Kudus, isknews.com – Ratusan warga dari sembilan kecamatan di Kabupaten Kudus memadati kantor kecamatan sejak pagi, mengantre berjam-jam demi mendapatkan pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) Kemensos PJ yang disalurkan melalui PT Pos Indonesia.
Antrean mengular hingga halaman kantor Pos, sebagian warga tampak berdesakan karena banyak yang datang lebih awal dan tidak sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Supervisor Bisnis Ritel dan Kemitraan PT Pos Indonesia Persero, Arga Arifriatna, menjelaskan bahwa penyaluran BLT sudah dimulai sejak Jumat pekan lalu dan hingga hari ini realisasinya mencapai sekitar 70 persen.
Total distribusi mencakup sembilan kecamatan, masing-masing Jati 3.844 penerima, Bae 2.427, Dawe 6.613, Gebog 6.411, Jekulo 4.869, Kaliwungu 5.382, Undaan 3.825, Mejobo 2.786, dan Kota 2.582 penerima.
Setiap penerima mendapatkan bantuan sebesar Rp900.000 untuk alokasi tiga bulan, yakni Oktober, November, dan Desember.
Pencairan utama berlangsung pada 21–29 November dengan masa tenggang hingga 30 November sambil menunggu kemungkinan perpanjangan dari pemerintah pusat.
“Pelayanan setiap hari bisa mencapai 700 sampai 1.000 orang. Antrean menumpuk karena banyak warga datang tidak sesuai jadwal,” kata Arga.
Ia menegaskan bahwa syarat pencairan wajib membawa KTP asli dan/atau KK asli. Jika diwakilkan, pengambil harus satu KK dengan penerima.
“Kalau warga tunggal atau KK tunggal tidak bisa diwakilkan,” tegasnya.
PT Pos juga membuka layanan antar bagi penerima yang sakit, disabilitas, atau tidak memungkinkan hadir.
“Untuk yang benar-benar tidak bisa datang, kami lakukan pengantaran ke rumah,” ujarnya.
Situasi di lapangan menunjukkan antrean tidak terhindarkan. Sejak pukul 08.00 WIB sampai sekitar 11.00 WIB, warga harus menunggu lebih dari tiga jam untuk mendapatkan giliran. Banyak lansia, ibu membawa anak, dan warga lain yang tetap bertahan meski harus berdiri lama di tengah keramaian.
Di antara para penerima, Isha (33), warga Loram Wetan, Jati, yang merupakan orang tua tunggal, mengaku baru pertama kali mendapatkan bantuan sosial ini setelah menerima pemberitahuan dari RT.
Wanita yang telah menjadi janda sejak tujuh tahun lalu itu mengatakan bantuan memang diprioritaskan bagi warga yang belum pernah mendapat bantuan sebelumnya.
“Dipilih sing bener-bener ora mampu, jenda-jenda sing ora nduwe bojo ngono, pak,” tuturnya.
Meski harus mengantre lama dan berdesakan, Isha mengaku lega setelah menerima bantuan Rp900.000 sesuai jadwal pengambilan.
“Jadwalku dina iki, yo kudu njupuk. Baru pertama kali dapat bantuan begini, alhamdulillah bisa buat kebutuhan anak,” ujarnya menutup. (YM/YM)







