Polres Kudus Ringkus Sindikat Pembuat STNK Dan Surat Surat Berharga Palsu

oleh
Kapolres Kudus, AKBP Saptono didampingi Kasat Reskrim AKP Rismanto, saat gelar kasus pemalsuan surat-surat berharga di Mapolres Kudus (Foto: YM)

Kudus, isknews.com – Serapat-rapat menyimpan bangkai akhirnya tercium juga, setelah selama empat tahun tersangka ini malang melintang melakukan bisnis pembuatan surat-surat berharga palsu, akhirnya pada peretengahan Januari lalu Polres Kudus berhasil membongkar sindikat komplotan pelaku pemalsuan aneka surat-surat illegal atau palsu yang selama ini beroperasi di Kudus.

Para pelaku tak hanya memproduksi STNK dan BPKB palsu namun juga sejumlah dokumen kependudukan seperti KTP dan KK serta surat nikah  sesuai kebutuhan pemesan bahkan juga SIUP dan NPWP.

Sambil memperlihatkan sejumlah barang bukti surat-surat berharga palsu serta alat-alat dan bahan baku  yang digunakan untuk menduplikasi surat tersebut,  Kapolres Kudus AKBP Saptono didampingi Kasat Reskrim AKP Rismanto di Kudus, menjelaskan bahwa keenam pelaku di tangkap di tempat yang berbeda-beda.

“Mereka adalah, Mahfud Janianto (45), Saronji (43), Boy Maliko (35), Junaidi (37), Amirundin (48), dan Kuswondo (54). Awalnya kami mengungkap penjualan mobil Suzuki Ertiga dengan nomor polisi AB-1326-MH dengan STNK yang diduga palsu pada tanggal 11 Januari 2019,” terang Kapolres dalam Konferensi Pers atas sejumlah kasusu kejahatan di Kudus, Senin (04/02/2019).

Dari kasus tersebut, polisi mengamankan dua pelaku bernama Saronji dan Kuswondo masing-masing dari Desa Jepang dan Gulang, Kecamatan Mejobo beserta satu unit mobil.

“Berdasarkan pengecekan di data base, ternyata mobil tersebut berpelat nomor A-1045-BC atas nama Santi Puspita warga Serang,” katanya.

Hasil pengembangan kasus tersebut, kemudian mengungkap pemalsuan STNK mobil Toyota Avanza dengan menangkap empat tersangka, yakni Boy Maliko, Junianto, Mahfud Junaidi, dan Saronji yang semuanya warga Kudus.

Kasus pemalsuan dokumen kependudukan yang berhasil diungkap, yakni pemalsuan KTP elektronik serta kartu keluarga dengan tersangka Amirudin.

Tujuan pemalsuan KTP dan KK tersebut untuk pengajuan kredit usaha rakyat di BRI Unit Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, akhir Desember 2018.

“Dengan dokumen kependudukan palsu tersebut, pelaku bermaksud mengajukan kredit tanpa terdeteksi BI `checking, namun di tolak oleh manajemen BRI Wates karena dokumen adminduknya tidak sesuai dengan data dari Dukcapil Kudus,” ujarnya.

Dari sejumlah kasus tersebut, ternyata pelaku utama yang membuat STNK maupun dokumen kependudukan palsu merupakan Mahfud Junaidi, warga Desa Glantengan, Kecamatan Kota, Kudus, yang ditangkap pertengahan Januari 2019.

Dari hasil penggeledahan di rumah Mahfud Junaidi, petugas mengamankan seperangkat komputer beserta mesin cetak, pemindai, dan dua buah STNK yang diduga palsu serta bahan-bahan untuk membuat dokumen palsu, antara lain, BPKB, sertifikat tanah, kartu NPWP, KK, buku nikah, akta cerai, KTP, SIUP, dan beberapa dokumen lainnya.

Enam tersangka dijerat dengan Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dengan ancaman hukuman penjara selama 6 tahun.

Mahfud Junaidi mengakui menerima pembuatan dokumen kependudukan palsu sejak 4 tahun yang lalu ketika masih menjadi broker perbankan.

Hal itu, kata dia, berawal ketika ada nasabah yang terkendala pencairan karena permasalahan administrasi, kemudian dibantu penyelesaiannya agar pencairannya cepat.

Apalagi, lanjut dia, dokumen pendukung tersebut biasanya cukup difoto, kemudian dikirim secara elektronik.

“Saya memang tidak pernah belajar secara formal tentang desain karena semuanya itu dilakukan secara autodidak,” ujarnya.

Untuk pembuatan STNK palsu, dia mengaku baru satu tahunan mulai menerima pemesanan STNK palsu.

AKBP Saptono terkait berapa keuntungan dari para tersangka pemalsu surat berharga tersebut. Menurutnya sekali cetak, para pelaku mematok harga di angka Rp satu juta hingga Rp dua juta lima ratus ribu.

TRENDING :  Tujuh Perwira Polres Kudus Dimutasi
TRENDING :  FGD : “Promosi & Mutasi Hakim Pada RUU Jabatan Hakim; Berdasarkan Kompetensi, Kinerja Dan Kebutuhan”
TRENDING :  Pastikan Pilkada 2018 Aman, Dit Sabhara Polda Jateng Cek Kesiapan Anggota Polres Kudus

“Berada di kisaran segitu,” ucapnya di Mapolres Kudus.

Saptono merinci, para tersangka mematok harga yang berbeda sesuai dengan jenis suratnya. Untuk STNK palsu, pelaku mematok harga sebesar Rp dua juta lima ratus ribu. Sedangkan KTP, KK serta dokumen lainnya, dihargai Rp satu juta per surat.

” Bervariasi, sesuai jenis dan tingakt kesulitan pembuatan suratnya” terangnya.

Dari hasil penjualan surat palsu tersebut, para tersangka mampu meraup omsert hingga Rp dua puluh juta per bulan. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :