Kudus, isknews.com – Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Kudus Jawa tengah, terus aktif melakukan sosialisasi bahaya penyakit tuberkulosis (TB) kepada masyarakat setempat.
“Kami cukup serius dalam menangani penyakit tuberkulosis (TB) agar penderita benar-benar sembuh,” ujar kepala dinas kesehatan Kudus Joko dwi putranto melalui Kasie Pengendalian penyakit menular (P2M), Subiyono, Senin (27/3/2017)

Keseriusan ini, lanjutnya, membuat angka kesembuhan pasien TB cukup tinggi, sehingga risiko penularannya kepada orang sehat bisa dicegah seminimal mungkin.
Ia mengatakan seluruh stake holder kesehatan harus bersatu dalam menangani TB. Menurutnya, perlu aturan khusus terkait TB. Selama ini belum ada peraturan daerah yang khusus membahas penanganan TB.
Kasus TB tidak sekadar TB saja. Melainkan, TB juga terkait dengan HIV. Penderita HIV bisa terkena TB. Banyak kasus yang seperti itu.
“Jumlah kasus TB di Kudus setiap tahun terus merangkak naik, dari data laporan penemuan pasien TB pada triwulan 1 sampai 4 tahun 2016 sendiri, terdapat. 5,098 suspek, dan yang diperiksa dahaknya terdapat 5,651. Sedangkan tahun 2015, terdapat 5,651 suspek, dan yang diperiksa dahaknya terdapat 5,086.
Hal tersebut bisa dilihat rincian dari data dibawah ini, Bakteri tahan asam (BTA) positif berjumlah 639, dengan rincian 319 laki-laki, 320 perempuan. untuk BTA negatif berjumlah 211, dengan rincian 114 laki laki 97 perempuan, sedangkan untuk ekstra paru berjumlah 73, dengan rincian 34 laki laki 39 perempuan, dan untuk BTA tidak diperiksa berjumlah 31, dengan rincian 19 laki laki 12 perempuan.
Sedangkan tahun 2015, Bakteri tahan asam (BTA) positif berjumlah 631, dengan rincian 290 laki-laki, 341 perempuan. untuk BTA negatif berjumlah 193, dengan rincian 90 laki laki 103 perempuan, sedangkan untuk ekstra paru berjumlah 84, dengan rincian 38 laki laki 46 perempuan, dan untuk BTA tidak diperiksa berjumlah 28, dengan rincian 9 laki laki 19 perempuan.
Subiyono menambahkan, penyakit TB ini diakibatkan dari bakteri yang mycobakterium tuberculosis. Untuk penyembuhannya dibutuhkan waktu minimal enam bulan.
“Lamanya waktu penyembuhan mengakibatkan angka putus minum obat menjadi tinggi, sehingga kejadian multidrug ressistance (MDR) menjadi tinggi juga,” ujarnya.
Ini menjadi tanggung jawab semua pihak, karena pengobatan penderita TB MDR membutuhkan waktu lebih lama dan dibutuhkan biaya yang tinggi.
“Karena itu kami selalu menyosialisasikan bahaya penyakit TB. Masyarakat selalu kami ajak untuk melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),” ujarnya.
Untuk memaksimalkan pelayanan, Dinas Kesehatan juga telah melengkapi fasilitas pemeriksaan (screening) bagi penderita TB di setiap puskesmas di Kudus. Diharapkan masyarakat dapat menggunakan layanan tersebut, agar angka TB bisa terus ditekan sekecil mungkin.
Ia menjelaskan adanya jenis penyakit yang menyerang penurunan kekebalan tubuh, seperti HIV/AIDS, juga menambah panjang angka penderita TB, itu karena daya tahan tubuh dari pengidap HIV/AIDS yang rendah menjadi rentan terkena bakteri TB. (AJ/isknews.com)






