Kudus, isknews.com – Gema Sholawat, peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW membahana di langit Purwosari, Kudus, pada Minggu malam (18/01/2026).
Ratusan jemaah dari berbagai penjuru membanjiri area Masjid Jami’ Wijilan, Purwosari, untuk menghadiri peringatan akbar Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H. Acara yang dimulai tepat pukul 20.00 WIB ini berlangsung dengan khidmat dan penuh keberkahan.
Peringatan tahun ini terasa istimewa dengan kehadiran sederet tokoh agama terkemuka, yakni Habib Muhammad Hasyim Al Haddad, Habib Ali Syech Assegaf, dan Habib Muhammad Hudallah Alkaf, serta penceramah kondang asal Demak, KH. Miftahul Huda.
Sebelum acara inti dimulai, suasana telah dihangatkan oleh penampilan grup Hadroh Masjid Wijilan. Dengan seragam yang rapi dan pukulan terbang yang rancak, grup hadroh kebanggaan warga setempat ini melantunkan syair-syair qasidah yang membuat para jemaah yang mulai berdatangan turut bersenandung. Penampilan ini menjadi bukti bahwa syiar Islam melalui seni budaya masih sangat lekat di kalangan pemuda Purwosari.
Tepat pukul 20.00 WIB, acara dibuka secara seremonial. Lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan dengan syahdu menjadi penanda dimulainya rangkaian kegiatan spiritual tersebut, membuat suasana di sekitar Masjid Jami’ Wijilan seketika menjadi hening dan syahdu.
Puncak kekhusyukan terjadi saat para Habaib memimpin pembacaan Maulid Simtudduror. Kehadiran Habib Muhammad Hasyim Al Haddad, Habib Ali Syech Assegaf, dan Habib Muhammad Hudallah Alkaf menjadi magnet tersendiri bagi para pencinta selawat.
Ketika momen Mahalul Qiyam tiba, seluruh jemaah serentak berdiri. Isak tangis haru terlihat dari wajah beberapa jemaah saat melantunkan salam rindu kepada Rasulullah SAW. Kolaborasi suara para Habaib yang merdu berpadu dengan iringan hadroh menciptakan atmosfer spiritual yang menggetarkan hati.
Dalam sambutannya, Ketua Panitia Penyelenggara, Ustad Muhammad Mirza, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya yang mendalam. Ia mengaku terharu melihat antusiasme warga Purwosari dan sekitarnya yang begitu besar dalam memuliakan peristiwa Isra’ Mi’raj.
“Alhamdulillah, puji syukur ke hadirat Allah SWT. Malam ini Masjid Jami’ Wijilan dipenuhi oleh para pencinta Rasulullah. Kami selaku panitia mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh donatur, remaja masjid, dan warga Purwosari yang telah bahu-membahu menyukseskan acara ini. Semoga lelah kita menjadi lillah dan mendapat syafaat Nabi Muhammad SAW,” ujar Ustad Muhammad Mirza dengan penuh semangat.
Ustad Mirza juga menambahkan bahwa acara ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan upaya untuk mempererat ukhuwah islamiyah antarwarga Kudus dan sekitarnya.
Memasuki acara inti, KH. Miftahul Huda dari Demak naik ke mimbar untuk menyampaikan mauidhoh hasanah. Dengan gaya penyampaiannya yang khas tegas namun sesekali diselingi humor segar yang mendidik beliau berhasil membuat jemaah tetap betah duduk meski malam semakin larut.
Dalam ceramahnya, Kiai Miftahul Huda menekankan esensi dari perjalanan Isra’ Mi’raj, yaitu perintah salat lima waktu. Beliau mengingatkan jemaah bahwa salat adalah tiang agama dan sarana komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya, sebagaimana oleh-oleh yang dibawa Nabi Muhammad SAW dari Sidratul Muntaha.
“Peristiwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan cinta dan penghiburan dari Allah untuk Kekasih-Nya. Namun, intinya adalah salat. Jangan sampai kita mengaku cinta Nabi, mengaku umat Islam, tapi masjidnya sepi, salatnya bolong-bolong. Mari jadikan peringatan malam ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah kita,” tegas KH. Miftahul Huda.
Beliau juga mengajak generasi muda yang hadir untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan sehari-hari, terutama di era digital yang penuh tantangan moral saat ini.
Rangkaian acara peringatan Isra’ Mi’raj ini ditutup menjelang tengah malam dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh para Habaib dan Kiai. Jemaah mengaminkan doa dengan khusyuk, berharap keberkahan turun bagi warga Purwosari dan bangsa Indonesia pada umumnya.
Usai doa penutup, para jemaah meninggalkan lokasi dengan tertib. Panitia bersama Banser dan aparat keamanan setempat tampak sigap mengatur arus lalu lintas di sekitar Masjid Jami’ Wijilan agar tidak terjadi kemacetan. Suksesnya acara ini menjadi bukti kekompakan warga Purwosari Kudus dalam menjunjung tinggi syiar agama Islam. (*)








