Tak Disangka, Kebiasaan Pengunjung Simpang 7 Kudus Ini Bikin Optimistis, Meski Realitas di Sudut Kota Masih Bikin Geleng-Geleng Kepala

oleh -1058 Dilihat
Tempat sampah khusus botol plastik di alun-alun simpang 7 Kudus. (Foto: Ridwan)

KUDUS, ISKNEWS.com – Kalau ada lomba mencari harapan di tengah berbagai persoalan perkotaan, mungkin Alun-alun Simpang 7 Kudus layak masuk nominasi. Bukan karena ada wahana baru, bukan pula karena pedagang kaki limanya makin tertata. Melainkan karena sesuatu yang selama ini dianggap sepele: orang-orang mulai mau membuang sampah pada tempatnya.

Di salah satu sudut alun-alun berdiri sebuah box sampah khusus botol dan gelas plastik. Bentuknya sederhana, berupa kerangkeng kawat beratap biru dengan tulisan yang mungkin sering kita baca, tapi jarang benar-benar kita jalankan: “Jadikan sampah lebih bermanfaat. Jangan buang sampah di sembarang tempat.”

Ajaibnya, pesan itu ternyata tidak hanya menjadi pajangan. Box tersebut tampak cukup penuh oleh botol dan gelas plastik bekas minuman. Artinya, banyak pengunjung yang rela berjalan beberapa langkah tambahan demi membuang sampah sesuai jenisnya. Sebuah tindakan sederhana yang, jujur saja, kadang lebih sulit dilakukan daripada menulis komentar panjang di media sosial tentang pentingnya menjaga lingkungan.

Pemandangan ini tentu layak diapresiasi. Sebab di tengah budaya “yang penting bukan sampah saya lagi“, masih ada warga yang sadar bahwa kebersihan ruang publik bukan semata tugas petugas kebersihan.

Namun, optimisme itu kadang langsung diuji ketika kita keluar dari kawasan Simpang 7.

Coba saja melintas di sepanjang Jalan Pasar Baru, kawasan Balai Jagong, beberapa tepi jalan kota, hingga ruas jalan dari Samsat ke arah utara. Di sejumlah titik, masih mudah ditemukan kantong plastik berisi sampah rumah tangga yang tergeletak begitu saja. Ada yang ditaruh di pinggir jalan, bahkan ada yang seolah sengaja “diparkir” dengan harapan menghilang sendiri seperti mantan yang tidak pernah memberi kepastian.

Padahal secara logika, jarak antara rumah dan tempat pembuangan sampah resmi tentu tidak sejauh jarak bumi ke Mars. Tetapi entah kenapa, masih ada sebagian orang yang menganggap pinggir jalan adalah tempat transit paling ideal bagi sampah mereka.

Ironisnya, orang yang sama mungkin akan mengeluh ketika lingkungan terlihat kumuh, saluran mampet saat hujan, atau muncul bau tak sedap di sekitar permukiman. Seolah-olah sampah itu datang dari dimensi lain, bukan dari tangan yang membuangnya semalam.

Karena itu, pemandangan di Simpang 7 seharusnya tidak hanya menjadi kabar baik, melainkan juga pengingat. Bahwa membuang sampah pada tempatnya bukan perkara sulit. Pengunjung alun-alun yang sedang olahraga, nongkrong, atau berburu jajanan saja bisa melakukannya. Lalu apa alasan kita yang setiap hari melewati jalanan kota?

Mungkin perubahan budaya memang tidak bisa terjadi dalam semalam. Tetapi kalau kebiasaan memilah dan membuang sampah dengan benar sudah mulai tumbuh di Simpang 7, bukan tidak mungkin kebiasaan yang sama bisa menular ke Pasar Baru, Balai Jagong, sepanjang tepi jalan kota, hingga ruas Samsat ke arah utara.

Sebab kota yang bersih bukan lahir dari banyaknya slogan, melainkan dari kesediaan warganya melakukan hal sederhana yang sering diremehkan: tidak membuang sampah sembarangan. (*)

Penulis: Ridwan Falah (Mahasiswa PPL UIN SUKU)