Oleh : Erwin Santoso
Opini, isknews.com — Ruang Publik Kehilangan Makna Sejatinya. Semangat pagi, pembaca yang budiman. Mari kita awali hari ini dengan sebuah renungan tentang keseimbangan yang rapuh di antara aspirasi, kebutuhan, dan keberlangsungan bersama. Di tengah upaya kita menata kota yang indah dan manusiawi, ada sebuah pertanyaan yang sering terabaikan: apakah ruang publik yang kita ciptakan benar-benar memeluk semua penghuninya, atau justru menjadi panggung pertarungan diam-diam antara harapan dan realita?
Trotoar yang dibangun dengan harapan memberi napas bagi pejalan kaki, sering kali beralih fungsi menjadi tempat bertahan hidup bagi sebagian saudara kita. Ini bukan sekadar soal pelanggaran tata ruang, melainkan cermin dari sebuah kebutuhan yang lebih dalam: pencarian tempat bernaung di tengah arus kota yang kian deras. Alasan “mencari sesuap nasi” yang kerap kita dengar adalah nyata, suara yang tak boleh hanya jadi latar belakang kebisingan kota, melainkan panggilan untuk solusi yang lebih bijak.
Di sisi lain, ruang publik seperti trotoar, bahu jalan, dan area parkir adalah milik bersama, tempat di mana keselamatan, kenyamanan, dan hak mobilitas harus dijaga. Ketika ruang itu tergerus, baik oleh kebutuhan ekonomi maupun ketiadaan pilihan, kita semua tanpa terkecuali kehilangan sepotong kemanusiaan: pejalan kaki yang terhimpit, pengendara yang terancam keselamatannya, bahkan para pedagang yang terus hidup dalam ketidakpastian.
Mungkin yang perlu kita tanyakan bukanlah apakah alasan “isi perut” bisa dibenarkan, melainkan bagaimana kita bisa merancang kota yang tidak memaksa warganya memilih antara tertib dan bertahan hidup. Sebuah kota yang manusiawi bukan hanya tentang estetika dan aturan, tetapi juga tentang kemampuan memberi ruang bagi semua: ruang untuk berjalan, ruang untuk berusaha, dan ruang untuk bernapas.
Mari kita bersama membayangkan solusi yang tidak hanya tegas, tetapi juga penuh empati: penataan zona usaha yang aman dan terintegrasi, dukungan bagi ekonomi kerakyatan tanpa mengorbankan akses publik, dan pengawasan yang konsisten namun memahami akar persoalan. Kota ini adalah milik kita bersama setiap langkah, setiap lapak, setiap kebijakan adalah bagian dari upaya menciptakan keseimbangan yang berkeadilan.
Bagaimana pendapat Anda? Adakah jalan tengah yang bisa kita tempuh agar ruang publik tetap hidup sebagai tempat bertemu, bukan bertarung? ( Mr ).







