Polusi Visual Ruang Publik: Iklan Liar, Kabel Semrawut, dan Wajah Kota yang Rusak

oleh -91 Dilihat
(Ilustrasi: Generated By AI)

Opini, isknews.com – Masyarakat semakin merasakan polusi visual di Indonesia dan sulit mengabaikannya. Berbagai pihak memenuhi tembok dengan tempelan iklan sedot WC, menancapkan banner ilegal di pohon, dan mengibarkan bendera partai politik di ruang publik di luar masa kampanye.

Masyarakat seharusnya merawat ruang publik sebagai aset bersama. Namun, banyak pihak sering memanfaatkan area tersebut sebagai media promosi bebas tanpa izin dan tanpa tanggung jawab terhadap lingkungan visual.

Tempelan iklan sedot WC menjadi contoh paling kasat mata. Orang-orang menempelkan kertas kecil secara sembarangan dan jarang membersihkannya, sehingga tembok terlihat kumuh dan tidak terawat.

Selain itu, banner ilegal yang tertancap di pohon memperparah polusi visual. Pihak tertentu justru menjadikan pohon yang seharusnya memperindah kota sebagai tiang iklan sementara.

Partai politik memasang bendera di jembatan dan jalan umum sehingga menimbulkan persoalan. Ketika tidak berada dalam masa kampanye, simbol politik tertentu seolah menguasai ruang publik.

Polusi visual juga muncul melalui vandalisme. Coretan liar di dinding, jembatan, dan fasilitas umum merusak estetika serta menciptakan kesan kota yang tidak aman dan terabaikan.

Pihak terkait sering mengabaikan masalah kabel yang tidak tertata rapi. Mereka membiarkan kabel listrik dan telekomunikasi bergelantungan, saling melilit, dan menutupi pandangan kota.

Kondisi visual yang semrawut ini berdampak pada kenyamanan masyarakat. Lingkungan yang kacau secara visual dapat memicu stres, mengganggu konsentrasi, dan menurunkan kualitas hidup.

Penertiban sering disuarakan, tetapi pelaksanaannya belum konsisten. Aturan telah dibuat, namun pengawasan dan sanksi masih lemah di lapangan dan masyarakat secara permisif menganggap bertebarannya reklame, baik komersial maupun politik, sebagai hal yang lumrah.

Jika polusi visual terus dibiarkan, kota-kota di Indonesia akan kehilangan identitas dan daya tariknya. Penataan visual yang tegas, kolaborasi pemerintah, dan kesadaran publik menjadi kunci perbaikan ruang bersama. (Najib/isknews.com)

KOMENTAR SEDULUR ISK :