Kudus, isknews.com – Masih banyaknya anak berkebutuhan khusus usia 0-18 tahun yang belum mendapatkan perhatian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan koordinasi pengembangan pada penguatan jejaring pendidikan khusus melalui penyuluhan “Deteksi Dini Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)” di Hotel Hom Kudus, Selasa (11/7/2017).
Dalam kegiatan tersebut diikuti oleh 64 guru Pendidikan Anak Usia Dini dari 9 kecamatan di Kudus dan perwakilan dari Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP.PKK) kabupaten Kudus.
Kasie pada bidang pembinaan khusus Dinas Pendidikan dan Kebudayaan provinsi Jawa tengah, Widyartini kepada isknews.com mengatakan, Fasilitas dan pelayanan pendidikan khusus bagi anak berkebutuhan khusus harus mendapat perhatian khusus agar mereka dapat meningkatkan potensi dan kemampuan yang dimilikinya, terutama sebagai bekal bagi mereka agar bisa menjalani hidup dengan sewajarnya.
ABK sendiri lanjutnya, adalah klasifikasi untuk anak dan remaja secara fisik, psikologis atau sosial yang mengalami masalah serius dan menetap. Anak berkebutuhan khusus ini dapat diartikan mempunyai kekhususan dari segi kebutuhan layanan kesehatan, kebutuhan pendidikan khusus, pendidikan layanan khusus, pendidikan inklusi, dan kebutuhan akan kesejahteraan sosial dan bantuan sosial.

Dijelaskan, Ada beberapa jenis ketunaan, yakni tuna netra, tuna rungu, tuna grahita, tuna daksa, tuna laras, kesulitan belajar, anak cerdas dan bakat istimewa, autisme, hiperaktif, gangguan aktivitas motorik sehingga anak jadi berlebihan dan indigo yakni manusia yang sejak lahir punya kelebihan khusus yang tidak dipunyai manusia pada umumnya.
Dirinya mengatakan, Kita akan mendeteksi lebih awal melalui pendidik kelompok bermain dan TK, Sehingga nantinya sekolah tersebut harus menerima anak berkebutuhan khusus. Sebelumnya, tahap awal kita bisa melatih dengan diadakannya diklat yang berkaitan dengan penanganan dini untuk ABK.
Widyartini menambahkan, bahwa tujuan kegiatan ini adalah untuk memberi pengetahuan pendidik dan kader PKK dalam mengenal, memahami, mengidentifikasi karakter dan perkembangan anak berkebutuhan khusus. Kegiatan tersebut juga dilaksanakan serentak di 22 kabupaten dan kota di Jawa tengah, “Adapun tahun kemarin langsung ke sekolah ABK terkait.”
Dirinya membeberkan, data ABK yang paling banyak di Jawa tengah adalah kabupaten Grobogan, sedangkan kabupaten Kudus sendiri dari data penyuluhan pada 2015 lalu terdapat 303 ABK, “Tren dari tahun ke tahun anak berkebutuhan khusus di Jawa tengah meningkat, Hal itu disebabkan adanya perubahan gaya hidup (life style), Makanan (gizi) dan sebab kompleks lainnya.” ungkapnya
Ditemui terpisah, Kabid PAUD Dan Dikmas pada Disdikpora, Moh Sholeh mengapresiasi kegiatan ini, Diketahui, Data lembaga PAUD kabupaten Kudus yang memiliki peserta Didik ABK Tahun 2017 ada 11 Sekolah. Diantaranya, 1. KB Syamsya Auladina Jln.GOR no.1 RT.5 RW.1 kel. Melati Kidul kec. Kota kab. Kudus.59319, KB Taman Bermain Ananda Jln. Agil Kusumadya perum jati Indah no.123 Jati Kudus, KABIT Umar Bin Khatab Jln.jepara no.82 RT.3.Rw.9 Purwosari kota Kudus, KB Al-Amien Ds.Jati Kulon RT. 01/05 kec. Jati Kudus, KB Tunas Harapan DS. Terjadi RT.03/02 kec. Dawe Kudus, KB Mutiara Insan DS. Rahtawu Gebog Kudus, KB Az-Zahra DS. Kedungsari RT. 05/01 Gebog Kudus, TPA Al Mubarokah DS. Karangmalang Gebog Kudus, KB Taman Ceria Jl. Raya PR Sukun Besito Gebog Kudus, TPAIT Al Qolam Jl. Kudus- Purwodadi KM 7 Undaan lor Yg.30 kec.Undaan Kudus, KB Mandiri DS. Rahtawu kec Gebog kab. Kudus.
Ia berharap, nantinya para pendidik mempunyai kompetensi pada anak-anak berkebutuhan khusus sejak dini, ikut berperan aktif dalam rangka mengasuh membina dan mendidik untuk bisa percaya diri pada anak tersebut. “Sehingga ketika anak berkebutuhan khusus melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi bisa lebih percaya diri seperti biasanya,” pungkasnya. (AJ)







