Perkuat Kerukunan Warga, KKN IK IAIN Kudus Ternadi Adakan Seminar Moderasi

oleh -53 Dilihat

Kudus, isknews.com – Penting menjaga hubungan damai sesama manusia dalam rangka menaati perintah Allah SWT, terlebih pada QS. Al hujurat 13. Dijelaskan manusia diciptakan berpasang-pasangan agar manusia  saling mengenal. Implikasinya, perbedaan adalah sunnatullah dan sikapnya adalah tasamuh.

Menyikapi beragamnya perbedaan di lingkup kehidupan masyarakat, khsusunya di desa Ternadi yang bercorak tradisonal dengan dimensi kultural lokal yang kental maka urgen untuk mengingatkan kembali arti moderasi. Sehingga momen itu disikapi oleh KKN IK IAIN Kudus Desa Ternadi untuk mengadakan seminar yang bertajuk “Peran Moderasi Beragama Di Tengah Masyarakat Multikultural. (02/10/21).

Seminar itu dinarasumberi oleh Ahmad Fatah, salah seorang dari dosen IAIN Kudus dan dihadiri oleh sejumlah kelompok berperan penting di masyarakat, seperti Karang Taruna, Pokdarwis, PKK, dan PJ desa serta  peserta KKN IK IAIN Kudus Ternadi.

Kahono, selaku PJ desa memberikan sambutan ucapan terima kasihnya dan bangga atas diadakan seminar moderasi beragama oleh tim KKN IK desa Ternadi. Ia juga mengungkapkan peranan penting pendidik di rumah, sekolah, bahkan di masyarakat sebagai teladan. Selain itu PJ desa menyambut hangat kehadiran narasumber untuk menyampaikan pesan moderasi dan mendampingi    sampai akhir acara.

“Saya berterima kasih dan turut bangga atas terlaksananya seminar ini dan jadikan ini sebagai bentuk teladan bagi masyarakat,” ungkapnya.

Hal menarik terjadi saat seorang memberikan pertanyaan (Aziz), bahwa di tengah laju teknologi, sering melihat status di media sosial soal konten agama dan dianggap sebagai orang yang “sok suci”. Menanggapi cibiran tersebut, ahmad fatah menjelaskan apabila dakwah bisa juga dengan hati, lisan, dan tindakan. Bahkan bisa menerapkan isi dakwah ke perilaku sehari-hari sebab “lisaanul hal afsohu min lisaanil maqool”.

Dakwah melalui tingkah laku lebih mengena dibanding lewat ucapan.  Pesannya untuk terus maju dan jangan gentar.

“Jangan gentar untuk berbuat baik, tetapi alangkah baiknya menerapkan isi status itu ke dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.

Fenomena itu sering terjadi di era sekarang, terlebih gadget mulai digandrungi banyak kalangan. Antisipasinya, ilmu kehidupan bermasyarakat digunakan, seperti bersikap sewajarnya saja dalam pepatah jawa dibilang “Urip mung sak madya”. Pesan moderasi ini direlevansikan dengan kultur masyarakat khususunya di desa Ternadi agar lebih aplikatif dan konstruktif. Dampaknya sedikit banyak masyarakat bisa menerapkan pesan meskipun dari hal kecil. (Mu’ayyadah/AJ/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :