Opini Redaksi, isknews.com – Aku punya kebiasaan buruk yang kelihatannya juga dimiliki banyak orang: bilang “nanti aja” untuk hampir semua hal penting. Mulai dari olahraga, membaca buku, sampai menghubungi teman lama yang katanya mau diajak ketemu sejak tiga tahun lalu.
Anehnya, kata “nanti” terdengar sangat menenangkan. Seolah-olah dengan mengucapkannya, tanggung jawab langsung menguap. Padahal yang menguap sebenarnya cuma niat kita sendiri.
“Nanti aja” sering kita ucapkan dengan penuh keyakinan. Seperti janji palsu yang kita percaya sepenuh hati. Kita tahu itu mungkin tidak akan dilakukan, tapi tetap saja diucapkan. Barangkali karena manusia memang senang menipu dirinya sendiri, asal tidak ketahuan orang lain.
Yang lebih lucu, kita sering heran kenapa hidup rasanya stagnan. Pekerjaan begitu-begitu saja, mimpi tak kunjung mendekat, resolusi tahunan selalu sama. Tapi kita lupa bahwa sebagian besar hidup kita dihabiskan untuk menunda.
Menunda itu kelihatannya sepele. Tapi kalau dikumpulkan, ia seperti cicilan emosional. Tidak terasa di awal, mencekik di belakang. Kita menunda hari ini, besok, lusa, sampai akhirnya sadar waktu sudah lebih rajin jalan daripada kita.
Tentu saja, menunda tidak selalu salah. Kadang kita memang lelah, memang butuh jeda. Masalahnya, kita sering menyamarkan rasa malas sebagai “butuh waktu”. Padahal yang dibutuhkan bukan waktu tambahan, tapi keberanian untuk mulai.
Mungkin hidup memang tidak berubah drastis hanya karena satu keputusan kecil. Tapi setidaknya, berhenti bilang “nanti aja” adalah cara paling sederhana untuk jujur pada diri sendiri: bahwa kita sebenarnya takut, bukan sibuk.
Dan tidak apa-apa takut. Yang jadi masalah adalah ketika ketakutan itu kita pelihara dengan kata “nanti”, sampai akhirnya hidup ikut-ikutan menunda kita. (Najib/isknews.com)








