya peningkatan keberanian membaca dengan suara lantang di depan teman-teman. Pada kelas menengah, anak-anak tampak antusias saat bermain berhitung, bahkan beberapa siswa berinisiatif membuat soal sederhana untuk temannya. Sementara itu, siswa kelas tinggi berhasil memperkuat pemahaman bacaan berkat dukungan media audiovisual.

Seorang guru pendamping menyampaikan apresiasi, “Kolaborasi ini membuktikan bahwa mahasiswa dan guru bisa bersama-sama menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan dan literat. Kami melihat perubahan nyata pada semangat belajar siswa.”

Selain menumbuhkan minat baca, program ini juga mempererat hubungan antara mahasiswa dan guru. Guru merasa terbantu dengan inovasi dan tenaga tambahan dari mahasiswa, sementara mahasiswa belajar memahami kondisi nyata dunia pendidikan dasar. “Kolaborasi semacam ini seharusnya bisa menjadi agenda rutin sekolah. Anak-anak butuh suasana belajar yang segar dan variatif agar budaya membaca tidak sekadar slogan, tetapi benar-benar hidup,” tambah guru tersebut.

Penelitian berbasis PAR ini menegaskan bahwa gerakan literasi tidak bisa berjalan hanya dengan satu pihak. Dibutuhkan sinergi antara mahasiswa, guru, dan siswa untuk menciptakan perubahan nyata. Keberhasilan di SDN 4 Gondosari membuka peluang besar bagi peningkatan kualitas pendidikan dasar, khususnya dalam menumbuhkan budaya membaca di Kabupaten Kudus.

Mahasiswa berharap, program literasi berbasis PAR ini tidak berhenti di Gondosari saja, tetapi bisa ditularkan ke sekolah-sekolah lain. Dengan demikian, gerakan literasi dapat menjadi bagian dari keseharian siswa, bukan sekadar kegiatan tambahan. (*)

KOMENTAR SEDULUR ISK :