Revitalisasi LIK Dongkrak Potensi IHT dan Tekan Potensi Rokok Ilegal

oleh

Kudus, isknews.com – Program revitalisasi Lingkungan Industri Kecil (LIK) Industri Hasil Tembakau (IHT) di Kudus yang dijadwalkan bakal tuntas pada akhir September 2020. Dinilai merupakan langkah strategis untuk menguatkan warisan budaya ekonomi Kota Keretek.

Revitalisasi LIK di Desa Megawon, Kecamatan Jati, senilai Rp 22,3 miliar yang dibangun tahun 2011 diyakini menguatkan potensi IHT di Kabupaten Kudus sekaligus menekan potensi rokok ilegal.

LIK IHT tersebut akan menjadi Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT) Kudus yang memungkinkan pengusaha rokok golongan kecil yang semula hanya memproduksi rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT),  bisa memproduksi rokok sigaret kretek mesin (SKM).

Lingkungan Industri Kecil (LIK) Industri Hasil Tembakau (IHT) di Desa Megawon, Kecamatan Jati, Kudus (Foto: YM)

Keuntungan lain yang akan diperoleh pengusaha rokok di kawasan IHT, yakni akan mendapatkan kemudahan dalam pengajuan penundaan bayar pajak cukai rokok, dibandingkan pengusaha rokok di luar kawasan IHT, serta mendapat pengecualian dari ketentuan luas paling sedikit 200 meter persegi untuk lokasi, bangunan, atau tempat usaha, seperti ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC).

Anggota Komisi XI dari Fraksi PDI Perjuangan, Musthofa yang juga mantan Bupati Kudus dua periode tersebut menegaskan mendukung revitalisasi LIK IHT.

“Namun, segala sesuatunya tergantung dari keaktifan daerah terkait pengembangannya. Saya sudah berbicara dengan Bea Cukai soal upaya strategis mengoptimalkan LIK IHT,” katanya.

Menurutnya, semua pihak harus satu pandangan untuk mengembangkan LIK IHT. Revitalisasi LIK IHT sejalan dengan tujuan pemerintah menggenjot pemasukan negara, dikaitkan dengan pengembangan industri rokok sekaligus menekan produk ilegal.

Keaktifan pemerintah daerah mutlak diperlukan untuk menggulirkan tujuan tersebut.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Cukai, Gatot Sugeng Wibowo, menambahkan pihaknya siap berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kanwil Bea dan Cukai Jateng DIY terkait revitalisasi LIK IHT.

Revitalisasi ditujukan menekan produksi rokok ilegal dengan memberi sejumlah kemudahan melalui berbagai fasilitas yang ada di dalamnya. Selain 11 brak (gudang produksi-red), terdapat laboratorium tar dan nikotin.

”Pelaku usaha rokok dapat memanfaatkan fasilitas di dalamnya. Apalagi Tidak semua daerah khususnya kawasan penghasil IHT mempunyai fasilitas tersebut, ” ujarnya.

Pengoptimalan LIK IHT memudahkan pelaku usaha kecil memenuhi persyaratan sebagai  industri legal. Institusinya berkepentingan dalam upaya mendongkrak pendapatan ke kas negara melalui pengembangan IHT sekaligus menekan produksi rokok ilegal.

Menurutnya, penguatan IHT di Kota Keretek dinilai sebagai hal wajar. Potensi penerimaan ke kas negara sangat besar. Target pabean dan cukai tahun 2020 sebesar Rp 35,9 Triliun. Hingga 30 Juli, penerimaan dari sumber tersebut Rp 15,3 Triliun atau 43,8 persen. (YM/YM)

KOMENTAR SEDULUR ISK :